Sabtu, 01 Maret 2014

Rifa’i ‘Ali: KATA HATI



Data buku kumpulan puisi

Judul : Kata Hati
Penulis : Rifa’i ‘Ali
Cetakan : II, 1975 (terbit pertama di Medan, 1941)
Penerbit : PT Dunia Pustaka Jaya, Jakarta.
Tebal : 48 halaman (34 judul puisi)
Seri : PJ. 254
Gambar jilid : Zaini
Dicetak oleh Firma Aries Lima, Jakarta

Beberapa pilihan puisi Rifa’i ‘Ali dalam Kata Hati

Surau Kami

Betul di jantung kesibukan dagang,
Di Java Street, Kuala Lumpur,
Di ujung delta Sungei Klang,
Berdiri mesjid permai teratur.

Ketiga kubatnya besar hitam,
Menara ramping bentukan India,
Di tengah pelataran kolam pualam,
Semuanya bersih putih mulia.

Rumput berkeliling dipangkas rendah,
Ditudungi berpuluh batang kelapa,
Walau panas menghawa timah,
Ini desa di tengah kota.

Awak letih tersandar ke tiang,
Angin datang bagai merayap,
Ditambah nyanyian Sungei Klang,
Timbullah kantuk, menguap-nguap.

Surau buruk di kampung kami,
Atap ijuk, papannya jarang;
Siapa lalu tak usah permisi
Tidur di situ malam dan siang.



Danau Maninjau

Tegak sendiri di malam sunyi,
Bersandar ke lumbung tengah ‘laman,
Maninjau danau di bawah kaki
Dalam sinar terang bulan.

Sinar qamar perak terserak
Diarak riang berkilau-kilau,
Tepi hamparan bergerak-gerak,
Lenyap perlahan di hitam-hijau.

Langit tenang angin diam,
Bukti selingkar dewala kala,
Kampung berkeliling tidur diam,
Riak bermain sendirinya
– Segarlah hati yang siang ruyup,
Lupa sesa’at derita hidup.


Ngarai Si Anok

Berat himpitan Gunung Singgalang,
Atas dataran di bawahnya
Hingga rengkah tak alang-alang:
Ngarai lebar dengan dalamnya.

Bumi runtuh-runtuh jua
Seperti berabad-abad yang lepas,
Debunya kirap dalam angkasa,
Derumnya lenyap disawang luas.

Dan penduduk di dalam ngarai
Mencangkul di ladang satu-satu,
Menyabit di sawah bersorak-sorai,
Ramai kerja sejak dahulu.

Bumi runtuh-runtuh jua,
Mereka hidup bergiat terus,
Seperti Si Anok depan rumahnya
Diam-diam mengalir terus.


Turun ke Laut

Di bawah gubalan perada warna
Tinggi-rendah laut mengalun,
Di tepi langit kabur dan sayup
Tampak biduk ayahku punya;
Dalam ayunan gelombang berpalun
Mencari nafkah tambatan hidup.

Kalau hari hampirkan pagi,
Kokok ayam sudah pelahan,
Terdengarlah jala di bahu berdesir,
Itulah masa ayahku pergi,
Murai ucapkan selamat jalan,
Aku tegak tercenung di pasir.


Basmalah

Dengan bismillah disambut bidan,
Dengan bismillah berkafan badan,
Dengan bismillah hidup dan mati,
Dengan bismillah diangkat bakti.


Cerana
Kepada M.D. – M.

O, mempelai, naik, diri,
Tabur kunyit goyanglah kipas,
Naik pes’mandan dengan biduan!

O, mempelai, naik, diri
Dara di atas siap berhias,
Inilah cerana turun ke laman!


Ke Mana Kita?

Jika dikaji sejarah lama,
Sejarah bangsa membuat riwayat,
Ditilik pasal kaum agama,
Cara baktinya ke tanah ulayat,
-- Malu terasa dalam hatiku.
Malu bercampur gemas dan pilu.

Di atas lembaran hari kemarin
Tertumpah noda syekh ulama:
Mengajarkan talkin guna bermain
Memperbanyak janda di mana-mana,
Segala perawan semarak suku
Dinazarkan orang untuk tuanku.

Siapa tidak gemas di hati,
Suluh bendang kepada negara
Mempergunakan syareat nabi
Penutup ganas nafsu asmara:
Menaburkan akan di segenap liku
Dengan laku tak mau tahu.

Hati mana tidak kasihan,
Akibat segala jatuh tertuntung
Ke atas, punggung bangsa perempuan,
Karena kasihnya ke anak kandung;
-- Lembar riwayat fukaha dulu
Kumal ditetesi air mata ibu

Tapi zaman itu sudah lampau,
Hari surau boleh dibalik;
Halaman baru kertas berkilau,
Hari kita matahari naik:
Alim moderen pakai sepatu,
Goyang sepeda tangan di saku.

Hari kita masih pagi,
Sejarah belum memegang kalam;
Pemuda-pemuda putera-puteri,
Angkat kaki jawablah nalam:
Hendak ke mana kita menuju
Dalam kebaktian yang akan lalu?

Sebabnya begitu soalan saya,
Takut melihat harapan rakyat,
Kepada kita tumpah percaya
Mempertaruhkan gadis satu internaat,
Takut tak cukup tenaga kalbu
Penanai amanat sebesar itu.

Darah muda sangat gembira
Mengajarkan nyanyi aksi berlonjak,
Murid senyum, ditarek suara,
Awak menandak menodak-nodak.
-- Saya cemas kalau begitu,
Kelak habis selaput malu.

Jika sungguh hendak berjasa,
Selubung malu usah disoyak;
Hormati benar kaum ibunda,
Kebaratan diagak-agak;
Jika kuatir khianat kalbu
Amanat jangan terima dulu!

Hari kita belum tinggi,
Sejarah belum mencapai kalam;
Pemuda-pemuda yang mau pergi,
Angkat kaki jawablah nalam:
Hendak ke mana kita menuju
Dalam kebaktian yang akan lalu?


Teratur

Detik ke detik dijagai sep,
Tepat di saat tanda diberi,
Baru kereta masuk, berangkat,
Sekian teliti kadang pun kasep,
Bertumbuk ekspres dahsyat ngeri,
Silap sedikit besar akibat.

Sekitar kita disawang hawa,
Sejak ribuan abad yang lalu,
Berlayangan berjuta bintang.
Walau lajunya tidak terkata,
Belum terbetik sejak dahulu:
Bintang bergeser dengan bintang.

O, tuan, ahli pikiran,
Dapatkah dibenarkan:
Peralaman mati
Teratur sendiri?


Manusia

Aku kagum mencari gambar,
Pusaka jari pujangga besar,
Hidup timbul bagai menggeletar,
Darah di jantung berdebar-debar.

Sukma serasa tidak di bumi
Demi menyimak nyanyian seni,
Terlayang-layang di atas fani
Atau tercampak ke sunyi mati.

Kalbu cair mata berair,
Darah nyawa suci mengalir,
Waktu merasai sari syair,
Ratap pujangga terbilang mahir.

Darah beku, kakiku kaku,
Tampan arca tegak terpaku,
Mengherani bangunan sebukit batu,
Tinggi meninju langit biru.

Lelah otak mengira-ngira,
Besi terbang atas udara:
Silam-menyilam dalam segara;
Di darat bak ular sendiri mara.

Betul sempurna wujud insani:
Gaib pendapat akal dan budi!
Tidak termakan dik rasa hati:
Kematian manusia punah bak api!


Kedewianmu

Aku terlihat sekar belukar
Letai melayuk di tangkai lampai,
Terbuai-buai diganggu bayu;
Hati yang tenang kolam yang tawar
Sekonyong beriak berbuih rampai,
Memutihlah kasih ditiup sayu.

O, sekar astakona ketek,
Sebelum kupetik kubawa pulang,
Tuan, kemala hidupku nanti,
Supaya permai tamanku molek,
Dengar dulu lagu tualang,
Rahsia hati mencahari mimpi.

Sekat Pilu dewi di rimba!
Tahukah ratun pemikat maut,
Pengubur gelisahku di diri tuan,
Pengebat kita bersatu sukma,
Buntar bidikan jeling seraut,
Rahsia hati takluk ke tuan?

Bukan daku ditawan permai,
Kaya raya bangsawan awan
Atau alim dunia akhirat;
Belumlah tenteram kalbuku damai
Dihibur riang – malu perawan,
Merdu suara dibikin jimat.

Sekar rindu ungu bersedih,
Bukan kuingin pedas dan tangkas,
Srikandi di atas mimbar,
Malah merahap khayalku letih,
Menyembah sejati lemah dan ringkas,
Lemas di pergaulan sidang belukar.

O, puspa, hanya pada lemasmu,
Lembut dalam seluhur arti,
Tertangkut gahku, kosa terserah;
Didesau-desau lahir-batinmu,
Di situ daku menanti mati,
Di situ tercurah sejati mesrah.


Pulang ke Tuhan

Terbujur dagang tidak beruang,
Jauh neg’ri jauh pamili,
Mati s’orang di rantau orang
Memang sedih sakit sekali.

Lebih pedih meracun mati,
Mati di mata sanak-saudara,
Bila dapat dibaca hati:
Mereka tinggal dengan gembira.

Baru terasa sampai ke tulang:
Datang ke mari seorang diri,
Seorang jua kini pulang …
O, jangan pamili melalai bakti!

Pulang ke Tuhan selagi teruna,
Agar hidup tak sia-sia;
Tidak tahu membalas guna
Terima kasih dari dunia.


Betapa Tidak

Maksuk banyak yang rancak,
Tercapai banyak yang tidak!

Betapa daku tidak mengaku:
Ada Penguasa, iradat berlaku,
Tidak semua pinta manusia
Bisa terkabul dalam dunia!


Di Mesjid Ma’sum

Tiang pualam pirang dadu,
Dinding di dalam kuning-coklat,
Kubat cengkerung biru-abu,
Ukiran air mas berkilat-kilat.

Mendengung sepenuh mesjid raya
Dibuat suara kedua muazzin.
Ketika di pintu sebelah kanannya
Tersembul arakan kawal khatibin.

Dua orang pegang bendera,
Dan satu menyembahkan tungkat,
Lalu bersila di atas tangga
Setelah khatib mengucap selamat.

Walau hamba tidak mengerti
Pidato khatib berbasa Arab,
Kehebatan masuk ke hati
Pengganti keinsafan yang diharap.


Di Kuala

Malam silam fajar menyingsing,
Awan berkuak matari nampak,
Kabut berpusing daun berdering,
Sinar kilauan di ombak rampak.

Sayap terkembang masuk kuala,
Putih berleret berbanjar-banjar,
Menyembah syamsiar tunduk kepala,
Girang cemerlang berkejar-kejar.

Pelangi warna perarakan ombak,
Halus tari menyusur pantai,
Merdu suara alun bersibak,
Semerbak udara kembang teratai.

Segenap riak bersukacita,
Dalam lentunan keindahan pagi,
-- Ikut pula bergirang beta
Walau masing-masing tidak mengerti.


Iradat Ilahi
kepada Ibunda Syarifah

Menggunung syukurku bagiMu Tuhan,
Lapang dadaku terkuak angan
Demi kumaklumi iradat Rahman
Melahirkan aku di kesengsaraan.

Aku diserahkan tiada berkain
Ke dalam pangkuan ibu yang miskin;
Biasa bermandi cucuran ‘ain
Milik ibuku tiada yang lain.

Kalau aku dikirimkan Allah
Sebagai hadiah ke ibu lemah,
Inilah tanda, ini isyarah
Ujud hidupku penyumbat susah.

Bukan penindih ibu yang letih,
Penambah pedih pelukai perih,
Malah pembela sebagai Almasih,
Begini iradat Tuhan Pengasih.

Serongkok condong wajib kutupang,
Tiris atap sisipkan tulang,
Lantai roboh bahu penyandang,
Pantang mengerang tanggungkan sorang.

Demikian warisan segala nabi,
Diriku termaktub sunnah Ilahi:
Lahir ke bumi penungkat umi
Kalau tak puteranya siapa lagi.


Tentang Rifa’i ‘Ali
Rifa’i ‘Ali lahir Padang Panjang tanggal 24 April 1909. Setelah tamat sekolah dasar, ia diasuh dalam perguruan agama Diniah dan Tawalib. Perhatiannya terhadap seni lukis dan sastra cukup besar. Selama tiga tahun ia belajar melukis pada Wakidi, seorang pelukis naturalis; sedang sajak-sajaknya kebanyakan diciptakan ketika ia belajar di Islamic College, Padang, tahun 1932. Di antara sajaknya, ada yang dimuat di majalah Poedjangga Baroe, Semangat, Pemoeda dan Pantca Raja. Untuk memperdalam bahasa Inggris, sengaja ia menyeberang ke Malaysia, belajar di Von Mullen English School tahun 1935-1940 sambil bekerja sebagai tukang cukur. Kembali dari Malaysia ia bekerja pada penerbit Firma Tjerdas di Medan dan pada cabang-cabangnya di Palembang dan Bukit Tinggi sampai 1956. Selama itu terbitlah buku-buku prosanya yang berupa bacaan ringan seperti Ibu Setan, Merindu Majat, Gadis jang Dinazarkan, dll. Tahun 1948-1950 ia bekerja pula pada Pema (TNI) Bukit Tinggi. Namun perhatiannya pada karang-mengarang tidak terhenti. Ia pun banyak menggarap soal-soal agama. Bukunya yang berjudul Tuhan Ada terbit tahun 1968. Kumpulan puisi Kata Hati, yang terbit pertama tahun 1941, merupakan kumpulan sajak yang digalinya dari kehidupan dan keimanan. Di antaranya juga terdapat terjemahan beberapa surat Al-Qur’an dalam bentuk puisi. (disarikan dari biodata penyair di sampul belakang buku).  


Catatan Lain
Selalu menyenangkan menemukan puisi-puisi lama. Itu yang saya rasakan. Saya suka geleng-geleng kepala habis membaca sajak-sajak itu. Kata-kata yang muncul sering ajaib. Entah datang dari negeri mana. Apa salah cetak, apa saya yang tidak tahu, jika kata itu di masa dahulu pernah ada. Contohnya kata “kubat”, dalam puisi Di Surau Kami. Mula-mula saya mengira itu salah cetak, yang benar kubah. Tapi begitu menemukan sajak Di Mesjid Ma’sum, lagi-lagi saya menemukan kata “kubat”. Saya berubah pikiran. Jangan-jangan kata kubat memang ada. Jadi memang butuh kehatihatian jika berhadapan dengan puisi-puisi lama. Oya, dulu kata “puisi” tak dikenal. Hanya sajak, atau sanjak? Tengoklah Chairil Anwar, saya rasa, ia tak sekalipun memasukkan kata “puisi” dalam karya-karyanya, adanya sajak. Demikian juga Subagio Sastrowardoyo. Saya pikir, kata “puisi” barulah populer sejak masa SDD, Goenawan Mohamad atau Taufik Ismail. Tak jelas benar siapa yang pertama kali mempopulerkan kata “puisi”. Tapi seingat saya, STA pernah bikin buku terkait puisi baru dan puisi lama. Tapi tak jelas tahun berapa terbitnya. Saya rasa, saya perlu mencari referensi tentang itu. Jika sekalian pembaca mengetahui sejarah penggunaan “sajak” dan “puisi”, maka bolehlah kita berbagi di sini. Salam puisi, eh, Salam sajak. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar