Jumat, 04 Oktober 2013

ULAR DAN KABUT



Data buku kumpulan puisi

Judul : Ular dan Kabut, Sadjak-sadjak 1970 - 1972
Penulis : Ajip Rosidi
Tjetakan : I, Djanuari 1973
Penerbitan chusus : Budaja Djaja, Dewan Kesenian Djakarta
Tebal : 63 halaman (55 puisi)
Rentjana kulit oleh : A. Wakidjan

Beberapa pilihan puisi Ajip Rosidi dalam Ular dan Kabut
(catatan: penulisan menggunakan ejaan lama, sesuai buku)

Ular

Ular jang mendesis merisik, dengan warna kulit indah
mengedjarku, bahkan sampai dalam mimpi.
Berhenti! kataku. Dan ia menatap patuh, namun gelisah
Tiba-tiba kubatja: namamu terukir pada lidahnja yang terdjulur
merah.

1971


Kabut

Jang putih menjilaukan adalah kabut
Jang mengurungku dalam samar adalah kabut
Jang mendinding menghalang langkah adalah kabut
Jang hadir tak terdjamah adalah kabut
Jang bergetar tak terdengar adalah kabut
Jang diam, jang rahasia, jang tak pasti
adalah kabut.

1972

TIKAR PANDAN



Data buku kumpulan puisi

Judul : Tikar Pandan
Penulis : Ibramsyah Amandit
Cetakan : I, Juni 2013
Penerbit : UPT Taman Budaya Kalsel bekerja sama dengan Penerbit Pustaka Banua, Banjarmasin
Tebal : xxii + 164 halaman (76 judul puisi)
ISBN : 978-602-1585-00-9
Desain sampul dan Lay Out: Tim Pustaka Banua
Pengantar : H. Adjim Arijadi
Esai : Sainul Hermawan, Hamberan Syahbana, Korrie Layun Rampan

Beberapa pilihan puisi Ibramsyah Amandit dalam Tikar Pandan

Lumpuh

di saat-saat lumpuhku
aku mendengar amarah sebatang tongkat dahan jambu
di tanganku

ia mencaci arti hidupku, katanya:
perbuatlah segera ganti darahmu
semerah darah Tuhanmu!

hanya lantaran takdirku saja
maka nasibku beserta orang lumpuh sepertimu!
padahal aku mau jauhi penyair …

tahu kau, siapa penyair di mataku?
cuma seorang pesolek
tukang rias
sekarang sibuk menyisir rambut Fir’aun
di negeri Fir’aun

Tamban, 13.1.2011

D. Zawawi Imron: BANTALKU OMBAK SELIMUTKU ANGIN


Data buku kumpulan puisi

Judul : Bantalku Ombak Selimutku Angin
Penulis : D. Zawawi Imron
Cetakan : II, September 2000 (Cet. I, 1996 oleh Ittaqa Press)
Penerbit : Gama Media, Yogyakarta.
Tebal : ix + 155 halaman (59 judul puisi)
ISBN : 979-9193-56-7
Lukisan cover : D. Zawawi Imron
Penyunting : Abdul Wachid B.S
Editor : Suningcih S.Pd
Olah cover : A. Sidarta
Tata letak : Evi E. dan Giyanto

Bantalku Ombak Selimutku Angin, terbagi atas empat kumpulan sajak dalam rentang 1963-1995, meliputi: Semerbak Mayang (24 sajak), Madura, Akulah Lautmu (11 sajak), Tembang Dusun Siwalan (17 sajak), dan Bantalku Ombak Selimutku Angin (7 sajak)
  
Beberapa pilihan puisi D. Zawawi Imron dalam Semerbak Mayang

Ibu

kalau aku merantau lalu datang musim kemarau
sumur-sumur kering, daunan pun gugur bersama reranting
hanya mata air airmatamu, ibu, yang tetap lancar mengalir

bila aku merantau
sedap kopyor susumu dan ronta kenakalanku
di hati ada mayang siwalan memutikkan sari-sari kerinduan
lantaran hutangku padamu tak kuasa kubayar

ibu adalah gua pertapaanku
dan ibulah yang meletakkan aku di sini
saat bunga kembang menyemerbak bau sayang
ibu menunjuk ke langit, kemudian ke bumi
aku mengangguk meskipun kurang mengerti

bila kasihmu ibarat samudera
sempit lautan teduh
tempatku mandi, mencuci lumut pada diri
tempatku berlayar, menebar pukat dan melempar sauh
lokan-lokan, mutiara dan kembang laut semua bagiku
kalau aku ikut ujian lalu ditanya tentang pahlawan
namamu, ibu, yang kan kusebut paling dahulu
lantaran aku tahu
engkau ibu dan aku anakmu

bila aku berlayar lalu datang angin sakal
Tuhan yang ibu tunjukkan telah kukenal

ibulah itu, bidadari yang berselendang bianglala
sesekali datang padaku
menyuruhku menulis langit biru
dengan sajakku

1966

SITI SURABAYA DAN KISAH PARA PENDATANG


Data buku kumpulan puisi

Judul : Siti Surabaya dan Kisah Para Pendatang
Penulis : F. Aziz Manna
Cetakan : I, November 2010
Penerbit : Diamond, Surabaya, bekerjasama dengan FS3LP, GAPUS, CeRCS, DKJT, FIB Universitas Airlangga
ISBN: 978-602-96494-3-7.
Tebal : 116 halaman (73 judul puisi)
Editor : Ribut Wijoto, Indra Tjahyadi
Gambar sampul : Petan karya Liem Keng (alm)
Cover buku dan layout : Ganjar Ahadiyat
Pengantar : Nu’man “Zeus” Anggoro

Beberapa pilihan puisi F. Aziz Manna dalam Siti Surabaya dan Kisah Para Pendatang

Ingatan Perjalanan

kereta tidak bersama mereka
tapi mereka bersama berada dalam kereta
(Afrizal Malna)

perjalanan ini kian membingungkan, mereka bilang telah
bangkit dan berjalan jauh selama 100 tahun tapi kami tak
melihat kaki-kaki beranjak, hanya pemandangan silih berganti:
pepohonan, sawah, ladang, sungai, jembatan, perumahan,
pabrik, perkantoran, tembok-tembok semuanya hanya jadi
perbincangan, lewat begitu saja, jalanan tidak bersama kami
padahal kami bersama berada dalam perjalanan, suara-suara
kami juga membingungkan, antara bunyi klakson, cerobong
dan gesekan besi, mulut-mulut berkembang biak, bertingkahan
untuk jadi dominan, kami yang datang selalu jadi penumpang
dan tak ada yang mau turun, tak ada yang mau menyentuh
tanah, kami, para penumpang itu, ingin selamanya duduk di
kursi di atas lantai besi melupakan perjalanan dalam perjalanan

Isbedy Stiawan ZS: PERAHU DI ATAS SAJADAH



Data buku kumpulan puisi

Judul : Perahu di Atas Sajadah
Penulis : Isbedy Stiawan ZS
Cetakan : I, Oktober 2006
Penerbit : Bukupop, Jakarta
Tebal : xii + 84 halaman (35 judul puisi)
ISBN : 979-1012-07-5
Gambar sampul : David

Beberapa pilihan puisi Isbedy Stiawan ZS dalam Perahu di Atas Sajadah

Laut Membawa Jasadku

laut membawa jasadku
ke malam-malam pekat. ke makam-makam sunyi
ditanamkan, menyimpan riuh jam
tanah basah, melumpurkan langkah
yang terhenti di gerbang-Mu

aku pun tersedu. hujan turun
mengabarkan ketajaman pisau
dan laut tak henti membawa jasadku
ke makam-makam sunyi-Mu
untuk ditanamkan

o aku sendiri dalam kematian ini
di semesta sempurna tiadaku

MERPATI-MERPATIKU


 Data buku kumpulan puisi

Judul : Merpati-merpatiku
Penulis : H. A. Dimyatie Risma
Cetakan : I, 2006
Penerbit : Dewan Kesenian Daerah Barito Kuala, Marabahan.
Tebal : 37 halaman (27 judul puisi)
Desain sampul : Montekarlo, S.Pd.
Dicetak oleh : Sinar Serasi, Marabahan.

Beberapa pilihan puisi H. A. Dimyatie Risma dalam Merpati-merpatiku

Tari Ring-ring

secuil cerita menadah kisah
tarian ring-ring kita persembah
menyadap aroma
maambul asap dupa mewangi
gelisah, pedih menyandang giring-giring di kaki
dayang mulai menari menghentak kaki, menggelek
pinggang.
diwarnai liuk-liuk memukau raja di singgasana
gendang disentak gong berlobang mendengung
sumbang.
gambus terus dipetik berbunyi sumbang
permaisuri terbatuk-batuk,
raja mengantuk,
menyadap dupa tarian ring-ring
aroma wangi selintas lenyap,
bunyi mereguk,
bunyi nguk-nguk
banjir sasurak,
tari ring-ring tambah nyaring,
pintu terkuak dunia berputar melilit,
lihat dan lihat
mentari tersungkur, bersimpuh di kaki langit
sayup-sayup terdengar,
Allah hu Akbar, Allah hu Akbar
Tuhan Maha Besar

Marabahan, Panting Linting

OHOI


Data buku kumpulan puisi

Judul : Ohoi, kumpulan puisi-puisi balsem
Penulis : K.H. A. Mustofa Bisri
Cetakan : III, 1991 (cet. I: 1988 – stensilan, cet. 2: 1990 oleh P3M)
Penerbit : Pustaka Firdaus, Jakarta
Tebal : viii + 97 halaman (43 puisi)
Penyunting : Sapardi Djoko Damono
ISBN : 979-541-004-0
Disain kulit muka, tata letak, vignet : Abu Ienas
Pengantar : H. Soetjipto Wirosardjono

Beberapa pilihan puisi K.H.A. Mustofa Bisri dalam Ohoi

Keluhan

Tuhan, kami sangat sibuk.

1410


Kita Semua Asmuni atawa Asmuni Cuma Satu

Kita semua Asmuni
Kita satu sama lain
Tidak lain
Asmuni semua

Anak-anak Asmuni
Orang-orang Asmuni
Tuan Asmuni
Raden Asmuni
Bapak Asmuni
Kiai Asmuni
Politikus Asmuni
Pemikir Asmuni
Pembaru Asmuni

Kita semua Asmuni
Kita satu sama lain
Tidak lain
Asmuni

Sayang
Asmuni yang jujur cuma satu
Asmuni yang menghibur
Cuma satu

1988
Dengan permohonan maaf dari Asmuni Andiweky dari Group Lawak Srimulat

Subagio Sastrowardojo: HARI DAN HARA


Data buku kumpulan puisi

Judul : Hari dan Hara
Penulis : Subagio Sastrowardojo
Cetakan : I, 1982
Penerbit : PN Balai Pustaka, Jakarta.
Tebal : 69 halaman (41 puisi)
Perancang kulit : Hanung Sunarmono
Ilustrasi kulit dan dalam : Adjie Soesanto

Beberapa pilihan puisi Subagio Sastrowardojo dalam Hari dan Hara

Matinya Seorang Penyair

napas begitu tipis seperti kaca
jangan dipecahkan dengan berkata-kata
keheningan jadi pengiring paling setia
bagi kelana di kelam buta
hari kemarin sudah tiada

betapa lama sebelum rela
membunuh api kenang menyala
di luar keramahan kamar telah terkubur sisa mimpi
hilang nanar
tanpa sesal sosok setubuh dengan sepi

terbaring di dataran asing
juga langit kelihatan lain
rumah-rumah redup tanpa jendela
tapi dengan tidak menanya
dicium tanah lekat di tangannya
belahan benua ini sebagian dari nasibnya
dia tak kembali ke pantai tua

rindu lama tidak lagi bergejolak
demam yang diidap sudah reda
detik-detik kini lebih berarti
daripada terus mencari
di balik ufuk pasir melebar
telah habis basah air menghibur
sampai puas digosokkan tubuhnya
ke bumi bisu