Data buku kumpulan puisi
Judul: Orang-orang Rangkasbitung
Penulis: Rendra
Cetakan: I, September 1993
Penerbit: Bentang Intervisi Utama,
pt. Yogyakarta.
Tebal: vi + 63 halaman (10 puisi)
Disain grafis: Buldanul Khuri
Ilustrasi cover: Haitamy El Jaid
Tata letak: Heppy L. Rais dan Dwi
Agus M.
Beberapa pilihan puisi Rendra dalam Orang-orang Rangkasbitung
Kesaksian Bapak Saijah
Ketika mereka bacok leherku,
dan parang menghunjam ke tubuhku
berulang kali,
kemudian mereka rampas kerbauku,
aku agak heran
bahwa tubuhku mengucurkan darah.
Sebetulnya sebelum mereka bunuh
sudah lama aku mati.
Hidup tanpa pilihan
menjadi rakyat Sang Adipati
bagaikan hidup tanpa kesadaran,
sebab kesadaran dianggap tantangan
kekuasaan.
Hidup tanpa daya
sebab daya ditindih ketakutan.
Setiap hari seperti mati berulang kali.
Setiap saat berharap menjadi semut
agar bisa tidak kelihatan.
Sekarang setelah mati
baru aku menyadari
bahwa ketakutan membantu penindasan,
dan sikap tidak berdaya
menyuburkan ketidakadilan.
Aku sesali tatanan hidup
yang mengurung rakyat sehingga tak berdaya.
Meski tahu akan dihukum tanpa dosa,
meski merasa akan dibunuh semena-mena,
sampai saat badan meregang melepas nyawa,
aku tak pernah mengangkat tangan
untuk menangkis atau melawan.
Pikiran dan batin
tidak berani angkat suara
karena tidak punya kata-kata.
Baru sekarang setelah mati
aku sadar ingin
bicara
memberikan kesaksian.
O, gunung dan lembah tanah Jawa!
Apakah kamu surga atau kuburan raya?
O, tanah Jawa,
bunda yang bunting senantiasa,
ternyata para putramu
tak mampu membelamu.
