Kamis, 05 Mei 2016

Mustafa Ismail: TARIAN CERMIN




Data buku kumpulan puisi

Judul: Tarian Cermin
Penulis: Mustafa Ismail
 Penerbit: Aliansi Sastrawan Aceh, Aceh.
Cetakan : I, 2007
Penerbit digital : Imaji Book dan Infosastra.com (2012)
Tebal : 111 halaman (99 puisi)
Epilog : Adek Alwi

Beberapa pilihan puisi Mustafa Ismail dalam Tarian Cermin

LHOKSEUMAWE

kota itu masih menyimpan rasa sakit
hidup yang beku: harapan-harapan mengental
dalam genggaman orang lewat
pada sebuah malam yang hening, dengan bedil di tangan

lalu kita membangun pulau-pulau
setiap malam, ketika anak-anak terlelap, untuk menyusutkan
air mata: cintalah yang membikin kita hidup
meski sering harus tiarap ketakutan

apakah bedil kini sudah menjadi mainan?
aku kerap lupa: tempat itu adalah taman bermain
bagi laki-laki yang kangen masa kanak-kanak
dan air mata, milik siapa pun, adalah bagian dari permainan

kota itu adalah sebuah rumah kosong
yang tak pernah kita tinggalkan: kita selalu di sana
menulis kata-kata, juga angka-angka, yang tidak
untuk dibaca: sebagai penawar rasa sakit

Sawangan, 7 September 2002


ALUE NAGA

Di jembatan Lamnyong kulihat matahari sudah condong ke barat
kau masih saja berpura-pura. Bermain dengan mimpi bagus
yang ditiupkan negeri jauh

serangan demi serangan tak mungkin dielakkan
kita mesti bertahan
pada rumah yang dibangun dengan cinta dan pengorbanan
kuatkan tanganmu pada akar-akar pohon bakau
menghadapi setiap kemungkinan

hadapi ledakan demi ledakan dengan doa dan perjalanan
pada satu terminal akan kita temui sejarah yang tenggelam:
masa silam yang manis. Tanpa luka dan keresahan

Banda Aceh, 28 september 1993

Satries: PENJAGA DIAN




Data buku kumpulan puisi

Judul : Penjaga Dian, Sehimpun Sajak (1973-2006)
Penulis : Satries
Cetakan : I, Januari 2011
Penerbit : Framepublising, Yogyakarta.
Bekerjasama dengan Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Palu, Sulawesi Tengah
Tebal : xvi + 118 halaman (110 puisi)
ISBN : 978-979-16848-6-3
Desain isi : Tri Prasetyo
Desain cover : Nur Wahida Idris
Gambar cover : Islam Art and Architectur, hlm 117 (Ullman, Berlin)
Vignet : Hudan Nur (6 buah)

Beberapa pilihan puisi Satries dalam Penjaga Dian

Suatu Senja di Sidera

senja merah. terbias
bianglala
sekelompok burung dara
hinggap di pucuk randu
menebarkan secercah senyum
sementara di sana mengalun
sebuah simfoni. rindu


Cuaca Memelas

beginilah cuaca memainkan hatiku
di saat seekor kelelawar
mengepakkan sayap pengeluhannya
karena hidup mesti dimaknai jua
karena derita mesti dialami jua
karena resah mesti dirasai jua
karena gundah gulana mesti digauli jua
karena nelangsa mesti diresapi jua
beginilah cuaca memainkan melodinya
di saat tak satupun lagu
yang bisa kunyanyikan untuknya

Dimas Arika Mihardja: DEKAP AKU, KEKASIH




Data buku kumpulan puisi

Judul : Dekap Aku, Kekasih
Penulis : Dimas Arika Mihardja
Cetakan : I, Januari 2014
Penerbit : Bengkel Publisher, Jambi.
Tebal : vii + 107 halaman (100 puisi)
Desain cover, lay out : Haris Fadhillah
Penerjemah ke bahasa Inggris : Noor Aisya (Singapore)
Pembaca ulang terjemahan : Dr. Sugeng Purwanto
Sumber e-book : www.issuu.com

Dekap Aku, Kekasih terdiri dari 2 bagian, bagian pertama memuat 50 puisi berikut terjemahannya ke Bahasa Inggris (total 100 puisi), bagian kedua memuat puisi-puisi persembahan oleh penyair lain (13 puisi).

Beberapa pilihan puisi Dimas Arika Mihardja dalam Dekap Aku, Kekasih

MUNAJAT SAYAP

sayap yang memikat tumbuhlah
di tubuhku

lewat kepaknya ingin kunikmati sayatan
dan pahatan isyarat langit

sayap, bawalah aku mengangkasa
mengagumi singgasananya

Bengkel Puisi Swadaya Mandiri, Jambi 2010


SAJAK PERAHU

perahu perahan jiwaku melaju menujumu, kekasih
berselancar di kedalaman debar kerinduan

kecipak air membasuh jiwa resah
basah pula harap nan lindap

pada tiang layar angin gemetar
engkau kian samar dan aku serupa camar
yang menggelepar

Bengkel Puisi Swadaya Mandiri, Jambi 2010

Muda Wijaya: KALIMAH




Data buku kumpulan puisi

Judul : Kalimah
Penulis : Muda Wijaya
Cetakan : I, 2013
Penerbit : Umah Mimba, Denpasar, Bali.
Tebal : ix + 84 halaman (61 puisi)
Editor : Wayan Sunarta
Penata letak : GPS
Lukisan sampul : “Wajahku Wanita”, Laksmi Shitaresmi

Beberapa pilihan puisi Muda Wijaya dalam Kalimah

Mantra Lepas Mata

a                                                    matamu kuingat
a                                              mata matalamat
a                                        mata kasih kau ingin
a                                  mata sebenarnya
a                            mata mata dingin
a                      mata ruh mata
a                mata air mata
a          matamu
a    maukah kau mengasihi tubuh di tengah gurun yang tak menemukan mata air
a maukah    kau mengasihi tubuh di tengah gurun yang tak menemukan mata ruh
a    maukah kau mengasihi tubuh di tengah gurun yang tak menemukan mata api
a          matamu
a                mata air mata
a                      mata ruh mata
a                            mata mata dingin
a                                  mata sebenarnya
a                                        mata kasih kau ingin
a                                              mata matalamat
a                                                    matamu kuingat


Rubayyat Lilin

apa yang ingin kau pahat dalam tubuh lilin yang menyalakan api di kepalanya
dan di ruang mana ingin kau letakkan begitu lampulampu menyalakan warna
lelehan lilin dilelehkan waktu lampu jadi jeritanjeritan bisu terbakar wujudnya
hanya dalam gelap urat titiknya lebih indah meranggas membawa akar gairah

1 Agustus 2008

Frans Ekodhanto Purba: KELANA ANAK RANTAU




Data buku kumpulan puisi

Judul : Kelana Anak Rantau
Penulis : Frans Ekodhanto Purba
Cetakan : I, Agustus 2013
Penerbit : Koekoesan, Depok.
Tebal : viii + 90 halaman (62 puisi)
ISBN : 978-979-1442-65-7
Tata letak : Sujarwadi
Sampul : Idris Brandy
Sket : Dedi PAW, Mangu Putra, Syahnagra, Budi Karmanto (Kodok), Aisul Yanto

Kelana Anak Rantau terdiri dari dari 2 Bab, yaitu Bab Mazmur Perjalanan (32 puisi) dan Bab Hikayat Kehidupan (30 puisi).

Beberapa pilihan puisi Frans Ekodhanto Purba dalam Kelana Anak Rantau

Ulos

di tetepi tao toba
mataari masih mengkal
aku melihat ikan bersaksi
beburung menjinjing cahaya
dengan kicaunya yang parau
dia menandai setiap runcing silsilah

sementara, di seberang kenyataan
serentang ulos dibentangkan
di antara kedua pundak kemuliaan
tampak kehormatan
memancar bagai puisi
: berkilat-kilatan

mari rentangkan tangan
gerak dan angkat kaki
lalu melipatnya kembali
menyeser, berputar, meliak-liuk
bagai gasing dihisap angin

ada aku di sana
menjadi benang
warnanya tak serupa
saling berpegang tangan
dalam satu rajutan
menjadi ritual paling sakral
pada kesetiaan yang tak kenal waktu

adalah ulos jiwaku
menyatu dalam jantung
menjadi lambang kebahagiaan
atas kekayaan dan penghormatan

menarilah…
tertawalah…
bermazmurlah…

biarkan semuanya lepas
menjadi amsal keabadian
sampai ke langit paling suci

Kereta subuh, Juli 2012

Senin, 04 April 2016

Monika N. Arundhati: CATATAN SUNYI




Data buku kumpulan puisi

Judul : Catatan Sunyi
Penulis : Monika N. Arundhati
Cetakan : I, 2014
Penerbit : Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.
Tebal : 118 halaman (63 puisi)
ISBN : 978-602-9187-88-5
Ilustrasi sampul dan tata letak : Christopher A. Woodrich
Prolog : Budi Kleden
Epilog : Christopher A. Woodrich

Beberapa pilihan puisi Monika N. Arundhati dalam Catatan Sunyi

Ladang Musim Hujan

Nenek, musim kemarau beranjak pergi akhir bulan lalu. Hujan
datang dari selatan melewati dusun kecil kita di kaki gunung.
Batang-batang kemiri dan kopi dihijaui lumut. Pucuk-pucuk ubi
kuning, merah dan ungu merekah malu-malu.

Nenek, berikan cangkul padaku, mari kita gemohing di ladang.
Ingin kuratakan ladang yang subur serupa dada montok,
menanam benih padi dan jagung sampai siku penat sambil
nyanyikan bejo hingga bercucuran keringat.

Nenek, aku rindu kehangatan vetak sewaktu senja tenggelam di
balik malam, aroma kotaklema bakar dihembusi angin ke puncak
sunyi Labalekang. Ricik mata air di timur ladang mengantar
pertemuan gaibku dengan Buka Barek. Ia tengah menyusui ular
sembari mengunyah sirih-pinang.

Nenek, hujan turun lagi malam ini. Aku tergelincir dalam
kenangan masa kecil. Sejak kau pergi ke Bobu dan tak lagi
pulang, seekor kupu-kupu putih hinggap di kelambuku tiap
malam.

Nenek, sekarang musim hujan. Apakah di duniamu juga
turun hujan?

Jogja, November 2013
Ø Gemohing: Sikap kerja sama atau gotong royong dalam kesempatan  membuka kebun baru dan panen hasil.
Ø Bejo: Nyanyian saat menanam padi atau jagung
Ø Vetak: Pondok ilalang di tengah ladang,
Ø Kotaklema: Daging ikan paus
Ø Buka Barek: Dalam legenda masyarakat Lamabaka, Kabupaten Lembata, Buka Barek adalah istri ‘wai natan’ (jin penghuni mata air  yang berwujud seekor ular)
Ø Bobu: Sebuah tempat yang indah dan penuh kedamaian, tempat jiwa-jiwa bersemayam
Ø Kupu-kupu putih: Jelmaan roh leluhur yang datang mengunjungi keluarganya

M. Iqbal J. Permana: SELUANG POETICA




Data buku kumpulan puisi

Judul : Seluang Poetica
Penulis : M. Iqbal J. Permana
Cetakan : I, Januari 2012
Penerbit : Tavern Artwork, Palembang.
Tebal : xviii + 52 halaman (29 puisi)
ISBN : 978-979-9983-93-0
Desain sampul, perwajahan : Ferry Gunawan
Editor : Nurhayat Arif Permana
Foto-foto : Mushaful Imam dan Jack Zaini
Prolog : B. Trisman
Epilog : Shamsudin Othman (Universiti Putra Malaysia)

Beberapa pilihan puisi M. Iqbal J. Permana dalam Seluang Poetica

Seluang Poetica

Dua potong bilah bagai teraju berimbang
timbul tenggelam menerpa sungai
ketika tangkul dikembangkan
musim seluang telah datang…

Panggilkan puguk atawa kajut
musim seluang telah datang
bergerombol mereka mudik
dari tanah berawa atau lumpur berpasir

ketika air mulai pasang anak
sawah ume telah disiang
anak-anak berkumpul di lanting
bermain berenang dan bersimburan
menjala dan menangkul seluang-seluang batang

Panggilkan Puguk atawa Kajut
pukat dan jala segera dirajut
sebentar lagi ribuan seluang
akan segera berenang ke hilir atawa ke hulu
musim seluang telah datang

Sungai Rotan, Mei 2010

Imam Budiman, Muhammad Ansyar, Zian Armie Wahyufi: TERIAKAN BISU




Data buku kumpulan puisi

Judul : Teriakan Bisu
Penulis : Imam Budiman, Muhammad Ansyar, Zian Armie Wahyufi
Cetakan : I, Agustus 2011
Penerbit : Tahura Media, Banjarmasin.
Tebal : vi + 74 halaman (60 puisi, @ 20 puisi)
ISBN : 978-602-8414-08-1

Beberapa pilihan puisi Imam Budiman dalam Teriakan Bisu

Sajak Amtsilati

benarkan letak kopiahmu!
kantuk merayu, bawa ke belakang dengan seriak lumuran setinta
wudhu

seperti biasanya malam di sepertiga arah pendek jarum jam separuh
menengadah ke arah kiri
tepat detik terakhir angka enam terbalik
bersama menuju mushalla dengan sisa iringan tawa yang belum ter-
tuntaskan semenjak memijakkan
kaki ke luar asrama
ada yang menyembunyikan terompah kawannya
ada yang mengomel terkena jadwal mengambil segalon air panas di
dapur
malam-malam begini!
ada juga yang menyerapah sendiri dikarena kitab Ta’lim yang tak
kunjung temu
kegaduhan yang menguak; bercampur menjadi keributan yang
membuatku tersenyum lucu

benarkan letak kopiahmu!
kantuk merayu, bawa ke belakang dengan seriak lumuran setinta
wudhu

tersandar lelah berpencar ke pojokpojok sudut rumah Tuhan
saling bertatap hadapan; tak bercakap, menggerutu, bergurau sia,
apalagi bercerita ria dengan ceritacerita konyol murahan
kami riuh menyetorkan hapalan, kawan!
meluapkan segala ingatan sesuai kesepakatan perjanjian yang per-
nah diikrarkan dulu
sebelum dijamakkan dengan sebuah ruangan khusus
asrama amtsilati para santri sering menyebutnya…

harus berapa kali kukatakan?
benarkan letak kopiahmu, apa tak sadar sudah sembilan puluh dera-
jat termiring kiri?

maka, lepaskan segera jerat kantukmu!
kakak pengajar datang kakak pengajar datang
sebelum beliau mengajari kita pada bab ke lima sedangkan kau meno-
pang kantukmu
dengan berdiri di tempat

Setengah sadar, 30 April 2011