Senin, 08 Mei 2017

Andy Sri Wahyudi: IBU, AKU MINTA DIBELIKAN MUSHOLA


Data buku kumpulan puisi

Judul : Ibu, Aku Minta Dibelikan Mushola
Penulis : Andy Sri Wahyudi
Penerbit : Garudhawaca, Yogyakarta
Cetakan : I, 2012
Tebal : xviii + 85 halaman (57 puisi)
ISBN : 978-979-18632-5-4
Lay out dan cover : Jalu Sentanu
Ilustrasi foto patung : Sugeng Pribadi
Ilustrasi komik : Asita
Gambar sampul: etsystatic.com
Prolog : Mutia Sukma

Beberapa pilihan puisi Andy Sri Wahyudi dalam Ibu, Aku Minta Dibelikan Mushola

Tepat Tengah Malam di Masa Remaja

Suara ringkikan kuda di atap rumah membuat
tubuh ibu meriang
Bayi tetanggaku menangis tiada henti
Dan masih terdengar suara kepala pecah di
teras rumah
Ayah pulang dari mabuk-mabukan, lantas
muntah darah
Jendela kamarku membuka dan menutup
sendiri
Di gang sebelah rumah terdengar suara pedang
diseret
Anjing-anjing yang menyalak-nyalak, mati tiba-
tiba.

Aku sedang menulis puisi cinta…

2006


Joko Kepada Endang Lestari

Apa yang tengah kau risaukan adindaku?
Berabad t’lah kupahat relief romantika pada
tubuh perjalanan
Dan kita sepakati setia mengaliri kehidupan
Biarpun mesin-mesin telah menjelajah tlatah
tanah kita!
Hanya satu hal yang kukhawatirkan
Jika sampai waktunya aku dan kamu hanya
menunduk
Lalu mengucap: baik tuanku…

Tidak adinda!
Sejengkal tanah masih dapat kita olah!

2005



Buat Kirdjomulyo yang Mendongengkanku

Entah kan kau bawa kemana-ku
Saat larut pada romansa perjalananmu
Lelap antara waktu, simbol-simbol, elegi
Dan lukisan potret diri
Pada lorca-mu kudiam menetes
Di perjalanan pulang-mu kuterpejam
Di jalan ubud-mu kutengadah menatap jalan ke
besole-mu

Kau merindu saat juni purnama melambai
serupa cinta,
Menyusuri tanah pualam menggali kalimat dan
kisah-kisah
Sementara senyap menembus coretan pada
kanvasmu.
Pada guratan wajah hartatimu
Kuberjalan menyusuri lekuk lipatan hidup.

Padamu kutaruh cemburu

Jogja, 2003-2004


Bulan Madu Ilegal
: Maria

Sepucuk bunga merah, semerbak wangi
purba
Menginterogasi dini hari
Lalu orkestra keleneng berdentangan
Tak ada partitur, hanya not-not balok
berterbangan riuh
Malam mekar di bibir yang mawar
Berjingkat menelusupi tubuh pagi
Burung-burung berkicau tentang cinta biru api
yang bergegas pergi!

Kartasura, 2004


Puisi Religi

malam bergentayangan
memburu ayat-ayat tuhan
mencari hening pada lipatan
ruh kalimat.
tak terkata.
seonggok hati biru tua
mendekam di tong sampah
sepicing mata mengintai
sendirian
lenyap!
pertarungan kelabu
menghunus tubuh dini hari
mendekap detakan subuh
meresapi perkabungan sepi

Malam Ramadan, 2004


First Love
:Arcaya Mani Kotama

Suatu sore seusai hujan
Aku bermain-main lincah dengan nomor
teleponmu
Lalu kita bercakap-cakap tentang yang indah
meski terlupakan
Mmm…
Perlahan-lahan kucium gagang telepon itu.

2002


Pacaran
: Inyong

Kau tanyakan padaku
Saat di langit ada bulan dan bintang
Bersandingan:
mereka sedang ngubrulin apa ya?

2001


Kenang-kenangan

Pernah, ketika siang
Ku menyapamu di sebuah kedai kecil
Tempat biasa ku melepas rasa lelahku
Kau tersenyum sambil berlalu setelah itu
Senyummu terbang tertiup angin ke arahku
Bergegas kutangkap dan ku bawa lari ke
fotocopy

Terima kasih,
Kulaminating senyummu menjadi hiasan
dompetku

Jogja 2002


Setengah Abad Ibu

Setengah abad ibu berdandan di kamar mandi,
menggambari wajahnya dengan embun dan
hujan. Membayangkan shinta, drupadi, dan
nawang wulan meludahi kesetiaan. Tak ada
bunga tumbuh di kepala kecuali melati coklat
kering temangsang di pelipisnya.
Pernak-pernik cerita menguap di bibir berpoles
gincu warna besi tua, matanya khusyuk
menatap waktu.
Ia tak lagi ingin cantik, tubuhnya tak lagi ingin
wangi, diam membiarkan lelaki jumpalitan
menjelma api membakari cerita paginya yang
selalu gagal ia padamkan dengan air mata.
Setengah abad ibu berdandan di kamar mandi
menggambari wajahnya dengan embun dan
hujan. Membayangkan shinta, drupadi, dan
nawang wulan meludahi kesetiaan.
Setengah abad sudah ibu!

Jogja, 2006


Di Atas Trotoar

Anjing!
Sepi terlalu ramai diriuh jahanam senyummu

Aku lelaki kecil, datang membawa gerimis
Hendak memelukmu sekilat petir saja

Baiklah, kan kubuatkan perahu-perahu kecil
Dan kulabuh pada sungai tubuhmu petang ini
Biarkan ia menyusuri malam dan
Membakar ingatan-ingatan!

Jogja, 2007


Buat Pemahat Arca Gapura Kota
: Cak Klemin

Orang-orang sedang memahat batu-batu
Aku dari kota frustasi, berbaju lusuh
Ingin berendam air belerang dan mencari
oksigen
Tapi sudah tiga hari matahari masuk angin
Wajah dan bibirnya pucat, mungkin ia
kedinginan.
(habis kotamu dingin banget sih..)
Kotamu sejuk mirip wajah ganesha
Karena berasal dari sayur mayur dan apel hijau
Sore itu, ada yang melukis tanah
Lalu mewarnanya dengan air sungai
Tapi rumah-rumah telah berubah serangga
Meracau mengusik bukit-bukit
Ada gerimis dari keringat kota
yang tengah membaca dan terjaga
Aku bingung sekarang pukul berapa?
Aku kehilangan rumah dan garis tangan
Orang-orang masih memahat batu-batu
Mencari sejarahnya yang terpendam terlalulama
Dan tubuhku sudah berubah arca gapura
Gerimis demi gerimis menembusi tubuhku
Orang-orang masih memahati batu-batu
Mencari sejarahnya yang terpendam.
Terlalu lama, dan masih terjaga.

Malang, 2007


Indonesia dan Pemilu

i
Poster-poster calon presiden dan wakil
presiden terlindas andong
Sepeda jengki, truk, kobutri,becak,honda cb,
yamaha 75
Dan belepotan berak kuda
Titik

ii
Sedari pagi subuh sampai sore hari, seorang ibu
penjual sayuran naik sepeda keluar masuk
kampung melewati puluhan tempat
pemungutan suara atau TPS
Tanda tanya

iii
Ada jutaan perang batin dalam kotak-kotak lucu
itu
Tanda seru

iv
Aku lebih suka ngamar dengan pacarku
daripada masuk bilik-bilik aneh itu, kata
tetangga perempuanku yang sudah tumbuh
dewasa

2003-2004


Malam Belum Selesai
: Ikun sk

Malam belum selesai
Karena aku masih ingin membuatkanmu
semangkuk mimpi
Dari kalimat dan bahasa yang kususun malu-
malu
Dalam sepiring nasi dan segelas jeruk hangat
Mimpi yang mengisahkan cuaca dan bara api
Yang membuatmu enggan beranjak dari tikar
Tempat tertawa, menghapus luka
Dan menggambar peristiwa

Malam belum selesai
Karena masih ada fragmen percakapan terselip
di matamu
Yang ingin kumengerti meski masih berupa
basa-basi
maka, berceritalah sesukamu:
Tentang gerimis; tentang matahari; tentang
perang Vietnam;
Putri cinderela; agresi militer belanda; boneka
si unyil; tragedi 65;
Generasi mtv; antrian bbm atau anak ayam
tetangga yang mati pagi tadi,
Atau barangkali cinta;)

Malam belum selesai
Karena masih ada gelisah yang kutunggu dari
gerak tanganmu
Dari tawa dan senyum tak berarah.
Dari helai-helai rambutmu dari bau nafasmu
Ah,jangan terlalu rapi kau menyimpannya,
Aku takut jika suatu saat berantakan dan rusak,
Sebab malam ini kita akan membacanya di
bawah lampu jalanan
Membaca tanpa mata-mata.

Inilah tempat pernyataan dan pertanyaan
tumbuh satu persatu
Tempat segalanya bertebaran di atas trotoar
Mungkin terlalu banyak hingga berlembar-
lembar, tercecer
menyusuri malam, yang akan menghantarmu
pulang nanti.
Pulang bersama mimpi setengah jadi, yang kan
kau lengkapi
Dengan caramu sendiri.

Malam belum selesai.
Jangan terlalu tergesa beranjak darinya
Sebab ia akan beranjak dewasa dan terus kau
baca

Malam belum selesai…

Gondomanan, Desember, 2007


Membuat Rumah Baru
: Afrizal

Kali ini takada puisi, novel, cerpen, pidio at atau
pernak-pernik seni
Buang saja jauh-jauh agar dunia berubah cerah
Beberapa menit, tubuhmu berubah rumah baru,
lengkap dengan seperangkat instalasi listrik,
saluran air dan perkakas dapur.
Hei, tubuhmu berasap! Tapi tak terbakar, malah
tersenyum geli
Baru saja kulihat hidup. Katamu.

Seharian kamu jalan-jalan, belanja, dan jadi
tukang batu

Kali ini tak ada puisi, novel, cerpen, pidio at atau
pernak-pernik seni
Larung ke selokan biar hidup jadi indah
Tubuhmu berasap lagi! Tapi tak kepanasan
malah tertawa renyah
Aneh, tak ada keringat atau semacam lelah
di matamu
Hanya berjalan saja sambil berhitung hampir
seperti linglung

Malam sedang merencanakan pesta siaga dan
belajar ekonomi
Di luar, suara aliran sungai mengusung pasukan
lampor nyai roro kidul
Hanya secangkir kopi dan selang seling anggota
ekosistem sawah

Kali ini tak ada puisi, novel, cerpen, pidio at atau
pernak-pernik seni
Sebar saja dari pesawat terbang, biar
percakapan jadi riang gembira
Waduh asapmu keluar lagi dari tubuhmu
Tapi asap itu malah terpingkal-pingkal
merambat keluar
Pesiar bersama pasukan lampor nyai roro kidul
Sebagian menjadi insomnia dan beberapa
bersiul-siul usil
Malam itu langit berhamburan bintang
berkelap-kelip indah
Seperti ada pesta pora di atas sana.

Pagi telah datang, warna emas matahari
menjubahi bumi
Beberapa bulan kemudian kamu sudah punya
rumah baru
Ada hoby baru: menyapu di belakang rumah
lalu membakar sampah,
Asapnya terbang kemana-mana dan suka
tersenyum sendiri.

Ya, kemana-mana tersenyum sendiri!

2006


Ibu, Aku Minta Dibelikan Mushola

Sewaktu kecil aku rajin mengaji. 3x seminggu,
Ustadzah emi datang ke rumahku
setiap malam sehabis mahgrib. Belajar baca iqro
membuatku susah tidur.
“Bu…aku takut dengan huruf arab,” keluhku
sehabis mengaji
“Huruf arab kan bukan hantu?” dengan sabar
ibu menjawab
“tapi bentuknya runcing-runcing mirip pisau
belati”
Ibu tersenyum sambil membelai rambutku
“Kalau aku salah baca, si huruf ta dan ya
menertawaiku,” sambungku
“Ah, kamu ada-ada saja.” Ibu mengusap pipiku
“Benar Bu, giginya juga tajam mengerikan, aku
takut Bu.” Langsung kusembunyikan mukaku di
bawah ketiak ibu sampai pagi tiba
Di sekolah, bu nanik guru sd-ku membimbingku
berdoa bapa kami,
Aku percaya, dan salam maria.
Saat semua murid menunduk dan memejamkan
mata, aku berjoget kecil ala cris-cros, penyanyi
rap idolaku waktu itu, seirama dengan doa.
Kadang aku takut kalau patung ibu maria dan
bapa kami yang berdarah itu melirikku.

Di bawah asuhan ustadzah emi dan bu nanik,
aku sudah bisa membaca surat al fatihah dan al
ikhlas sekaligus doa bapa kami dan salam
maria. Tuhan yang maha esa pasti bangga
mendengarnya. Aku senang berangkat sholat
isya bersama ibu, karena aku selalu di belikan
permen sugus. Aku juga senang berdoa bapa
kami di depan bu nanik, karena dia pasti
tersenyum dan kelihatan cantik.
“Sayang…, kalau mau sholat, wudhu dulu biar
bersih dan suci,” jelas ibu
“Nggak ah bu, aku takut masuk angin, wudhunya
besok aja pakai air hangat.”
Aku sholat di samping ibuku dan suka berlama-
lama saat adegan sujud bersama.

Suatu hari di bulan puasa, aku menangis
meronta-ronta minta dibelikan mushola agar
bisa sholat sendiri tanpa diawasi panitia
tarawih yang galak, sok idih dan suka pacaran.
“Bu, belikan aku mushola,” rengekku setiap
menjelang tidur.

Tak terasa sudah 25 tahun, aku sudah
lupa mushola dan ibu semakin tua tapi ia masih
rajin sembahyang di mushola. Katanya aku
pemuda ketinggalan jaman, tidak tahu
perkembangan agama. Oke, aku ikut ibu
sembahyang. Tumben ia tak mengenakan rukuh
dan mukena coklat mudanya. Ibu berjalan riang
gembira dengan urai rambut keperakan-nya.
Ibuku tuh meski sudah tua lincahnyabuju bushet
dah.   

10 menit kemudian, kami sudah sampai di
mushola.
Ooh…aku merasa kaku, kikuk, serba salah
dan wagu saat ibu mengajariku menari,
membuat prakarya, dan puisi di mushola.
Sempat juga ia berdendang lagu dari sabang
sampai merauke dan garuda pancasila.
“Sori kali ini tak ada permen sugus buatmu
sayang….bertahun-tahun ibu menabung, dan
besok pagi kita ke supermarket beli mushola!”
Katanya sambil asyik menari.

Semoga hari-harimu indah dan menyenangkan
ibuku….

Jogjakarta, 2006


Di Tepi Sungai
: Jun

Di tepi sungai itu kita kehilangan nama
Karena jejak cinta telah beruban
Tak ada yang melintas kecuali suara serangga
Dan cuaca seperti menyulam lelah yang singgah
Pada setiap paragraf pertemuan.

Di atas batu-batu sungai, kita pernah bercerita
Tentang sayap burung yang patah sebelah
Dan sepasang ikan yang mati dalam akuarium
Cerita yang enggan menjadi tragedi dan terus
Mencari sunyi.

Sungai masih mengusung sampah dan busa-busa
Seperti catatan yang lupa tanda baca, seperti larimu
Dalam kabut sore yang tak lagi kau kenali.

Sudah berbulan tak juga ada yang datang
Masing tentang perbincangan batu-batu
dan malam abu-abu yang terus meracau,
yang malas kita tinggalkan.
Di tepi sungai itu gerimis mulai datang
Dan menutup buku harian.

Februari 2008


TentangAndy Sri Wahyudi
Andy Sri Wahyudi, atau biasa dipanggil Andy SW, lahir di kampung Mijen, Minggiran, Jogjakarta pada 13 Desember 1980. Bekerja di sanggar bengkel Mime Theatre sebagai sutradara, aktor dan penulis naskah.


Catatan Lain
Biodata penulis ada di halaman 85 dan di sampul belakang buku. Halaman epilog berisi komentar rekan-rekannya (hlm 75-84), yaitu dari Sony Wibisono, Chandar Iswinarno, Satmoko Budi Santoso, Bagus Dwi Danto, Indrian Koto, Afrizal Malna, Firdaus Firmanto, dan Marwan Er.
            Sehabis ucapan terima kasih, sebelum prolog dari Mutia Sukma, ada satu halaman berisi kata-kata ini (hlm. vi):

dhis, al

rumah sejarah kita telah
meleleh dijilati anjing-
anjing

kita sudah tak punya
tetangga lagi. tinggal
kuburan yang harus kita
cintai

dengan tawa dan
keringat!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar