Senin, 01 Desember 2014

H.E. Benyamine: POHON TANPA HUTAN




 
 Data Buku Kumpulan Puisi

Judul : Pohon tanpa Hutan
Penulis : H.E. Benyamine
Penerbit : Tahura Media, Banjarmasin
Cetakan : I, 2014
Tebal : x + 136 halaman (118 puisi)
Editor : Hajriansyah
Desain sampul & layout : Ibnu Teguh W
Foto sampul : Asnadia Nasrun Thaher

Pohon tanpa Hutan terdiri atas 5 bagian, yaitu Dikepung Kehilangan Harapan (15 puisi), Bulan Seribu Bulan (31 puisi), Kekasih (24 puisi), Perjalanan (33 puisi), dan Hutan, Hujan dan Bencana (15 puisi)
 
Beberapa pilihan puisi H.E. Benyamine dalam Pohon tanpa Hutan



Rindu yang Kumau

Rindu yang kumau tak berujung
hingga waktu menyerah bersamaku

Sejak kau tanam dirimu di hatiku
teramat bebas kerinduan menjadi

Banjarbaru, 19 Agustus 2011




Anugerah Warna

Warna ungkap penampakan berbeda
hanya melukis saat cahaya ada
selebihnya kita adalah buta
hanya keyakinan menuntun jiwa
menuju adanya yang Maha Terang

Dalam gelap hilang yang berbeda
dimana kita hanya satu yang terikat
sama dalam harapan
rasakan anugerah perbedaan
membiarkan yang lain memilih warnanya

Banjarbaru, 9 Maret 2009


Gambut

Air berdaulat dalam kubangan
Menggenang membangun hutan
Keragaman yang memikat
Menyerap dan menyimpan karbon

Kerapuhan yang penuh warna
Hancur untuk tidak kembali

Banjarbaru, 1 Mei 2003



Nantikan Kasih Sayang

Tunggu tanggalnya

akan kucurahkan habis
segala rasa yang bertumpuk
kasih sayang yang membukit

Biarlah bara rindu mendebu

bertebaran menyambut angin
teguh nanti saatnya tiba
jamuan cinta yang seragam

Ingatlah tanggalnya!

karena aku ada hanya saat itu
dengan beban kasih sayang tertahan
saat lainnya sibuk membudak

Banjarbaru, 9 Februari 2009


Menulislah Saat Kau Ada

Jangan membaca puisi cinta, saat engkau menulis rasa gumpalan cinta
rindu menggunung

Jangan bertanya kepada penyair cinta, saat engkau sedang menulis betapa
 ingin hatimu mendengar semerbak wangi kabar

Jangan berhenti berharap cinta, saat engkau sudah menulis ungkapan jiwa
merindu membiru menabrak seribu halangan

Jangan tunjukkan ketegaran meramu senyum, saat engkau mulai menulis
kerapuhan diri dalam kebimbangan gejolak batin merayu sahdu

Jangan mengeluh atas dirimu, saat engkau mau menulis kepaduan diri
biarpun berlinang membasah betapa kuat dorongan memendam rindu

Jangan malu senandungkan puisi cinta, saat engkau menulis rangkaian
kata yang terbatas.

Jangan serius menatap matahari, saat engkau telah menulis bertahta
matahari dalam diri.

Jangan bosan merangkai makna penantian, saat engkau baru menulis
tunggak keberanian menjemput rindu

Jangan tidak menulis, saat kekasih merindu lautan tinta menulis sekuntum
bunga bercahaya kata.

Menulislah, saat kau ada.

Banjarbaru, 25 Desember 2008


Banjir Banjar

Seribu sungai sudah ditelan seribu lupa
Bayangan seribu sungai masih melintasi malam yang pekat
Senandung aliran masih terdengar di akhir malam
Bayangan yang bersenandung tentang seribu kelupaan

Banjir ratakan permukaan
Buangan mengikuti arus
Berarak dalam barisan aliran
Berpadu menatap muara

Seribu sungai menggandeng hikayat
Senandung banjir bandang membayang
Hikayat aliran yang menyempit
Hilang tertimbun sampah

Seribu sungai menjadi telaga maut
Pekat menghitam gelapkan mata
Menyisakan seribu ratapan
Mengalir ditelan waktu

Banjarbaru, 29 Desember 2007


Pohon Tanpa Hutan

Kebuasan masih meraja rela
Hukum rimba yang masih ada
Yang lemah yang kalah
Ketidakberdayaan menjiwai pasrah

Hutan belantara yang mana tersisa
Hingga manusia menjadi serigala bagi sesama
Yang kecil yang tersingkir
Kemiskinan mengelilingi yang kikir

Hutan hanyalah kenangan
Pohon tumbuh tanpa hutan
Yang miskin yang bersabar
Kebiadaban tetap subur

Bencana berencana
Melahap semua
Yang dhuafa yang berqurban
Kebodohan yang memisahkan pohon dari hutan

Banjarbaru, 12 Februari 2003


Sungai Minta Mati

Aliran tersumbat berdarah darah
Mengalir terseret aniaya
Hilir meranggas hulu luka bernanah
Menjalar tanpa arah menarik yang tak berdaya

Oh! Mimpi buruk sungai sekarat hampir tenggelam
Bangunlah! Sungai berdarah-darah memohon mati
Tak tahan mendendam memikul kelam
Minta mati! Hingga terkubur tak berarti

Banjarbaru, 10 januari 2009


Tabir Mana yang Kau Singkap

Ketika malam memilih sendiri
tabir mana yang kau singkap
sedang mentari teramat setia menanti
sembunyi hingga gelap menemukannya.

Langit terbelah bagai lintasan Musa
Lalu cahaya menembus jiwa-jiwa yang tenang
sedang kau sibuk mencari hatimu
terpana menggenggam suluh yang padam.

Banjarbaru, 18 Agustus 2011  


Malam Berbisik Ajak Terjaga

Terasa mendekat masa penantian mengembara
tangan ku erat memegang bilangan tersisa
biar kerinduan hapus jarak dan ruang; membanjiri hati
keharuan sunyi kehilangan tempat sembunyi

Malam berbisik ajak terjaga
susuri detak kebahagiaan yang menjalar
mengalir kidung merasuk aliran darah degupkan dada
keharuan sunyi tertahan menjemput fajar

Kerinduan menyatu darah
tangan ku kuat menggandeng bilangan tersisa
biar perpisahan di depan mata; siap berlabuh
kembangkan layar bersama pengembaraan ku di dunia

Banjarbaru, 3 September 2010


Lubang Tambang

Lubang-lubang raksasa menantang langit
Sembunyikan duka samarkan rasa takut
Hilang sudah keragaman dan kerabat dekat
Dibabat gelombang gemerlap khianat

Lubang hitam terbengkalai
Bergelimpangan dengan perut terburai
Sadis tergambar pembunuhan berantai
Meradang ditusuk bertubi-tubi

Berkubang air mata saat hujan menyapa
Menganga kaku, “Mengapa tidak kau ratakan saja!”
Hanya gemuruh mesin hisap jeritan luka
Kenikmatan laknat melahap bangkai sesama saudara

Banjarbaru, 26 Februari 2009


Hutan Rumah Bersama

Masih terbayang hijau terhampar teduh menyapa
luasan yang berdesir mencumbu angin segala penjuru
menyentuh imajinasi kehidupan bermakna
rumah bersama terbentang luas menyatu

Masih ada hijau terlihat di sana
terkepung hamparan meranggas menahan pilu
betapa keserakahan melahap semua
hingga bencana bermuka seribu

Masih ada sisa hijau bertahan penuh daya upaya
meluruh daun kering menjamu kemarau
terancam nestapa kebakaran yang membara
terus menciut jagal setia menunggu

Masih segar teringat banjir memberi duka
yang hidup tertimbun tanah terbujur kaku
juga kering rekahkan tanah menahan luka
yang hidup tercekak tatkala air begitu saja berlalu

Masih nampak hamparan kritis merata
angkara baru menghisap sambil bergurau
tekanan bertubi-tubi semaikan bibit lupa
hingga hijau tersisa menjerit parau

Masih rutin mimpi buruk hadir bercanda
kebakaran kemarau berpesta tinggalkan abu
betapa kabut asap gantikan udara
sungguh teraniaya hutan hanya terangkut kayu

Masih ada tunas hijau kuatkan asa
biar merangkak tertatih hadirkan pucuk hijau
tak hiraukan kerusakan yang terus mendera
melawan keserakahan semangat menanam terpacu

Masih ada harapan terhampar hutan belantara
betapa masih banyak orang yang hirau
rumah bersama tautkan hati satukan jiwa
ada jalan selain keserakahan teguh menghalau galau

Masih terbayang pandangan teduh saat buka mata
hijau menari elok terbelai bayu
tiada kebanjiran menggauli musim hujan sehangat asmara
tiada kekeringan menghantar kemarau

Banjarbaru, 4 Agustus 2009


Nikmat Melimpah

Mata hati tertusuk ilalang
Terbawa hasrat memeluk bintang
Yah! Mengutuk nasib berulang ulang
Saat malang jadi penghalang

Selera hidup lahap dunia tak kenyang-kenyang
Lupa diri mabuk kepayang
Nikmat melimpah dirampas muntah-muntah tiada kepalang
Dustakan! Saat rasa syukur menghilang

Banjarbaru, 13 Januari 2009


Saat Ku Terbangun yang Hanya Sesaat

Saat ku terbangun, ku bercumbu mimpi
mata merasa indahnya pelangi pemandangan
telinga mencium kabar telaga kerinduan
hidung mendengar aroma wangi kekasih
mulut melihat nikmatnya pertemuan bahagia
Saat ku tertidur, rahasia atas diriku
masihkah duduk, berbaring, dan berdiriku mengingatMu?
kutanyakan itu;  saat ku terbangun yang hanya sesaat

Banjarbaru, 1 September 2010


Kau Memasuki Jantungku

belantara mengasihiku, bebas
kau temukan aku
bagai pepohonan telah terbakar
langsung debarkan jantung
mengiringi ketiadaan hadirmu
tak ada tempat sembunyi
kau berdetak dalam sunyi juga hiruk
sungguh dekat, begitu lekat

selalu saja, kau hadir impian
tiada jarak sisakan sekat
lintasan waktu hapus kenangan
sungguh lekat, begitu hati pekat

matamu pencarianku pada pelangi
lorong mistis pacu gemuruh jiwa
daya angkuhku serupa perupa hilang visi
jantungmu, adakah gelisah?
badai mana mampu ganggu jantungku
tak beraturan berdegup

kau memasuki jantungku
belantara mengasihiku, kau bebas
sungguh damai, begitu dekat
tanganmu menggenggam yakin
tumbuh wangi harapan
mengalir menyusuri rindu
mendekap tak berhenti

Banjarbaru, 27 Januari 2014


Wabah Lapar Dahaga

Hiduplah hidup yang hidup menghidupi lumbung lambung
setiap saat memekikkan perih lalu meringkih
lantang lapar dahaga mengumandangkan merdeka
menggoda perut merebut kekuasaan
merunduklah kepala-kepala buat senang perut
perut sebarkan wabah menjilat lapar dahaga.

Hidup perut hiduplah hidup
mulut-mulut kekuasaan tertukar perut
menganga saja
hingga punah kata penuh

Lapar dahaga pandangan hidup perut, dan
koruptor pilihan profesi favorit
dalam lindungan kekuasaan perut

Banjarbaru, 15 Agustus 2011


Rindu Ramadhan

Hamparan kerinduan bergelora
Persembahan hanya kepada pemilik hidup
Yang memberi seribu jalan menuju taqwa

Kerinduan tanpa perlu dihormati makhluk
Merasakan tanpa membebankan orang lain
Dahaga dan lapar hanya sementara

Bulan seribu bulan yang pasti
Tanpa menuntut semua puasa
Hanya kerinduan yang menuntun

Bulan seribu bulan berkah dalam setahun
Meleburkan rasa paling taqwa dalam diri
Hanya pemilik hidup punya perhitungan

Dahaga dan lapar coba ringankan beban
Pedagang makanan bukan godaan
Tempat hiburan tiada rusak perhitungan

Bulan seribu bulan nikmat yang merindukannya
Merasakan dalam kendali diri
Menunda yang halal karena rindu

Banjarbaru, 25 September 2007


Kamulah Kesepian Itu

Hujan badai tak menahan kerinduan
bergemuruh menyapa hingga langit ketujuh
tatkala hati tersentuh angan
kesepian menyelinap lupakan waktu meluruh

Tak terasakan ada kesepian
manakala rasa rindu masih terjaga
jika kesepian ada membayangi perjalanan
maka kamu lah kesepian itu dalam dada

Tak usah bayangkan bagai pengisi kesepian
tak ada penjaga kesepian indahkan taman hati
andai kesepian ada membara jemput impian
maka kamu lah kesepian itu mengada dalam diri

Kamu lah kesepian diriku
menghisap gunung-gunung membalik lembah-lembah
hentikan hujan badai kegelisahan kalbu
kesepian bagai pelangi ditinggal hujan yang sungguh indah

Banjarbaru, 27 Februari 2010


Engkau Sangat Dekat
: SS

Ya Allah, tidak pernah kucari Engkau, karena aku yakin Engkau mengawasiku;

yakin itu bumi Mu; langit itu juga, begitu juga samudera, burung-burung yang membelai angin meraba daun, mereka yang berhatap langit terhimpit ruang, juga mereka yang tertimbun harta, dan tak terkecuali kekasihku juga diriku ini.

Aku tahu Engkau sangat dekat;

hingga aku tidak bisa mencintai Engkau, karena bila aku rasakan itu terasa mencintai diriku sendiri, lalu aku menyombongkan diri. Aku melupa. Tampil menyempurna genggam kebenaran, menjilat-jilat luka bernanah, tampak neraka dari mulutku menghambur; baru saja aku mengutuk pelacur yang melintas dihadapanku, menjahanamkan mereka yang kuanggap sesat, mengkafirkan mereka yang kuanggap musuh agama, mengadili mereka yang meyakini jalan pilihannya menuju kebenaran yang kuanggap di jalan gelap dan berliku.

Aku mendengar dan yakin bahwa Engkau sangat dekat;

terperanjat baca status facebook (SS), “Ya Allah aku berlari kian kemari mengejar sekedar asa yang semuanya milikMu…Duhai Rabbku yang Maha Tinggi, ternyata kau ada di sini…bersemayam di bilik hatiku, berkuasa di jiwaku”. Jika Engkau bersemayam di bilik hatinya, lalu siapa yang bersemayam di bilik hatiku? Menguasai jiwaku!

Tahukah aku siapa yang bersemayam di bilik hati sang pelacur yang kukutuk itu; meskipun aku dengar cerita yang memberi minum anjing, siapakah yang bersemayam di bilik hati mereka yang aku nyatakan sesat, siapakah yang bersemayam di bilik hati-hati pencari kebenaran yang tidak sama dengan keyakinanku. Hanya Engkau yang tahu! Lalu mengapa aku mengutuk semua itu? Membuat diriku tidak bisa berlaku adil, kemudian bersuara atas nama-Mu.

Aku yakin Engkau sangat dekat, menguasai jiwaku;

jagalah diriku agar tidak terbenam dalam kesombongan dan melupakan adanya diriku sebagai hamba-Mu, juga mengingat sifat kefanaan diriku yang selalu membutuhkan petunjuk-Mu, meski telah Engkau ajarkan tanda-tanda dan nama-nama.

Banjarbaru, 27 April 2010


Tentang H.E. Benyamine
Bang Ben, begitu ia sering dipanggil, saya kira termasuk orang yang pelit membagi biodata :D. Salah satu pegiat sastra di Minggu Raya, Banjarbaru ini, memberi data yang sepatah-sepatah di blog maupun di akun facebooknya. Biodata berikut diambil dari berbagai sumber, tapi terbanyak dari salah seorang pegiat sastra Kandangan, Akhmad  Husaini, dalam tulisannya di Kompasiana. HE Benyamine kelahiran Martapura,  9 Oktober …., pernah sekolah di SMPN 1 Rantau, Kab. Tapin dan SMAN 1 Rantau, Kab. Tapin. Mempunyai seorang isteri bernama Swary Utami Dewi. Dikaruniai tiga orang anak yakni Alif Yusuf Vicaussie, Meutia Swarna Maharani, Rama Arsya Atsil Buan. Pendidikannya S1 Teknik Elektro UKI Jakarta. S2 Sumber Daya Alam dan Lingkungan. Tinggal di Banjarbaru.
            Yap, menjelang akhir, saya ingat ada clue yang memungkinkan saya mengintip biodatanya. Ya, Akta Notaris Yayasan Kamar Sastra Nusantara. Saya masih ingat di situ saya bisa tahu nama asli bang Micky Hidayat yang ternyata bernama KTP May Hidayat. Saya masih ingat, dulu Sastrawan Banua Haji Iberamsyah Barbary yang bela-belain datang ke Sambang Lihum untuk ngasih akta notaris itu. Dan inilah hasilnya: H.E. Benyamine, memiliki nama panjang Hamdan Eko Benyamine, lahir di Martapura, 9 Oktober 1967. Tinggal di Kelurahan Guntung Paikat, Banjarbaru Selatan.    


Catatan Lain
Minggu Raya, sebuah wilayah tegak lurus balaikota Banjarbaru, hanya terpisah oleh lapangan Murjani, adalah sebuah tempat wisata kuliner, yang terkenal sejak dulu-dulu. Sempat tergusur agak ke dalam, menjauhi jalan utama, meloncat satu kapling, itu yang saya ingat selaku warga Banjarbaru. Saat ini, di tengah-tengah Minggu Raya ada dibikin panggung sederhana dan ada warung (semacam warung seniman) di mana beberapa seniman kerap berkumpul. Entah merencanakan sesuatu, berdebat, atau hanya mengobrol santai. Kini tiap bulan, ada kegiatan “memuliakan” puisi yang dinamakan Poetry Action, tempatnya ya di Minggu Raya itu. Biasanya waktu yang dipilih hari Jum’at malam. Nah, salah satu penggiatnya adalah orang yang sering dipanggil kawan-kawannya sebagai Bang Ben itu. Kini sekumpulan “orang aneh” itu pun suka mengisengi mereka yang berwisata kuliner di Minggu Raya untuk membaca puisi. Tak peduli siapapun dia. Tentu mereka menyediakan bahan (buku puisi dan semacamnya). Bermodal rayuan gombal, mereka pun membujuk orang-orang yang tak tahu apa-apa itu untuk membaca puisi, tak peduli pembacaannya bagus atau pas-pasan, pede atau grogi, meyakinkan atau berkeringat dingin. Mereka membuat pin bertulisan “Aku telah membaca puisi di Minggu Raya”, memfoto pembaca puisi yang naas itu lalu mempostingnya di facebook, di grup Masyarakat Sastra Kalimantan Selatan.    


 Berikut postingan awal tentang H.E. Benyamine sebelum bukunya terbit:

sumber foto: Facebook, Yudhist Wira

Judul : Menulislah Saat Kau Ada (sementara itu dulu, nunggu bukunya terbit. hehe..)
Penulis: H.E. Benyamine
Jumlah puisi: 84 judul puisi (belum termasuk  satu puisi di laman “Kata Tertulis”)
Kategori puisi: 65 postingan (Sebenarnya 71 postingan, antara Postingan 3 dan 4, ada postingan tak tercatat 6 buah)
Mulai postingan 17, 1 postingan = 1 puisi
Postingan 32 = Postingan 28, Judul puisi pun sama: Saat Ku Terbangun Yang Hanya Sesaat
Rentang penulisan puisi: 11 Februari 2003 sd 27 Januari 2014

Beberapa pilihan puisi H.E. Benyamine dalam blog Borneojarjua

Tidak ada komentar:

Posting Komentar