Minggu, 05 November 2017

Agung Catur Prabowo dan Suyitno B. Tamat: DARI TEPI KAHAYAN


Data buku kumpulan puisi

Judul : Dari Tepi Kahayan
Penulis : Agung Catur Prabowo dan Suyitno B. Tamat
Cetakan : I, Juni 2015
Penerbit : Seven Books, Yogyakarta.
Tebal : 124 halaman (acp 46 puisi, sbt 52 puisi)
ISBN : 978-602-97980-7-4
Editor : N. Hadi Kromosetika

Dari Tepi Kahayan terdiri dari 6 keping, yaitu Catatan untuk Kotaku (acp 10 puisi, sbt 6 puisi), Ode untuk Leluhur (acp 7 puisi), Jejak-jejak Perjalanan (acp 18 puisi, sbt 4 puisi), Catatan untuk Sahabat (acp 4 puisi, sbt 13 puisi), Kidung Kasmaran (acp 2 puisi, sbt 8 puisi), dan Tetirah Hati (acp 5 puisi, sbt 21 puisi)

Beberapa pilihan puisi Agung Catur Prabowo dalam Dari Tepi Kahayan

Anak Enggang
                                                Buat Anak Dayak

mendung tak bisa lagi menggantung di dahan
tunggak juga telah hanyut berserak
anak enggang,

sarang kini harus kaubikin sendiri
dari pucuk pucuk yang hangus
dari arang yang tersisa

langit kini harus kaulukis sendiri
dengan kepak putih atau hitam
dengan paruh atau mahkota

bila sudah masanya
terbanglah melintas cakrawala
agar kisah anak enggang
tak berakhir di pokok ara

*acp*
palangka raya, desember 2011


Bue’
                                Buat Kusni Sulang

sayup sansana kayau
ditimpa angin dari negeri jauh
segala nyanyian kini telah parau
walau tetap tak terdengar keluh

langit yang kaupahat, Bue’
pada batang batang sapundu
nampaknya telah membikin gusar
angin puting berpusar
mungkin telah dilanda cemburu
karena curiga
kemana mereka hendak bersarang
Jika cakrawaka di mata mereka
sirna?

*acp*
palangka raya, desember 2011



Sejak Angin Berhembus dari Tumbang Anoi

siapa mereka yang berkata

: kita dikatakan tak pintar menakar
  kita dibilang tak pandai memintal
  kita dikira tak jago menempa?

dari dulu kita menukar, sebongkah
damar dan rotan dengan sejimpit garam
hingga kini kita masih menukar, setongkang
kayu dan batu dengan selembar kacu

sejak angin sepoi berhembus dari tumbang anoi, tak ada
lagi yang kuasa merangkai selendang penari, tinggal
sayap sayap disulam pada temali
sayup sayup berdenting
karungut dan sansana
melenting

*acp*
palangka raya, mei 2009


Di Puncak Rasamala

di puncak rasamala
embun mengelus batang batang pinus
rela patah membelah tanah

di puncak rasamala
damar borneo disemai di tanah Karo
disiram doa seribu mata

di puncak rasamala
kudendangkan menjuahjuah kepada semua orang
untuk sepakat kita jaga bukit barisan

*acp*
palangka raya, 6 juli 2012


Di Candi

begitu jauh telah ditinggalkan tahta
melanglang jagat dari pusat candi
menjelma resi bagi para nestapa
sang pengabdi bagi para abdi

terngiang saat ia sepakat merapal mantra
lepaskan kemeriahan negarakertagama
tarikan nafasnya sepenuh jurus
membuka cungkup yang tak terurus

daun beringin kuning tersentuh angin, jatuh
tubuhku yang dingin, merapat di gapura sukuh

*acp*
palangka raya, 16 desember 2013


Sapundu

darimana kita datang
yang dulu biasa membelah ladang
kini hanya menunggu
betang lengang

tinggal sapundu di halaman
menjaga persemayaman para tatu
memberi isyarat arah angin bertiup
agar anak enggang tak lupa jalan pulang

*acp*
palangka raya, oktober 2011


Kahayan (1)

langit emas memburu kelepak elang
mengerit baut baut di bibir dermaga
sisa kabut menyaput
bayang bayang kelam
namun, batang batang
masih teronggok
setia

*acp*
palangka raya, oktober 2011


Lengkung Jembatan Lengkung Pelangi

lengkung jembatan lengkung pelangi
menggantung awan meniti hari

dari sini jelas pandangan
arus berlanting menderas di tikungan
anak anak berlompatan berpacu
kapal kayu bergeming di tambatan
balok balok dirakit tanpa perahu

lengkung jembatan lengkung pelangi
menggantung angan meniti sunyi

dari sini jelas pandangan
angin berputing menderas di ingatan
bungur bungur masih bermahkota ungu
randu tak hendak lepas dari rekatan
tajuk ketapang malas gugur walau telah layu

*acp*
palangka raya, oktober 2011


Legiun

bambu bambu rancak di pundak
pedang kelewang melintang di pinggang
sebagian memanggul laras hadil rampasan
bergerak mereka dalam barisan
sabang merauke dalam ikatan

itu pasukan ciba patahkan
dengan segala bedil
dengan segala meriam
dengan segala serdadu
habiskan segala mesiu
kaki kaki tak surut maju
sebab pilihan cuma satu

kini,
janji janji telah dipenuhi
panji panji tegak kembali
merah putih serupa nyiur melambai

yang tersisa dari legiun tua
adalah seseorang termangu di sisi pusara
di tengah hiruk pikuk perayaan
diajaknya sang kawan sekali lagi teriakkan

:merdeka!

*acp*
palangka raya, 16-23 agustus 2013


Bukit Rawi

kahayan surut tujuh lutut
menyisakan alur kecil di sela kabut
cericit burung menindih sepi
mengundang si kecil turun mandi

rumah panggung kayu tua
bilik terlindung terbuka jendela
kampung dulu bunda berlindung
kampung kini kami bertahan

matahari,
tetaplah bertahan di bukit rawi
agar sempat tersinari
kembang kembang yang mekar sebentar lagi

*acp*
palangka raya, 20 juni 2013


Balanga

balanga datang, balanga pergi
yang dikandung telah lahir
yang menanggung lupa disunggi
disimpan saja diikat tali
lupa ramuan lupa sesaji

balanga datang, balanga pergi
yang mengkilat digadang
yang berkarat diganti

balanga datang, balanga pergi
duplikat dirancang
keramat dicuri

*acp*
palangka raya, oktober 2011


Tarian Dayak

tubuh tubuh rancak menari
mengikuti irama alam
bersatu dalam gandang
bilik dan beranda
keringat dan udara
beraroma dupa

o, dayak

tarian dayak di atas pentas
alam raya tinggal kanvas
dimana hutan
dimana ladang
dimana betang

o, dayak

menarilah menari
kibaskan kelepak tingang
terbangkan mandau talawang

*acp*
palangka raya, oktober 2011


Borobudur

mendaki stupa
menapaki samsara
lalu setahap demi setahap
menggayuh nirwana

sampailah aku di sisi arca
kuning matahari mengguratkan bayangan
diri yang tak sanggup berdiri
tepekur mengarungi semadi

tak hendak kuturunkan tubuh layang layang
sebab selangkah lagi mendaki
akan sampai di pusaran
hilang raga hilang suksma
di hadapan senyum sang Gaotama

*acp*
palangka raya, 16 desember 2013


Beberapa pilihan puisi Suyitno B. Tamat dalam Dari Tepi Kahayan

Setangkai Kembang Kopi

lengang malam terusik
lengking seruling meningkahi
pijarpijar lampu minyak dari bekas kaleng susu
membagi sinar ke titik yang terjangkau

lengang malam terusik
setangkai kembang kopi jatuh ke bumi
melulur hati sang pemuja yang kasmaran
merindu cinta dalam mufakat serah diri

lengang malam terusik
setangkai kembang kopi gugur ke pelukan
bau keringat setubuh terarak uap tanah
melahirkan janji dan ingkar baru

*sbt*
sebangau, april 1995/2011


Goresan Tegak Lurus Di Sebuah Tulang

goresan tegak lurus di sebuah tulang
hadiah megah bagi khalifah
peringatan keras pemegang amanah
penguasa negeri penyambung lidah

goresan tegak lurus di sebuah tulang
cindera mata hadiah iman
mahar mewah untuk jabatan
kelakar indah buat seniman

goresan tegak lurus di sebuah tulang
menatap langit di kisi keadilan
ratap janda pada tengah malam
pesan berbingkai buat pangeran

goresan tegak lurus di sebuah tulang
tanda terbuka untuk semesta

*sbt*
palangkayara, juni 2001


Renik

asap mengepul mengundang pandang
puing yang sisa menorehkan kepedihan

ingin bersorak mengharap lebih
mencimit hak orang
menyitir dalih sekadar

renik disangka laku dibuat
tidakkah kau sadari
kuasa tuhan mutlak semata
tak lepas renik di indera

*sbt*
palangkaraya, maret 2001


Menanti Purnama pada Musim Panen

sepetak ladang dulu kurawat
kini bersemak
bila di sebelah selatan kusiangi
di utara perdu meninggi

sepetak ladang kini kurawat
tergarap seperempat
mulut terlalu liar, kerja tak terbayar

huma menghijau kujaga dari tikus
huma bunting kujaga dari wereng
huma menguning kujaga dari pipit

terlelap sesaat
huma rontok
musim panen terlewat
purnama tak terlihat
lengkung tandan telah tua

sepetak ladang dulu kurawat
terpaksa kupandang dari jauh
sambil menanti purnama di musim mendatang
izinkan kukecup kening kekasih
t’lah lama kutinggalkan

*sbt*
palangkaraya, rajab 1424


Ande-ande Lumut Kepincut

di gubuk reyot
nyai janda dadapan sumringah
menerima tiga tamu kehormatan
semuanya perempuan

lama mereka bercengkrama
tapi ande-ande lumut yang dinanti
tak kunjung keluar kamar

di halaman pengiring ketiga perempuan riuh bercakap
membicarakan siapa yang bakal dipilih
ande-ande lumut untuk dijadikan istri

nyai janda dadapan gelisah
: putraku si ande-ande lumut
  keluarlah ada tamu yang hendak bertemu
  tamunya hai putri terhormat
  anak ningrat, pejabat dan konglomerat

: wahai ibu saya masih malu
  belum siap untuk bertemu
  tolong ibu perkenalkan satu persatu

ande lumut masih enggan keluar kamar
sedikit sungkan nyai janda dadapan
memperkenalkan tamunya satu persatu
: putraku si ande-ande lumut
  keluarlah ada putri yang sedang menanti
  putrinya anggun berwibawa
  pejabat tinggi di departemen ternama

: wahai ibu saya belum mau
  meski dipaksa tetap tak setuju
  biar anggun, putri itu kurang lugu

: putraku si ande-ande lumut
  keluarlah ada putri  yang sudah menunggu
  putrinya hai cantik menggoda
  foto model di ibu kota

: wahai ibu saya belum hendak
  putri ibu masih bergejolak
  walau cantik, putri itu kurang berakhak

: putraku si ande-ande lumut
  keluarlah ada putri  yang hendak menjemput
  putrinya berwajah jelita
  darah biru, dia juga pengusaha kaya

: duhai ibu, saya minta maaf
  yang ketiga tetap saya tolak
  biar kaya, tapi dia terlalu galak

nyai janda dadapan blingsatan
ia terduduk kikuk
melihat wajah tiga perempuan di hadapannya
dalam ketegangan membisu
datang seorang penjual jamu gendong

perempuan itu bermaksud ikut meminang ande-ande lumut
orang-orang mengejeknya
bahkan nyai janda dadapan nyinyir
meminta dia pergi saja

tapi perempuan penjual jamu bersikeras
meminta agar keinginannya
disampaikan kepada ande-ande lumut
dengan dongkol nyai janda dadapan menyampaikan :

: putraku si ande-ande lumut
  ada gadis yang tak tahu diri
  wajahnya hai terlalu jelek
  hendak coba meminangmu wahai putraku

: wahai ibu saya jadi bimbang
  sebab dia memang kuidamkan
  biar jelek, tapi dia punya kejujuran

: hai, putraku ande-ande lumut
  kau harus segera tentukan sikap
  sekarang bukan jaman memegang kejujuran
  tak ada guna kejujuran
  kalau kita menderita, terpinggir, dan diinjak-injak

ande-ande lumut tercenung
berpikir sejenak

: wahai ibu saya telah setuju
  bahwa saya sependapat dengan ibu
: lalu mana yang kau pilih?
: semuanya kuambil jadi istriku

begitulah  cerita ande-ande lumut yang kepincut
ia tak lagi tegar, lalai tergoda gemerlap jaman

*sbt*
palangkaraya, ramadan 1423


Mahkota

sujud yang kita lakukan
belum mengantar ke titik makna
ketenangan yang kita idamkan
belum jadi sebuah gambaran

raja bertahta tanpa wibawa
ratu berjaya tanpa kesima
dan pangeran-pangeran tak pernah memberi contoh
tentang hidup sahaja
sedang putri-putri istana
menjual diri pada pengusaha-pengusaha kaya

mahkota dilelang kaum pemodal
singgasana diperebutkan dengan membeli sebungkus nasi
yang sebenarnya tak pernah ia makan
negeri digadaikan demi dukungan
rakyat diberi bualan tentang nikmat hidup tentram

bayi-bayi yang lahir langsung menoleh bulan

*sbt*
palangkaraya, oktober 1997


Keramat Senyap

seuntai kata menenggelamkan malam
mengiringnya dalam diam
menuntaskan kesumat semu
menyatru adat mengukur tara

angin merah mengantar misi
kuasa terbungkus
bermain mata dengan maut

di seberang
sesosok badan meregang maut
raga terkapar, bersandar
kabar tersiar ke seluruh titik
senyum mengembang
dibalut tangis sesenggukan perempuan
merangkul tiga anak kecil dalam pelukan

keramat senyap melunasi hutang
menanti waktu melepas kesumat

*sbt*
sembuluh, maret 1997


Penarik Gerobak

poripori terbuka
deras mengalirkan keringat
membasahi kulit liat legam
dua kekang menghela di pundak
membelit pangkal tangan
segaris dengan kemiskinan

wajah letih terkapar di tepi pelabuhan
menanti muatan
senyum kekuatiran tersungging
seiring matahari condong ke barat
: apakah hari ini anakku bisa makan?

*sbt*
sebangau, November 1995/2011


Mimpi Batu

mimpiku tentang batu
melarung hayalan terkembang
dengan penumpang berpasangan
menyeberang laut jawa
singgah di hamparan rimba

mimpiku tentang batu
terhempas di butir pasir memanas

*sbt*
palangkaraya, dzulhijjah 1424


Alunan Lembut

alunan kecapi malam
terdengar lembut
menyudut

kehalusan irama berbalut sajak cinta
bicara tentang mimpi dan harap
gerak menyeruak
menyatru bayang sendiri
memadu pagi dan senja
merapat hati dan rasa

ada alunan lembut
terkurung musim pancaroba
terarak ke relung batin
menyesak
meregang
dengki dan malu

alunan musik malam
terdengar kelam, terbenam

*sbt*
palangkaraya, oktober 2001


Senja di Pantai Trisik

: wajah yang selalu kukenang

kegersangan mengintip sunyi
hamparan pasir hitam
menjaring panas sepanjang siang
menyisakan hangat tersimpan

debur ombak merayap ke tepi
menghempas percik air
melabuh buih putih
mengiring kepulangan matahari
tersipu di balik awan

aku bertafakur
menatap matahari merah
mengingat seraut wajah
dalam tempias ombak yang memercik berirama

*sbt*
kulon progo, September 2002


Wajah-wajah yang Tersuruk

wajah-wajah yang tersuruk
melangkah bimbang menuju terang
aku tak mampu menatap!
mengais percik pancaranMu
cerminku terlampau kotor

sekian ribu bulan wajah-wajah yang tersuruk
mengurung diri dalam comberan
: aku lahir dari tiada menjadi ada
  kemudian tiada lagi
  berartikah saat jedaku?

aku berasal dari putih berubah hitam
hitam-putih-hitam-putih-hitam-putih
hitam-putih-hitam-putih…
tak pasti warna asli

tersembul cahaya, berseru atas nama kasih
ke sini, kembali padaKu
angkat wajahmu hadaplah terang

*sbt*
palangkaraya, mei 2001


Tentang Agung Catur Prabowo
Agung Catur Prabowo lahir di Tuban, 18 maret 1971. Pendidikannya F. Kehutanan UGM dan master di Universitas Mulawarman Samarinda (2003). Sejak 1998 bekerja sebagai PNS di Kantor Dinas Kehutanan Prov. Kalimantan Tengah. Membina teater “Mentari” SD Muhammadiyah 1 Pahandut, Palangkaraya. Puisi, cerpen, dan esainya tersebar di berbagai media. Kumpulan puisinya yang lain: Rambang (2010, bersama Suyitno B. Tamat). 


Tentang Suyitno B. Tamat
Suyitno B. Tamat lahir di Pemalang, Maret 1979. Masa SD dan SMP dilalui di Unit Pemukiman Transmigrasi di daerah Sebangau, Kahayan Kuala, Kapuas (sekarang masuk Kabupaten Pulang Pisau). Aktif di dunia teater sebagai pemain, penata setting, penata lampu, penulis lakon dan sutradara. Karya puisi dan cerpennya tersebar di berbagai media. Kumpulan puisinya yang lain: Rambang (2010, bersama Agung Catur Prabowo), Sketsa Rindu (2012, bersama Prokuma). Merupakan seorang jurnalis, yang juga aktif sebagi Ketua Kelompok Studi Sastra Kalakai (KSSK) Kalteng dan Ketua Forum Lingkar Pena (FLP) wilayah Kalimantan Tengah.


Catatan Lain

Ada dua pengantar di buku ini, yaitu 2 halaman dari Rektor Universitas Muhammadiyah (Drs. Bulkani, M.Pd) dan 1 halaman dari Editor (N. Hadi Kromosetika). 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar