Data buku kumpulan puisi
Judul: Sepasang Bibir di Dalam Cangkir
Penulis: Kurniawan
Junaedhie
Penerbit: Kosa Kata Kita, Jakarta.
Cetakan: I, Februari 2011
Tebal: vi + 42 halaman (36 puisi)
ISBN: 978-6028966-177
Setting/layout: Danar Satria
Kinantan
Desain sampul: Azalika Avilla
Adinda
Proofreader:
Betsyiela Bebi Bianca
Beberapa pilihan puisi Kurniawan Junaedhie dalam Sepasang
Bibir di Dalam Cangkir
IKLAN KULKAS
Hidup dalam kulkas,
menyegarkan.
Persis seperti
bunyi
iklannya:
to be cool. Aku
bisa bercengkerama bersama daging,
ikan segar,
buah segar,
sirup, dan
telur ayam.
Sementara di
luar kulkas,
hidup sangat busuk.
Suhu yang panas
menjungkirbalikan kata-kata dan benda. Gosip jadi meja,
malu jadi lidah,
lalat jadi pisau,
pispot jadi bibir,
Kau jadi
miauww. Orang
saling menggergaji dengan kaki dengan
tombak.
Lidah berjuntai-juntai, dengan
pinggirannya yang
tajam di mal,
atau di
kafe. Padahal
hidup di dalam kulkas,
menyenangkan.
Kita tak perlu mandi,
atau berkumur.
Hidup
jadi beku.
Keindahan jadi abadi.
Tak ada yang tumbuh liar.
Kita tak perlu bercukur kumis atau jembut. Aku bisa bikin
pesta sendiri bersama daging, ikan segar, buah
segar, sirup,
dan telur ayam.
Pesta kebun?
Yups, yummy, kataku, seperti
iklan kulkas
2010
BUKAN SAMBAL TERAKHIR PERSEMBAHAN ISTRI
Adik makan rendang di depan komputer. Kakak
main boneka
di dalam
kamar. Di
dapur, istri
bikin sambal kesayangan
untuk Ayah tercinta.
Ini sambal terakhir yang
kupersembahkan bagimu, kata istri di dalam hati sambil
mengulek terasi.
Ayah terus mengetik.
Ia sedang asyik
membuat puisi.
Ketika tiba di bait terakhir, Ayah
mengernyitkan
dahi, ”Aku
mencium harum terasi dalam
sajakku,”
serunya.
Beberapa meter dari situ, istri juga
terperanyak.
”Puisi cinta siapa ini di dalam sambalku?’’
tanyanya.
Tapi keributan itu tersimpan dalam plafon. Di
depan komputer, di
dalam piring rendang,
adik terus
memainkan sendok dan garpunya. Bersama boneka kakak
menyanyi di dalam kamarnya. Ini bukan sambal terakhir yang
kupersembahkan bagimu, kata istri sambil membaca puisi.
2-2-2011