Data
buku kumpulan puisi
Judul : Nyanyian Seruling dan Jalan
Tasawuf
Penulis
: Jalaluddin Rumi
Cetakan : IV, November 2014
Penerbit : Sega Arsy, Bandung.
Tebal : 208 halaman (109 puisi)
ISBN : 979-6028365-1-9
Desain sampul : Sekar Langit
Tata letak : T. Sedringo
Beberapa
pilihan puisi Jalaluddin Rumi dalam Nyanyian Seruling dan Jalan Tasawuf
MENYATU DALAM CINTA
Berpisah dari Layla, Majnun jatuh sakit.
Badan semakin lemah, sementara suhu badan semakin tinggi.
Para tabib menyarankan bedah, “Sebagian darah dia
harus dikeluarkan, sehingga suhu badan menurun.”
Majnun menolak, “Jangan, jangan melakukan bedah
terhadap saya.”
Para tabib pun bingung, “Kamu takut? Padahal selama ini
kamu masuk-keluar hutan seorang diri.
Tidak takut menjadi mangsa macan, tuyul atau binatang
buas lainnya. Lalu kenapa takut sama pisau bedah?”
“Tidak, bukan pisau bedah itu yang kutakuti,” jawab
Majnun. “Lalu, apa yang kau takuti?”
“Jangan-jangan pisau bedah itu menyakiti Layla.”
“Menyakiti Layla? Mana bisa? Yang dibedah badanmu.”
“Justru itu. Layla berada di dalam setiap bagian tubuhku.
Mereka yang berjiwa cerah tak akan melihat perbedaan
antara aku dan Layla.”
KEMBALI PADA TUHAN
Jika engkau belum mempunyai ilmu, hanyalah prasangka,
maka milikilah prasangka yang baik tentang
Tuhan. Begitulah caranya!
Jika engkau hanya mampu merangkak,
maka merangkaklah kepadaNya!Jika engkau belum
mampu berdoa dengan khusyuk,
maka tetaplah persembahkan doamu
yang kering, munafik dan tanpa keyakinan;
kerana Tuhan, dengan rahmatNya
akan tetap menerima mata wang palsumu!Jika engkau
masih mempunyai
seratus keraguan mengenai Tuhan,
maka kurangilah menjadi Sembilan puluh Sembilan
saja. Begitulah caranya!Wahai pejalan!
Biarpun telah seratus kali engkau ingkar janji,
ayuhlah datang, dan datanglah lagi!Kerana Tuhan telah
berfirman:
“Ketika engkau melambung ke angkasa
ataupun terpuruk ke dalam jurang,
ingatlah kepadaKu, kerana Akulah jalan itu.”



