Data buku kumpulan puisi
Judul : Tanda-tanda yang Bimbang
Penulis : Ook Nugroho
Cetakan : I, Juli 2013/Sya’ban 1434 H
Penerbit : PT Kiblat Buku Utama, Bandung.
Tebal : 93 halaman (53 puisi)
ISBN : 978-979-8002-41-0
Gambar kulit muka : lukisan karya Salim “Kesepian Mawar”
(2001)
dari buku Salim
Pelukis Indonesia di Paris (Ajip Rosidi, Pustaka Jaya, 2003)
Tanda-tanda yang Bimbang terbagi atas empat kumpulan, yaitu Separuh
Puisi (18 puisi), Jagal Jumat (7
puisi), Tema Insomnia (19 puisi) dan Lampiran: Pelajaran Dasar Bermain Bidak
(9 puisi)
Beberapa pilihan puisi Ook Nugroho
dalam Tanda-tanda yang Bimbang
Separuh Puisi
Sebagus-bagus sajak kau tulis
Itu barulah separuh puisi, katanya
Separuhnya lagi tertahan oleh sunyi
Yang mendekapnya di hulu waktu
Kelak jika musimmu telah muara
Diaruskannya sempurna mencapai hilir
2010
Ular Gunung
: Gao Xing Jian
Ada yang menamakan kami
Naga Lima Langkah
Sebab demikian pintar kami
Meracik bisa
Seakan iblis sendiri
Menanamkannya pada
Taring waktu
Kemudian kami pun
Menunggu
Sabar dan tak terburu
Sampai hewan atau kalian tersekap
Dalam ini perangkap
Sempurna kami tebar
Supaya kami sisakan kemudian
Lima tindak
Untuk kalian melangkah
Sebelum rebah juga akhirnya
Dekat pagar belakang
Kuulangi, jadi itulah
Mengapa
Mereka sebut kami
Naga Lima Langkah
Semua itu taklah mengejutkan
Bisa kau temukan pada
Lembar resmi ensiklopedia
Persis pada halaman
Bab reptilian darat
Yang luput
Tercatat di sana
Kami juga hidup aman
Melingkar samar
Dalam gelap belukar
Sanubari manusia
Seraya
Menebar ini bisa
Merata pada
Garis silsilah kalian:
Para makhluk jumawa
Turunan dewata?
2011
Dalam Tidur
Dalam tidur
Aku ingin ketemu sajak
Kata-kata baik
Bebunyian rancak
Baris-baris giris
Melukis gerimis hidupku
Dalam tidur
Aku ingin terus menulis
Dan merampungkan semua
Pas bangun esoknya
Tinggal kububuhkan saja
Semacam kata penutup
Demi langit di atas
Demikianlah kiranya terjadi:
Mimpi yang menunas di bumi
Di sorga benihnya disemai
Aku ingin ketemu sajak
Kata-kata baik
Bebunyian rancak
Baris-baris giris
Melukis gerimis hidupku
Dalam tidur
Aku ingin terus menulis
Dan merampungkan semua
Pas bangun esoknya
Tinggal kububuhkan saja
Semacam kata penutup
Demi langit di atas
Demikianlah kiranya terjadi:
Mimpi yang menunas di bumi
Di sorga benihnya disemai
2009
Pulau Miring
: Mardi Luhung
Dalam sajakmu, mengapa kurasa langit berat, menekan
Meski hujan tak mengancam samasekali, orang-orang
Yang sepertinya tak bahagia, tapi juga tak berduka
Mendiami kampung gersang, gersang yang gelisah tak ramah
Mereka punya matahari yang berwarna ungu
Sepanjang tahun, meski siang telah mengirimkan
Gelombang pasangnya ke jalan-jalannya lengang kurasa
Dengan angin kering yang usil menubruki dinding
Karena ini kota pantai, mereka coba menjelaskan:
Kami pun dekat dengan laut, mengenal maut seperti
Memahami tetangga sebelah kami,yang bisa saja
Sekonyong datang berkunjung larut malam, menjenguk
Mengingatkan kami pada sebuah kenduri purba
Maka, di pantai yang selamanya senyap
Orang-orang bermata cekung kadang bertemu, menetapi janji
Membagi-bagikan ciuman kelabu pada mulut pasir
Sebelum mereka santap beramai hidangan surga itu:
Nasi pandan hijau, sup kuping merah, jerohan bayi 7 bulan
Mereka akan pulang sesudah puas menumpahkan sisa muntahan
Di gili-gili seram pulau cantik, pulau cantik yang menangis
Orang-orang yang sepertinya sulit berbahagia ini
(Kuduga sebagian bermata ganjil, sebagiannya bertanduk.
Tanduk keling yang menancap pada pelipisnya tipis memar):
Dengan apa kusapa, jika berpapasan kami di jalan pulang?
Tapi kudengar mereka memang tak bernama, tak paham silsilah
Tinggal tak betah di rumah-rumah yang berdiri miring
Di sepanjang pesisir gering, di mana tak ada cukup jendela melambai
Terbuka, dan jika maut mendatangi, mereka akan memanjati genting
Menuntaskan takdir dan kepalanya di sebelah utara
Menyerahkan tubuh pada selatan yang lebih berkabut dan biru
Kabut tebal pekat yang turun menaungi, menyembunyikan
Tuhan dan surga ungu, dalam selarik sajak miring
Dalam sajakmu, mengapa kurasa langit berat, menekan
Meski hujan tak mengancam samasekali, orang-orang
Yang sepertinya tak bahagia, tapi juga tak berduka
Mendiami kampung gersang, gersang yang gelisah tak ramah
Mereka punya matahari yang berwarna ungu
Sepanjang tahun, meski siang telah mengirimkan
Gelombang pasangnya ke jalan-jalannya lengang kurasa
Dengan angin kering yang usil menubruki dinding
Karena ini kota pantai, mereka coba menjelaskan:
Kami pun dekat dengan laut, mengenal maut seperti
Memahami tetangga sebelah kami,yang bisa saja
Sekonyong datang berkunjung larut malam, menjenguk
Mengingatkan kami pada sebuah kenduri purba
Maka, di pantai yang selamanya senyap
Orang-orang bermata cekung kadang bertemu, menetapi janji
Membagi-bagikan ciuman kelabu pada mulut pasir
Sebelum mereka santap beramai hidangan surga itu:
Nasi pandan hijau, sup kuping merah, jerohan bayi 7 bulan
Mereka akan pulang sesudah puas menumpahkan sisa muntahan
Di gili-gili seram pulau cantik, pulau cantik yang menangis
Orang-orang yang sepertinya sulit berbahagia ini
(Kuduga sebagian bermata ganjil, sebagiannya bertanduk.
Tanduk keling yang menancap pada pelipisnya tipis memar):
Dengan apa kusapa, jika berpapasan kami di jalan pulang?
Tapi kudengar mereka memang tak bernama, tak paham silsilah
Tinggal tak betah di rumah-rumah yang berdiri miring
Di sepanjang pesisir gering, di mana tak ada cukup jendela melambai
Terbuka, dan jika maut mendatangi, mereka akan memanjati genting
Menuntaskan takdir dan kepalanya di sebelah utara
Menyerahkan tubuh pada selatan yang lebih berkabut dan biru
Kabut tebal pekat yang turun menaungi, menyembunyikan
Tuhan dan surga ungu, dalam selarik sajak miring
2011
Patung Penyair
Lihat penyair
itu
Demikian takzim ia
Berjam-jam
Demikian takzim ia
Berjam-jam
Merunduk duduk
Macam patung terkutuk
Ia berjuang keras
Teramat amat keras
Macam patung terkutuk
Ia berjuang keras
Teramat amat keras
Untuk sebuah kata
Demi sekilas kilat terang
Dalam gelap
Demi sekilas kilat terang
Dalam gelap
Guha bahasa
Yang
dimasukinya
Semula
Bagai tak sengaja
Bagai tak sengaja
Kini seakan
Permainan
Permainan
Meminta nyawanya
2009
Pelajaran Menulis
Puisi
: Frida Nathania
Puisi adalah
Keheningan dan secangkir kopi
Maksudku, kau harus
Mengaduk kisahmu, mengaduknya
Sabar lalu melebar, aduklah
Sampai merata serbuk sepinya
Kemudian reguklah tandas
Maksudku, kau harus menemukan
Liang luka pada ampas katanya
Pada dasar cangkir itu, pada
Dasar waktu, maksudku, pada
Pekat malam yang lembab mengendap
: Frida Nathania
Puisi adalah
Keheningan dan secangkir kopi
Maksudku, kau harus
Mengaduk kisahmu, mengaduknya
Sabar lalu melebar, aduklah
Sampai merata serbuk sepinya
Kemudian reguklah tandas
Maksudku, kau harus menemukan
Liang luka pada ampas katanya
Pada dasar cangkir itu, pada
Dasar waktu, maksudku, pada
Pekat malam yang lembab mengendap
2009
Jumat
Bagimu semua sudah lalu
Bagiku semua terasa baru
Hari Jumat selalu datang lagi
Jam tujuh pagi bom itu meledak lagi
Bagimu semua sudah usai
Bagiku semua baru saja mulai
Jumat pagi selalu kembali lagi
Suamiku yang mati kembali mati
2009
Permainan Akhir Nyonya Polgar
Jika kalian
Sidang pembaca budiman
Masih saja tak yakin
Pada kekuatan pikiran
Kami kaum perempuan
Dalam ini urusan
Memainkan bebiji bidak
Bacalah lebih cermat
Saya punya riwayat
Yang oleh penyair ini
Telah dicatat seperlunya
Agar bisalah kemudian
Ditarik kesimpulan
Sebagaimana mustinya
Judit Polgar namaku
Di Budapest negeri
Hungaria saya terlahir
Jika tuan tilik cermati
Tanggal lahir saya
23 Juli 1976, jelaslah
Dalam hitungan perbintangan
Cina kuna saya ini memanglah
Turunan bukan sembarang
Sebab darah naga
Mengalir deras
Pada sekujur saya
Dengan unsurnya api
Dalam kombinasi bulan
Sabit dan bebintang
Tuan boleh saja
Merasa geli dan tertawa
Membaca ini uraian ganjil
Tapi faktanya bukankah begitu
Tercatat cermat dalam lembar
Laman ensiklopedia?
Namun memanglah
Banyak lagi berjasa
Turut membesarkan saya
Selain urusan talenta
Ajaib warisan sorga itu
Dan Laszlo Polgar
Bapak saya si jenius
Mustilah saya sebutkan
Pertama sebelum lainnya
Keluarga saya tercinta
Utamanya merekalah
Telah menempa saya
Menyulap saya utuh
Jadi petarung tangguh
Silakan saja tuan periksa
Sebagai bukti nyata
Ini bukanlah sesumbar
Kosong semata
Daftar korban saya
Bukanlah sembarang
Pecundang pucat:
Veselin Topalov
Jago Bulgaria, Anand
Pesihir dari Madras
Kasparov si temberang
Pun si jejaring laba-laba
Karpov Anatoly
Dan jika tuan budiman
Jadi tergoda berpikir
Ini perempuan jelita
Teramat jumawa sungguh
Tak bisalah saya mungkiri
Seratus musim lamanya
Lelah saya mencari siapa
Kiranya sanggup
Menjinakkan bara
Panas dalam darahku
Hanyalah Gustav Fort
Lelaki biasa bukan
Petarung di atas petak
Melainkan di sekat kandang
Kerap ia bertandang
Sebab ialah dokter hewan
Mampu melakukannya
Sidang pembaca budiman
Masih saja tak yakin
Pada kekuatan pikiran
Kami kaum perempuan
Dalam ini urusan
Memainkan bebiji bidak
Bacalah lebih cermat
Saya punya riwayat
Yang oleh penyair ini
Telah dicatat seperlunya
Agar bisalah kemudian
Ditarik kesimpulan
Sebagaimana mustinya
Judit Polgar namaku
Di Budapest negeri
Hungaria saya terlahir
Jika tuan tilik cermati
Tanggal lahir saya
23 Juli 1976, jelaslah
Dalam hitungan perbintangan
Cina kuna saya ini memanglah
Turunan bukan sembarang
Sebab darah naga
Mengalir deras
Pada sekujur saya
Dengan unsurnya api
Dalam kombinasi bulan
Sabit dan bebintang
Tuan boleh saja
Merasa geli dan tertawa
Membaca ini uraian ganjil
Tapi faktanya bukankah begitu
Tercatat cermat dalam lembar
Laman ensiklopedia?
Namun memanglah
Banyak lagi berjasa
Turut membesarkan saya
Selain urusan talenta
Ajaib warisan sorga itu
Dan Laszlo Polgar
Bapak saya si jenius
Mustilah saya sebutkan
Pertama sebelum lainnya
Keluarga saya tercinta
Utamanya merekalah
Telah menempa saya
Menyulap saya utuh
Jadi petarung tangguh
Silakan saja tuan periksa
Sebagai bukti nyata
Ini bukanlah sesumbar
Kosong semata
Daftar korban saya
Bukanlah sembarang
Pecundang pucat:
Veselin Topalov
Jago Bulgaria, Anand
Pesihir dari Madras
Kasparov si temberang
Pun si jejaring laba-laba
Karpov Anatoly
Dan jika tuan budiman
Jadi tergoda berpikir
Ini perempuan jelita
Teramat jumawa sungguh
Tak bisalah saya mungkiri
Seratus musim lamanya
Lelah saya mencari siapa
Kiranya sanggup
Menjinakkan bara
Panas dalam darahku
Hanyalah Gustav Fort
Lelaki biasa bukan
Petarung di atas petak
Melainkan di sekat kandang
Kerap ia bertandang
Sebab ialah dokter hewan
Mampu melakukannya
Tandas sempurna
Untuknya semata
Pun Hana &
Oliver
Buah hati kami tersayang
Telah kurubuhkan dengan
Rela benteng dan rajaku
Demi kusempurnakan
Permainan akhir
Buah hati kami tersayang
Telah kurubuhkan dengan
Rela benteng dan rajaku
Demi kusempurnakan
Permainan akhir
2010
Sajak Juru Masak
: Ags. Arya Dipayana
: Ags. Arya Dipayana
Ia tunjukkan bagaimana
Juru masak bijak bekerja
Dengan bahan
Juru masak bijak bekerja
Dengan bahan
Seadanya tersedia di dapur
Sejumlah
bumbu
Yang didapat dari penjual sayur
Yang kebetulan saja lewat
Yang kebetulan saja lewat
Ia buktikan tak ada
Yang samasekali kebetulan:
Bumbu dan bahan
Diracik cermat
Agar tercipta rasa yang padu
Lezat atau nikmat
Di ujung kata
Bukanlah soal untung-untungan
Bukanlah soal untung-untungan
Tapi ia tunjukkan juga
Campuran yang seksama
Dalam kari waktu
Dalam kari waktu
Yang telah mendidih
Dengan karut-marut
Rindu dendam
Yang telah cukup pula
Yang telah cukup pula
Masam perihnya
Tak selamanya
Menghantar
Pada rasa yang dituju
Kadangkala
Bumbu dan bahan
Berselisih wajan atau takaran
Seperti nasib dan waktu
Merdeka
Seperti nasib dan waktu
Merdeka
Menukar jalan dan kisahnya
Ia ingatkan pula
Memang ada hal ihwal
Ia ingatkan pula
Memang ada hal ihwal
Yang boleh saja
Ditambahkan
Ditambahkan
Atau dikurangi
Demi tercapai campuran yang pas
Demi tercapai campuran yang pas
Utuh atau selaras
Dalam ungkapan
Memanglah juga soal permainan
2010
Memanglah juga soal permainan
2010
Dongeng
Tengah kita susun
Serupa dongeng
Dan tema sekenanya:
Kita telanjur memulainya
Nun di suatu tempat
(Mungkin dalam
Lubuk ingatan –
Kini melumut busuk)
Pada suatu saat yang luput
Pula kita catat dengan cermat
Pada almanak bumi
Lalu pada dua pertiga
Pengembaraan kisah
Ketika lakon jadi monoton
Dan sorga tak lagi memadai
Kita pun mulai tergoda
Menyisipkan selingan
Pada lembar-lembar
Boyak halamannya
Mengijinkan reptil culas itu
Ambil bagian
Dalam rancangan nasib
Sebelum bab penutup
Telanjur kita katupkan
Maka lelaki kembali memekik
Telanjang seraya
Dihelanya
Malam
Pada pundaknya retak
Dan perempuan jadi buas
Beringas
Menjilati sungut api
Pada dinding kelam
Yang lama juga
(Hanya, kita belum lagi tahu
Adakah tuhan
Bakal hadir juga
Pada halaman akhir
Yang nyinyir?)
2011
Tema Insomnia
: Aan Mansyur
Di hari tuanya
Tak banyak lagi urusan
Yang mengusiknya
Ia pun lebih banyak
Tinggal di rumah
Membaca
Di hari tuanya
Tak banyak lagi urusan
Yang mengusiknya
Ia pun lebih banyak
Tinggal di rumah
Membaca
Atau sesekali
Menerima
Kunjungan kata
(Beberapa patah kata)
Yang mengaku
Tak tahu lagi
Mesti pergi ke mana
Selain bertamu
Pada penyair
(Beberapa penyair)
Yang mengeluh
Suka tak bisa tidur
Menerima
Kunjungan kata
(Beberapa patah kata)
Yang mengaku
Tak tahu lagi
Mesti pergi ke mana
Selain bertamu
Pada penyair
(Beberapa penyair)
Yang mengeluh
Suka tak bisa tidur
2009
Alexander Alekhine Mengingat Mikhail Botvinnik
Selamat malam, tuan insinyur budiman
Saya yang rendah dan lata, Alexander Alekhine
Mengundang sengaja tuan ini malam
Sebab terusik sekonyong ingatan saya
Pada pertarungan seru antara kita dulu hari
Tuan pasti ingat, kota Nottingham, 1935 temponya
Tuan pecundangi lumat para perwiraku kala itu
Kini malam ini, dalam gerah pengap cuaca tropis
Dalam ini kamar sempit tak begitu nyaman
Dengan bebiji putih, saya tawarkan kembali
Pada tuan, langkah Sisilia, selaku pembuka pertemuan
Nah, apa kiranya jawaban tuan ini kali?
Dua kuda tuan majukan sekaligus, nyata
Tak pernah tuan remehkan aku, terima kasih
Sedikit saya jadi merasa tersanjung, tapi
Paham saya permainan akan jadi rapat
Sarat muslihat sebagaimana memang kita hasratkan
Sejak mula, lihat, dua bidak tuan bermental baja sungguh
Menyusur menembus gelap, sebuah bidak saya jadi korban
Pertama, menteri tuan, berbinar, mengincar pula sangar
Kudaku bersiaga pada sayap, namun mendadak ia mengisar
Menjauh, oh, menteri yang pintar, paham betul ia
Belum saatnya menerjang, maka saya tariklah pula
Sang kuda bergeser, berkawal dekat bebenteng di bukit
Barangkali lebih baik
Tapi tuan, tuan tak bisa lagi bersabar agaknya
Berseteru dengan waktu, dua kuda saya
Tumbang, begitu pun benteng di bukit-bukit itu
Tapi juga benteng tuan di garis depan, redam-remuk
Menyusul robohnya tiga perwira utama andalan
Menteri tuan (yang pintar) terbunuh oleh menteri saya
Sial tapi, bidak tuan cerdik menyudahi riwayatnya
Teramat lekas saya kira pertempuran ini berlangsung
Seperti di Nottingham, tuan, drama ini kembali berulang
Kini kita tinggal ditunggui para bidak setia tersisa
Enam pada saya, tujuh di pihak tuan, dan mendadak
Kulihat tuan sungguh hadir lagi atas petak-petak
Luas papan catur ini, menyudut, agak ke belakang
Legam. Berkilau. Menyusur. Merapat. Mengurung
Masih sebuah bidak saya mencoba berdaya
Lebih merupa laku bunuh diri putus asa, rasa saya
Dengar ia sesambat penghabisan kali, sedang saya
Yang rendah dan hina, terpana hanya pada senyap
Sekonyong ini medan jadi basah bersimbah
2010
Kisah Pulang
Mereka terus
membangun
Semakin banyak rumah dan gedung
Juga gudang, lorong-lorong dan guha
Rahasia, tapi tambah tak yakin
Musti pulang ke alamat yang mana
Setiap kali cuaca kembali memberat
Dan malam turun di alun-alun kota
Semakin banyak rumah dan gedung
Juga gudang, lorong-lorong dan guha
Rahasia, tapi tambah tak yakin
Musti pulang ke alamat yang mana
Setiap kali cuaca kembali memberat
Dan malam turun di alun-alun kota
Mereka teramat mendambakan
Kehangatan, barangkali sedikit
Sopan-santun bumi, sehabis jemu
Saling bunuh di jalan-jalan raya
Tapi yang mereka temukan hanyalah
Para leluhur sibuk mengutuki
Turunan sundal telanjur lahir
Dan kalau mereka cukup mujur
Bisa dicapainya batas halaman
Mereka tak akan bisa percaya pula
Bahwa rumah yang terkuak membuka
Pintunya, bukanlah perangkap serupa
Yang menggiring takdir buruk lain
Tapi mereka tak punya pilihan
Malam akan segera jadi sempurna
Membunuh sisa matahari di pohon-pohon
Dan kota akan semakin sulit dikenali
Jadi mereka buru-buru masuk
Mengunci pintu rapat-rapat
Merapal mantra penolak bala
Pada rapuh jalinan cuaca
Mereka sungguh tak punya pilihan
Selain belajar menjadi terbiasa
Dengan segala yang ada di sebalik pintu itu:
Barang dan perabot yang kerap salah tempat
Para lelaki yang gemar meludah ke udara
Perempuan-perempuan dengan tetek kelabu
Atau para bocah berparu legam kelam
Dengan punuk dan taring berkilat
Agar, setidaknya mereka punya alasan
Mengapa terus bertahan di liang busuk ini
Setidaknya punya tempat sembunyi, bukan?
Barangkali ini lumayan menghibur
Barangkali mereka akan bisa juga tertidur
Melewatkan malam sekali lagi
Dengan bulan separoh di langit-langit
Dengan kilau pisau di bawah bantal
Dan tuhan cemas berjaga di pojok ingatan?
2010
Dongeng Mudik 1
Jika kata-kata
ini dibolehkan mudik
Ke mana kiranya mereka bakal mudik?
Ke mana kiranya mereka bakal mudik?
Kukira mereka akan kembali
Ke mula bahasa, ke pangkal bunyi
Pulang ke desa Sumber Sunyi, menemui lagi
Sanak keluarganya masih imut-imut sepi
Di sana, bunyi masih belum bernama
Di sana, kata belum bermakna ganda
Mereka pun bersahut-sahutan tulus
Tangan dan tawa terulur mengelus
Menjamah luka perih dalam dan membara
Luka-luka yang didapat dari peperangan di kota
Maka, jika kata-kata ini dibolehkan pulang
Mudik, ke sumber mereka akan balik mengulang
2009
Jepun Bali
Sepulang nanti
ke kotamu
Ke rumah asalmu, bersama
Istri dan anak-anak tersayang
Janganlah terlalu lekas
Melupakan saya begitu saja
Ingatlah malam-malam putih
Yang kita seberangi bersama
Kuingat
Ke rumah asalmu, bersama
Istri dan anak-anak tersayang
Janganlah terlalu lekas
Melupakan saya begitu saja
Ingatlah malam-malam putih
Yang kita seberangi bersama
Kuingat
Kau tidur teramat pulas
Sehabis menuntas waktu
Yang lama terganjal rindu
Di atas lunak kasur dan temaram
Lelampu taman yang menyeret karam
Bumi
Sehabis menuntas waktu
Yang lama terganjal rindu
Di atas lunak kasur dan temaram
Lelampu taman yang menyeret karam
Bumi
Aku tak tega membangunkan
Kumatikan maka setelan alarm jam
Supaya kau bisa terus terpejam
Hingga menembus ambang
Kumatikan maka setelan alarm jam
Supaya kau bisa terus terpejam
Hingga menembus ambang
Paling kelam
Aku tahu, cepat
atau sebentar
Kau akan melupakan juga saya
Tenggelam dalam kebanalan kerja
Kau akan melupakan juga saya
Tenggelam dalam kebanalan kerja
Sehari-hari
Sepulang nanti
ke Jakarta
Dua jam kurang perjalanan dari sini
Dengan penerbangan yang biasa
Saya hanya berharap
Dua jam kurang perjalanan dari sini
Dengan penerbangan yang biasa
Saya hanya berharap
Semoga
Tak semua hal
tentang saya terlupa
Begitu saja, ingatlah misalnya lukisan
Kembang jepun di senyap dinding kamar:
Lukisan itu biasa & pasaran belaka kutahu
Begitu saja, ingatlah misalnya lukisan
Kembang jepun di senyap dinding kamar:
Lukisan itu biasa & pasaran belaka kutahu
Seperti katamu juga
Tapi bukan itu
soalnya
Soalnya pada gegurat garis dan warnanya
Kini telanjur terbawa kisah kita
Berdua, terpapar pada ini latarnya
Juga meja kecil
Soalnya pada gegurat garis dan warnanya
Kini telanjur terbawa kisah kita
Berdua, terpapar pada ini latarnya
Juga meja kecil
Di sebelah
ranjang
Di atasnya,
ketika itu kau letakkan sembarang:
Dompetmu, kaca mata, uang receh, kitab doa
Yang sengaja kau bawa dari rumah
Guna mengawal liburanmu pendek sayang
Dari kerumun roh dan jin tanah Bali
Yakinlah, pintu kamar ini
Terbuka kini senantiasa, guna kau masuki
Kembali kapan juga
Dompetmu, kaca mata, uang receh, kitab doa
Yang sengaja kau bawa dari rumah
Guna mengawal liburanmu pendek sayang
Dari kerumun roh dan jin tanah Bali
Yakinlah, pintu kamar ini
Terbuka kini senantiasa, guna kau masuki
Kembali kapan juga
Seakan kenangan tak rela surut
Tulislah sajak jika sempat
Tulislah sajak jika sempat
Sepulangmu
nanti
Agar cerita
kita awet tersimpan lama
Terlindung dari hembusan cuaca
Ekstrem belakangan ini
Terlindung dari hembusan cuaca
Ekstrem belakangan ini
2011
Tentang Ook Nugroho
Ook Nugroho lahir di Jakarta, 7
April 1960. Pernah bekerja di perusahaan asuransi sebelum memutuskan bekerja di
pabrik tekstil. Saat ini bermukim dan bekerja di Jakarta. Tahun 2002, sebuah
puisinya meraih SIH Award dari Jurnal Puisi. Sejumlah buku antologi pernah
memuat puisinya. Hantu Kata (2010)
adalah kumpulan puisinya yang pertama.
Catatan Lain
Buku ini, sebagaimana tertulis,
dipersembahkan kepada 3 orang, yaitu Sian,
Frida, Daniel. Jika biasanya di sampul belakang buku muncul komen-komen
dari sejawat, maka berbeda dengan buku ini. Hanya ada kutipan sajak “Langgam
Lama” dan biodata penyair, yang
sebenarnya sudah tertulis di halaman dalam buku. Dari empat bagian sajak, ada
satu yang memiliki keterangan tambahan, yaitu Jagal Jumat. Bunyinya seperti ini: “Jumat pagi, 19 Juli 2009,/bom mengguncang Hotel JW Marriot &
Ritz-Carlton di Mega/Kuningan, Jakarta. Sajak-sajak dalam kumpulan kecil
bertajuk/Jagal Jumat ini adalah
sejumlah respon puitik yang terletup/dari peristiwa itu” (lihat halaman
33).
Dan tentang
judul buku ini, sama sekali bukan diangkat dari salah satu judul puisi. Namun
dari salah satu baris dari sajak yang berjudul Remang (2009) di halaman 12. Ia ada di bait terakhir (dari
keseluruhan 3 bait) dan lengkapnya berbunyi seperti ini: “Yang datang padamu/Adalah lambang-lambang/Tanda-tanda yang bimbang/Yang
sebentar menghilang”
Bagian terakhir dari kumpulan ini, yaitu Lampiran: Pelajaran Dasar Bermain Bidak,
kalau dicermati, berisi puisi-puisi setema, yang mudah diamati secara awam,
yaitu tentang dunia Catur. Nah, terkait itu, saya menyukai dan mengcopas sebuah
puisi, juga seputar tema catur, yang tak ada di kumpulan Tanda-tanda yang Bimbang. Dan saya kira, ini saudaranya puisi Alexander Alekhine Mengingat Mikhail
Botvinnik – yang juga muncul di sini. Hehe. Oya, sebelum menutup bagian ini,
saya ingin memberi kesaksian, bahwa memang benar terjadi beberapa perubahan
kecil di sejumlah puisi yang ada di blog penyair sehingga berbeda dengan yang
muncul di bukunya. Nah, puisi-puisi yang muncul di sini, lebih berkiblat ke
buku.
Tafsir Ajal Doktor Alekhine
Bagai dalam lelakon apak Sherlock Holmes layaknya
Doktor Alexander Alekhine, yang ganas tipuannya
Licin lelangkah bidaknya konon tiada tanding pada masanya
Mati ditemukan iseng sendiri: 24 Maret 1946, pagi sekali
Kamar Hotel Estoril, Portugal, Ahad, adalah nama harinya
Dalam balutan kelabu mantelnya, serta sehampar kotak bidak
Anehnya, membuka persis sebelah kanan jasadnya tenang
Yang kata tuan Fransisco Lupi, jawara bidak negeri Portugal
Melayatnya terburu pada itu pagi sangat tak biasa, macam
Pohonan Oak besar baru saja rubuh tumbang, dan pada wajahnya
Hening agung, dalam, mustahil terselami, mengendap pula
Sepertinya segunung renung
Tafsir lelaku tuan Alekhine seputar muasal ajalnya
Lalu menyempit tanya sebab kemudian ditemukan daging bistik
Sekerat pada kerongkong menyumbat, dan sekeping daging lagi
Pada jemarinya tergenggam, hingga tersiar segera juga
Warta getir agak lucu tapi didengarnya, bahwa jawara bidak itu
(Ia warga Prancis tapi tumbuh lahir di bumi Rusia)
Yang garang tipu dayanya, licin lelangkahnya sungguh
Menyudahi lawan-lawannya, mati ngenes sedemikian sebab
Tersedak daging sepotong, hingga pipet jantungnya
Macet sekonyong begitu saja, sewaktu yang bersangkutan
Dalam itu kamar lengang kosong, duduk sendirian
Menghadapi santap malamnya
Tapi itu cumalah sebagian sahaja tafsir lelakon
Karena lain kisah menyebut bisa saja ia tewas ‘dikerjai’
Sebab bukankah, begitu sebagian orang mengurai duga
Dalam pilihan politiknya tuan Alekhine ini kabarnya
Menghamba sangat Sang Fuhrer (yang tatapannya dingin
Menyuluh kota-kota), tapi pada itu Sabtu malam nahas
Mengapa gerangan di Hotel Estoril, yang pastinya
Punya sekutu, ia memilih melepas penatnya?
Begitulah Doktor Alexander Alekhine, yang dari Rusia
Memilih hengkang, sebab orang-orang Bolsyewik jijik
Pada riwayat lamanya, yang ningrat memanglah
Pada lelangkah penghabisannya, sendirian ia di tanah asing
Mewariskan ini teka-teki, terus jadi bahan kajian tak pasti
Sebab jawabnya tentulah pada tuan Alekhine sendiri
Kekal didekapnya mati
Doktor Alexander Alekhine, yang ganas tipuannya
Licin lelangkah bidaknya konon tiada tanding pada masanya
Mati ditemukan iseng sendiri: 24 Maret 1946, pagi sekali
Kamar Hotel Estoril, Portugal, Ahad, adalah nama harinya
Dalam balutan kelabu mantelnya, serta sehampar kotak bidak
Anehnya, membuka persis sebelah kanan jasadnya tenang
Yang kata tuan Fransisco Lupi, jawara bidak negeri Portugal
Melayatnya terburu pada itu pagi sangat tak biasa, macam
Pohonan Oak besar baru saja rubuh tumbang, dan pada wajahnya
Hening agung, dalam, mustahil terselami, mengendap pula
Sepertinya segunung renung
Tafsir lelaku tuan Alekhine seputar muasal ajalnya
Lalu menyempit tanya sebab kemudian ditemukan daging bistik
Sekerat pada kerongkong menyumbat, dan sekeping daging lagi
Pada jemarinya tergenggam, hingga tersiar segera juga
Warta getir agak lucu tapi didengarnya, bahwa jawara bidak itu
(Ia warga Prancis tapi tumbuh lahir di bumi Rusia)
Yang garang tipu dayanya, licin lelangkahnya sungguh
Menyudahi lawan-lawannya, mati ngenes sedemikian sebab
Tersedak daging sepotong, hingga pipet jantungnya
Macet sekonyong begitu saja, sewaktu yang bersangkutan
Dalam itu kamar lengang kosong, duduk sendirian
Menghadapi santap malamnya
Tapi itu cumalah sebagian sahaja tafsir lelakon
Karena lain kisah menyebut bisa saja ia tewas ‘dikerjai’
Sebab bukankah, begitu sebagian orang mengurai duga
Dalam pilihan politiknya tuan Alekhine ini kabarnya
Menghamba sangat Sang Fuhrer (yang tatapannya dingin
Menyuluh kota-kota), tapi pada itu Sabtu malam nahas
Mengapa gerangan di Hotel Estoril, yang pastinya
Punya sekutu, ia memilih melepas penatnya?
Begitulah Doktor Alexander Alekhine, yang dari Rusia
Memilih hengkang, sebab orang-orang Bolsyewik jijik
Pada riwayat lamanya, yang ningrat memanglah
Pada lelangkah penghabisannya, sendirian ia di tanah asing
Mewariskan ini teka-teki, terus jadi bahan kajian tak pasti
Sebab jawabnya tentulah pada tuan Alekhine sendiri
Kekal didekapnya mati
Nice Tulisannya gan Muda Mudi Gambar
BalasHapusPuisi Mimpi