Kamis, 05 April 2012

O AMUK KAPAK



Data buku kumpulan puisi

Judul  : O Amuk Kapak
Penulis : Sutardji Calzoum Bachri
Cetakan : I, 1981
Penerbit : Penerbit Sinar Harapan, Jakarta.
Tebal : 133 halaman (67 puisi)
Desain sampul : Didit Chris dan Rekan
Tata Letak : Edhi SW

Beberapa pilihan puisi Sutardji Calzoum Bachri dalam O Amuk Kapak

Mantera

lima percik mawar
tujuh sayap merpati
sesayat langit perih
dicabik puncak gunung
sebelas duri sepi
dalam dupa rupa
tiga menyan luka
mangasapi duka

puah!
kau jadi Kau
Kasihku


Hemat

dari hari ke hari
bunuh diri pelan-pelan

dari tahun ke tahun
bertimbun luka di badan

maut menabungKu
segobang-segobang

1977

Rabu, 04 April 2012

AIR KATA KATA


Data buku kumpulan puisi

Judul : Air Kata Kata
Penulis : Sindhunata
Cetakan : II, Maret 2004 (Cet. I, Desember 2003)
Penerbit : Galang Press dan Bayu Media, Yogyakarta.
Tebal : xii + 196 halaman (71 puisi); 160 x 210 mm
ISBN : 979-9341-90-x
Ilustrasi cover : Agus Suwage
Desain grafis : Ong Hari Wahyu

Beberapa pilihan puisi Sindhunata dalam Air Kata Kata

Wak Duljangkep

Niatku mau nggendhong
menggendong rumahnya Semar Boyong
Aku menabur dengan dukacita
aku menuai dengan sukacita

Niatku mau lelaku
Wak Duljangkep ngelmu-ku
Dul itu si Dul
artinya: jumendhul, lahir, muncul
Jangkep itu wejangan ganep
artinya jangkep: pas, tiada kurang, lengkap.
Aku tua, maka aku dipanggil Wak Duljangkep
Duljangkep, artinya lahirku, adaku, munculku
hanya untuk jangkep-jangkep
untuk melengkapi dan pelengkap, agar semuanya pas.

Meski hanya hamba, tua, miskin tak berguna
tanpa aku hidup tidak akan pas, karena tidak lengkap
Tanpa kau, hidup ini seperti
sambel tanpa terasi
  sayur tanpa garam
     kopi tanpa gula
        obor tanpa sumbu
            pintu tanpa engsel
                tumbu tanpa tutup
                        tuan tanpa hamba
                               pimpinan tanpa rakyat
                                             cinta tanpa nafsu
                                                     rahmat tanpa dosa
                                                                     Tuhan tanpa manusia

Aku hanyalah miskin dan hina
   tapi tanpa aku, semuanya takkan ada.
      Aku ini nyaris tiada, tapi ketiadaanku membuat ada.
         Itulah aku, Wak Duljangkep.
           Aku ini tiada yang membuat ada
               maka aku ini tiada nyata yang membuat ada nyata
                   Akulah kesamaran yang ada di balik semua kenyataan.
                        Kenyataan akan hilang tanpa kesamarannya.
                            Maka sesungguhnya nyata itu samar:
                               Samar itulah kekurangan, kehinaan, kemiskinan
                                   yang melengkapi kesempurnaan, kemuliaan, kekayaan:
                                       Samar itulah Semar.
                                           Wak Duljangkep itulah Samar yang Semar.

Ilmuku Wak Duljangkep, artinya
Samarlah yang ingin kuajarkan
Semarlah yang ingin kunyatakan.

Selasa, 03 April 2012

Subagio Sastrowardojo: KERONCONG MOTINGGO


Data buku kumpulan puisi


Judul : Keroncong Motinggo
Penulis : Subagio Sastrowardojo
Cetakan : I, 1975
Penerbit : PT Dunia Pustaka Jaya, Jakarta.
Tebal : 116 halaman (58 puisi)
Gambar muka : Popo Iskandar



sebab aku suka kepada cahaya/yang mekar sebagai bunga/dan membakar seluruh kota//api, bikin aku muda
(Sajak Ilham, Subagio Sastrowardojo)

Beberapa pilihan puisi Subagio Sastrowardojo dalam Keroncong Motinggo

Kejatuhan

Di daerah mimpi
nyawaku berdiri sebagai pohon hitam
dengan buah-buah getir bergantung di dahan
Hanya ular yang menjaga tahu akan rasanya
Perempuan yang telah kehilangan selera:
jangan masuk taman terlarang
atau akan bangun aku tersentak
menyaksikan diri telanjang
Atau cukup lebarkah tanganmu
untuk menutup lobang malu?

Senin, 02 April 2012

Sitor Situmorang: DALAM SAJAK


Data buku kumpulan puisi

Judul  : Dalam Sajak
Penulis : Sitor Situmorang
Cetakan : II, 1982 (Cet. I, Bandung, 1955)
Penerbit : PT Dunia Pustaka Jaya, Jakarta.
Tebal : 69 halaman (47 puisi)
Gambar muka : Yus Rusamsi

Beberapa pilihan puisi Sitor Situmorang dalam Dalam Sajak

Lagu Gadis Itali
Buat Silvana Maccari

Kerling danau di pagi hari
Lonceng gereja bukit Itali
Jika musimmu tiba nanti
Jemputlah abang di teluk Napoli

Kerling danau di pagi hari
Lonceng gereja bukit Itali
Sedari abang lalu pergi
Adik rindu setiap hari

Kerling danau di pagi hari
Lonceng gereja bukit Itali
Andai abang tak kembali
Adik menunggu sampai mati

Batu tandus di kebun anggur
Pasir teduh di bawah nyiur
Abang lenyap hatiku hancur
Mengejar bayang di salju gugur

Chairil Anwar: DERU CAMPUR DEBU


Data buku kumpulan puisi

Judul : Deru Campur Debu
Penulis : Chairil Anwar
Cetakan : III, 1993
Penerbit : PT. Dian Rakyat, Jakarta
Tebal : 47 halaman (28 puisi)
ISBN : 979-523-042-5
Ilustrasi isi : Oesman Effendi

Beberapa pilihan puisi Chairil Anwar dalam Deru Campur Debu

Aku

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan akan akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Minggu, 01 April 2012

Cecep Syamsul Hari: PERAHU BERLAYAR SAMPAI BINTANG


Data buku kumpulan puisi

Judul  : Perahu Berlayar Sampai Bintang
Penulis : Cecep Syamsul Hari
Cetakan : I, 2009
Penerbit : Kiblat Buku Utama, Bandung.
Tebal : 87 halaman (50 puisi)
Gambar kulit muka : lukisan karya Salim, “Dongeng Timur” (1996) dari buku Salim Pelukis Indonesia di Paris (Ajip Rosidi, Pustaka Jaya, Jakarta 2003)

Beberapa pilihan puisi Cecep Syamsul Hari dalam Perahu Berlayar Sampai Bintang

Nawang Wulan

Dua puluh tahun kemudian
Nawang Wulan terlihat keluar dari keriuhan

Carrefour, mendorong kereta belanjaan
dan menuntun seorang anak umur sepuluh tahunan

Di depan kasa
dikeluarkannya kartu Visa

Rambutnya pendek sekali sekarang
dicat warna biru, hijau dan pirang

Tubuh yang dulu berhias sayap sepasang
telah berubah menjadi pertunjukan lemak 90 kilogram

Ia terlihat sangat riang dan dewasa
tambun dan mempesona

Seperti lukisan Lady Cajica
dalam kanvas Fernando Botero

Dulu aku Jaka Tarub lajang
si pencuri selendang

yang didera cinta
tak terampunkan

Nawang, kebahagiaan macam apa yang telah mengubahmu
dari dewi pencinta menjadi dewi kesuburan?

2005

CORET YANG TIDAK PERLU



Data buku kumpulan puisi

Judul  : Coret yang tidak Perlu
Penulis : Hans Magnus Enzensberger
Cetakan : I, 2010
Penerbit  : Horison, Jakarta.
Dukungan dana : Goethe-Institut Jakarta dan Kedutaan Besar Republik Federal Jerman di Jakarta.
Hak cipta terjemahan : Agus R. Sarjono dan Berthold Damshauser
Tebal  : x + 164 halaman (40 puisi dwi-bahasa, Jerman-Indonesia)
ISBN : 978-979-19813-1-6
Rancang sampul  dan isi : Tugas Suprianto
Sumber foto sampul: www.aphelis.net

Beberapa pilihan puisi Hans Magnus Enzensberger dalam Coret yang tidak Perlu

Rondeau

Bicara itu gampang

Tapi kata-kata tak bisa dimakan
Maka buatlah roti
Membuat roti itu sulit
Maka jadilah tukang roti

Tapi roti tak bisa dihuni
Maka bangunlah rumah
Membangun rumah itu sulit
Maka jadilah tukang bangunan

Tapi di atas gunung tak bisa dibangun rumah
Maka pindahkanlah gunung
Memindahkan gunung itu sulit
Maka jadilah nabi

Tapi pikiran tak bisa didengar
Maka bicaralah
Bicara itu sulit
Maka jadilah engkau seperti kau adanya

dan teruslah bergumam sendirian,
wahai makhluk tak berguna.

Rondeau: bentuk puisi abad pertengahan, di mana larik tertentu diulang-ulang pada masing-masing bait.