Data
buku kumpulan puisi
Judul : Rumah Hujan
Penulis
: Budy Utamy
Cetakan : I, Maret 2008
Penerbit : Frame Publising, Bantul-Yogyakarta.
Bekerjasama dengan Komunitas Paragraf
dan
Yayasan Sagang Pekanbaru
Tebal : xxiv + 101 halaman (49 puisi)
ISBN : 978-979-168491-x
Editor : Hary B Kori’un
Supervisi : Raudal Tanjung Banua
Desain Sampul : tinkerbell graphics
(Bandung)
Desain Isi : Adi Rajin
Pra-Cetak : Nur Wahida Idris
Pengantar : Hasan Junus
Beberapa
pilihan puisi Budy Utamy dalam Rumah
Hujan
Tanah Tak Bersurga
tanah ini nak, tak separuh umurmu
hitamnya tak menyimpan humus
cuma buangan mimpi yang pernah melewati
pekarangan kita
konon kabut turun, ketika kau lahir
surga telah tiba, mak, ratap bapakmu
lalu kenapa bertahun setelahnya kita masih mengais
daki sejarah
dilumat mampus oleh ketakutan
yang di dalamnya kita harus permisi sekedar
menumpang nafas
surga tak pernah sampai di tanah ini
kecipak air terserap kerak kemarau
mulut-mulut yang ditemani tarian lalat dan belatung
menunggu hari disentak kelam yang tiba-tiba
kecup tanah ini, nak
mungkin esok berganti beton dingin yang angkuh
mungkin esok berganti beton dingin yang angkuh
dan bunga rumput tak mampu menelusur mimpimu lagi
hangus bersama terik bakau yang terbakar di pipa-pipa
raga kita
seperti tanah ini,
tak bersurga, yang kelak tinggal nama
Pekanbaru, 19 September 2006
Gazal Cinta
pada sebuah paragraf,
ada cinta kutitipkan, dalam perjalanan yang selalu
membuatku menunggu
harap yang hinggap mungkin sekedar tempat bertanya
ke mana?
dan dunia meriak dalam gerak, melantunkan mimpi,
berkali-kali
hentak, menghentak mempermainkan langkah
mabuk
membiarkan gelang-gelang bercerita
menggemerincingkan sunyi, dan kepolosan dunia
terjaga dalam lafaz demi lafaz yang kucoba hafalkan, dan gagal
tergagap dalam ceruk senyum, membuai
jangan pergi,
kisah belum lagi usai, usah pesonanya membungkam,
teriakkan saja cintamu padaku,
lalu biarkan detik menyimpan kenangan, untuk tiba saat berbagi
bersama jiwa-jiwa murni
di ambang petang, kita tak lagi
perlu ribu-ribu kata,
ikrar merambat dalam genggaman memutihkan penantian
dan gazal cinta kumainkan sekali lagi.
sepenuh hati.
Pekanbaru, 29 Juli 2005





