Kamis, 05 Mei 2016

Frans Ekodhanto Purba: KELANA ANAK RANTAU




Data buku kumpulan puisi

Judul : Kelana Anak Rantau
Penulis : Frans Ekodhanto Purba
Cetakan : I, Agustus 2013
Penerbit : Koekoesan, Depok.
Tebal : viii + 90 halaman (62 puisi)
ISBN : 978-979-1442-65-7
Tata letak : Sujarwadi
Sampul : Idris Brandy
Sket : Dedi PAW, Mangu Putra, Syahnagra, Budi Karmanto (Kodok), Aisul Yanto

Kelana Anak Rantau terdiri dari dari 2 Bab, yaitu Bab Mazmur Perjalanan (32 puisi) dan Bab Hikayat Kehidupan (30 puisi).

Beberapa pilihan puisi Frans Ekodhanto Purba dalam Kelana Anak Rantau

Ulos

di tetepi tao toba
mataari masih mengkal
aku melihat ikan bersaksi
beburung menjinjing cahaya
dengan kicaunya yang parau
dia menandai setiap runcing silsilah

sementara, di seberang kenyataan
serentang ulos dibentangkan
di antara kedua pundak kemuliaan
tampak kehormatan
memancar bagai puisi
: berkilat-kilatan

mari rentangkan tangan
gerak dan angkat kaki
lalu melipatnya kembali
menyeser, berputar, meliak-liuk
bagai gasing dihisap angin

ada aku di sana
menjadi benang
warnanya tak serupa
saling berpegang tangan
dalam satu rajutan
menjadi ritual paling sakral
pada kesetiaan yang tak kenal waktu

adalah ulos jiwaku
menyatu dalam jantung
menjadi lambang kebahagiaan
atas kekayaan dan penghormatan

menarilah…
tertawalah…
bermazmurlah…

biarkan semuanya lepas
menjadi amsal keabadian
sampai ke langit paling suci

Kereta subuh, Juli 2012



Perempuan Tua dengan Uban di Jiwa
: Oppungku Mahennaria Sihite

telah kau rampungkan anak-anakmu
menjadi anak-anak peluru
siap menembus dunia dari segala penjuru
telah kau lipat rahasia menjadi keabadian
tak pernah terbelahkan zaman

kini, usiamu telah sudah
ubanmu kian merana
tapi doamu tak pernah patah
tubuhmu yang kerut bagai batang gaharu
harumnya tak pernah luluh

sedang nafasmu yang rapuh
tetap setia membaca segala kemungkinan
tentang yang pulang-pergi
menjadi peristiwa dalam sehati

kaulah gabrielku
kaulah kerub
setia menjaga firdaus
dari ancam lewiatan yang rakus

bagiku, kau bukanlah sekedar dongeng
bagi kami, kau bukan pula sekadar legenda
bagi kehidupan, kaulah ibu dari segala ibu

mesias yang membesarkan cinta dengan mukjizat
meski kami tak bisa balas budi
menakar jantungmu di puncak musim

bila kau benar-benar pergi
airmata tak ada guna, langit berputar-putar
dan kami dengan dada gemetar mengucap
illahi maha besar

Kereta subuh, Juni 2012


Kembali ke Pelukan Ibu

dengan tatapan lunak – muka tak berjarak
kekanak itu berbinar di pelukmu, ibu
mereka tahu mulut adalah bisa
dengan lidah tak bertulang meracunmu
acap kali memalsukanmu
kini anak-anak itu kembali bermuara ke fitrahmu
memohon ampun atas khilaf

mereka butuh berkatmu
maka ampunkanlah dengan kuasa kasihmu
sebab hanya daripadamu, surga tak jadi hablur
kantuk dan kutuk merunduk
ibu, mereka datang ke rumah bolonmu
terimalah seperti kekanak tanpa tameng

Kereta subuh, Januari 2013


Surat untuk Mamak

telah kuhitung kembali rerambut jagungmu
tak kunjung rampung, tak kunjung lekang
sampai jantung melepuh
angka-angka usia luluh tak bertumpuh
seperti menghitung jumlah pasir di tubir laut
kami tahu kebaikanmu mengalir selayak sungai
kami juga tahu, ombak kasihmu tak usai-usai
kesetianmu mengental candu, bergema menjadi ruh
meniupkan cinta pada gihon yang tak sekedar air

kini, waktu kian penuh, namun rambut jagungmu
tak kunjung habis dalam hitungan jumlah
sampai kami lupa mengurai keabadianmu
            : perdu
dalam sesurat pengabdian maha ajaib

Kereta subuh, Januari 2013


Kelana Hidup

setiap kali mataari lahir dari rahim langit
selalu ada yang datang-pergi dengan mengemas sesak sesalnya
sendiri
sementara itu, jiwa-jiwa bergelayut di reranting kenangan
samudera raya bernyanyi sumbang merayakan pencarian
pada muara-muara keajaiban
bersama mata angin yang tak pernah lelah
menikung keberuntungan
dari tiap istirah kelana

selalu saja ada yang datang dan pergi
setiap kali mataari kembali ke rahim bumi
dan ruhmu semakin merunduk
tak mampu menahan desiran takdir
kian memburu
semacam peluru lesat menjemput aku

ke rahimmu ibu
selalu pulang mengadu
hanya di sanalah kutemui butir-butir kehidupan
menetes bersama air surga buatan tuhan

Kereta subuh, Januari 2013


Melewati Petak-petak Subuh

melewati petak-petak subuh
kaki masih saja ditusuki deduri
yang itu:
sedang kekata tekun mendesak lidah
meneguk ludah sambil berharap tak bersilat makna

melewati petak-petak subuh
lengkung sunyi
menengadah sukma
mengajak mata berlari
menembus likat kabut
mengeja arah
mengejar rerintik desah yang pucat

di sanalah diketahui
betapa alam negeri ini meruah
sepam menari-nari di ceruk samudera
merpati – sapi bergelincatan di atas kuali
sedang adab disulap menjadi senyap rebah
minyak zaitun, cengkeh menjadi nyawa tak pernah mampus
menebus perut yang rakus
namun tak sepatah kepastian digurat
tentang simpang yang bukan sekedar dongeng

melewati petak-petak subuh
aku melihat kampungku terkulai
di lempung isyarat
: ringkih
amisnya menguar di pelupuk adma
tersaput jingga

Kereta subuh, Oktober 2012


Hula-hula

somba marhula-hula paling sempurna
kami sampaikan pada kau pemangku amanah
biarlah silsilah menjadi makna atas sejarah
melegenda selurus peradaban marga
sampai tiba waktunya semua diabadikan
dalam bab-bab silsilah, tumbuh
serupa mawar mekar di pundak dunia

tondiku marhula-hula ke jantungmu
martarombo penuh berkah
menerima pasu-pasu paling suci
atas yang tertinggi di muka bumi
mari menari, mari menyanyi
sematkan ulos di hati paling luhur

nyalakkan gondang
agar tak ada raga meriang
mari melayang seperupa elang
melayang-layang meskit terlilit tiang
tetaplah riang bersama langit-langit siang
terang benderang sepanjang aksara

Kereta subuh, Juni 2013


Makan Malam

seekor ikan terkulai pasrah di bibir cawan
harumnya merebak ke segala arah
sementara, di tubir senja
secangkir darah menggoda aroma
warnanya merona dalam raga
adakah ini menu makan malam kita
disantap sebelum bulan mengerang
bintang mematahkan cahayanya

makan, makanlah sampai kenyang
biar tertebus lapar sepanjang petang
tapi ingat, segala hidangan atas meja boleh
kau santap, asal jangan terlena pada bisa

seekor ikan terkulai pasrah di pundak bumi
secangkir darah menggoda lidah
sedang bebocah di pucuk kabut
masih saja meringis kesakitan
mukanya pucat memeram perih
adakah ingin berbagi
untuk kenyang bersama
untuk lapar serasa

langit kian merana
udara berpendaran
di atas piring tak ada cinta
sepanjang malam sunyi bergema

Kereta subuh, Juni 2012


Amsal Masa Lalu

dulu, kampungku tak seperti itu:
kekambing, lelembu berlarian
            saling berebutan
menjilati hijau rerumputan
tumbuh menyemai hasrat
dari orang-orang sundal
dari tukang-tukang sihir

lalu, di antara reranting pepohon sawit
udara mengental, menandai setiap keangkuhan
anyir mengerucut bagai siput

bapak pun berangkat pada tujunya yang itu
sepulang, tak lupa membawa durian dan tebu
dari leladang yang tak pernah kerontang

sedang, aku dan ibu berpesta di dapur
bersama aroma bumbu sedap
tak habis terhisap ingatan

sementara haus-lapar
lagu sumbang, tak pernah lupa didendang
dengan segala ucapan syukur tak sudah-sudah

kini, semua hanyalah amsal masa lalu
bisa dikenang, tak bisa dirasa
dan penyesalan
adalah harga mati
harus dilunasi

Kereta subuh, Juli 2012


Menyimak Angin
: Nina Aptikasari

dengan sekepal suasana
lagi kau mengajakku berdiam
di teluk puisi terhanyut
sekedar menyemai riak
tak sudah-sudah memanggil namamu

reranting bergoyang-goyang
beburung bernyanyi dan ikan-ikan
dengan siripnya yang hampir rontok
berlarian ke arah cermin
meski cuaca tak lagi sama

angin semakin gigil menusuk bulu kuduk
hening di jiwa kian bersaksi
tentang mimpi bebocah yang memberat
di puncak barat
berkarat lupa dikerat

dengan sesuara murung
kita saling bersahutan
dalam ringkih
lalu tersangkut di puncak abad

Kereta subuh, Juni 2012


Kelana Anak Rantau

jarak sudah terlalu lama memisahkan kita
sedang waktu tak lagi mampu memeram nafasku

melabuhlah ucok, rapatkan mimpi-mimpimu ke tanah
kelahiran
tanah yang merawat kelana dalam lipatan iman
gelung yang pernah mengajarkanmu berlari – berbisik –
bergelintangan
meski kakimu belum matang menapak dunia
meski bahasamu masih rapuh, mudah dipatahkan udara
dengan keyakinan hati, kau tumbuh menjadi anak mataari

memetik apel dari ranting kekudusan
mengendap menjangkah kelana
untuk mamak tersayang tekun memeram kasih
dari endapan kekampung penuh fitrah

mak, sesungguhnya tak ingin durhaka aku
seperti kekanak kampung sebelah
berani meniadakan pinisepuh
bisu sepanjang abad
lenyap dimamah ketamakan
inginku, menjenguk mekar senyummu
di gigir pagi yang masih perawan
itulah janji, kunyatakan atasmu
dan ketulusan adalah saksi atas kita

anakku, seberapa lama lagi kau bertahan pada kelanamu
sudah terlalu jauh kau berlari mengejar ingin
ke tempat paling ngeri
janganlah menjelma parang
apalagi menyamar menjadi belati
menziarahi mimpi di tubir laut

anakku, berdenyut – hiduplah serupa pokok padi
berenanglah bagai ikan, terbanglah selayak garuda
tanpa lupa sangkar – tanpa mungkir akar
dulu, di tepi labuh ini kulepas kau
dengan sebungkus sabda paling abadi
agar tak ada lagi pancang yang menguatkan laberang

kini, melabuhlah, jangan takut ombak
bersahabatlah dengan cuaca
biarkan angin menuntunmu
pada musim paling kita
muara dari segala rantau

jarak sudah terlalu lama memisahkan kita
sedang waktu tak lagi mampu memeram nafasku

Kereta subuh, Juni 2012


Bulan Larut dalam Secangkir Kopi

bulan larut dalam secangkir kopi
aromanya pekat laknat
merayu sukma menusuk rasa
adakah dahaga telah terlunaskan

ataukah masih sama dengan ritus kepurbaan
tentang jejak-jejak hujan yang retak
ditelan kemarau tanah-tanah

jika langkah tiba di lelereng dunia
bacalah mantra seyakin jiwa
agar tak ada temu berurai peluh
jika semuanya masgul

jalan lurus, terus naik ke kalbu
sampai tamamlah sudah
petik satu tamar dari pokok tekam
tentang cerita yang tak berjengkal
: mitos

pungut satu kegelisahan, tentang cemar air
yang airnya tak lagi memuai telaga
jangan biarkan limbah-limbah keserakahan
menikam redam

bulan larut dalam secangkir kopi
lorong hitam masih ditumpuki kepasrahan
tentang yang esok – akan datang

: maut

Kereta subuh, November 2012


Tao Toba

amang pargossi amang nami nauli
baenma sada gondang hasangapon

akulah danau yang merangkumkan silsilah
dari tubuhku lendir keabadian diawetkan
segala usia ditakdirkan menjadi keresahan

tubuhku adalah sumatera
dari utara
pelayaran diberangkatkan
ke sana kita bermuara:

menebus dosa atas segala doa
memiara puisi dalam rerahim batak
meriwayatkan segala adat

mari rayakan dengan gondang keabadian
kaitkan ulos di bahu peradaban
manortorlah sampai angkasa kembali
tergelincir di pundak subuh

amang pargossi amang nami nauli
baenma sada gondang hasangapon

bergerak, menyeser pasir
berputar ke kanak, berbalik tanpa takut terbalik
tarikan satu kebisuan sebelum kau dipurbakan nasib

di sini
di tao toba ini
silsilah
dicatat
digenapkan
dalam serentang riwayat

Kereta subuh, September 2012


Cerita tentang Anak Domba yang Hilang
(terinspirasi dari Kitab Lukas)

#1
sang pemilik
tak pernah berhenti mencari, sampai menemukan
tak akan kehilangan jejak, meski alang-alang
menyembunyikan
kalau berlari-terus menjauh, berhentilah
dia akan meraihmu, jika terus bersembunyi-sunyi
tampaklah, meski berusaha lepas
sampai kehilangan akal sehat
kau tak akan memikirkan keselamatan
mengubah jerit jadi benar-benar bahak
sampai pertobatan menguasai diri

#2
kau pantas diperjuangkan-dipertahankan-diselamatkan
apapun pendapatmu, dia terus memerjuangkan keselamatan
indah
tak menyerah, sampai pikiranmu jernih
dan tak lagi berpikir dangkal
apalagi merenangi air keruh
berhentilah menghindar
dia ada di sini:
dia menempatkanmu pada kelayakan
sebab ke mana pun kau pergi, berlari atau sembunyi
sampai pada negeri orang mati, lautan terdalam, langit terluas
kegelapan terpekat, berulangkali ditemukan
dan dihenyakkan

#3
dia menyalakan pelita bagimu yang tersesat
menemukan walau berhianat, mencari cermat
menyematkanmu di antara padat senyuman
diangkat dengan segala kegembiraan
sebagai suka cita penuh pertobatan
turun atas kuasa malaikat-malaikat
sebelum tiba waktunya menjadi mayat

#4
dia akan membagi-bagikan senyuman dengan adil
tanpa perlu merasa kerdil
tanpa harus mendapatkan penghakiman
dan kau diselamatkan dari mulut-mulut kebinasaan
siap merenggut di ujung maut
apabila musuhmu bersiap dengan pedang, maka dia
menyarungkannya kembali
seperti ibu yang memadamkan api perang
di antara bara tetungku

#5
demikianlah ia mengirimkan barisan keselamatan
dilepaskan dari segala belenggu permasalahan
karena dia telah menyelidiki setiap inci dalam pikiran
setiap helai dari daging, setiap tetes dari darah-nafas
menghidupkan usiamu
dia memeriksa setiap kesalahan-pertobatan
segala kesalahan penuh pengampunan
sebab sebelum pengharapan ditanam, semuanya telah
ditumbuhkan bersama buah kekudusan
hanya dialah yang siap menerimamu dengan segala keikhlasan
menerima dengan ayat-ayat kasih yang tercurah atasmu

Kereta subuh, Desember 2010


Polisi Kematian

mereka melaporkannya lagi
mengirim polisi ke dadanya
membiarkan menangkap lambungnya
menyekap jantungnya
menjadikannya tersangka utama
meski dia tahu bagaimana semuanya
menjadi sedemikian tiba-tiba
tak ada berani menyela
semua seakan terkutuk nostalgia

sedang hujan tabah menandai
setiap penghianatan
menjadikannya bara nanah
ia tertegun, melihat batang tubuhnya
digeledah, nasibnya tersalibkan
pada hukum yang tak pernah
memberikan jawaban, keadilan
hanyalah dongeng kosong

ia kecewa, lalu lengang
membiarkan tubuhnya sendiri
menyelinap di balik rahim ibunya
sampai polisi itu selesai
menyelidiki memulangkannya
pada maut

Kereta subuh, September 2011


Jendela

dari balik jendela tua
sebutir gerhana tergelagap
menyilanap di antara labirin-labirin lecat
etalase ibu kota
menjelma menjadi sebatang mimpi
merentang sepanjang pandang
mampus di lidah parang
adakah yang datang atau ingin pulang
sebelum petak beranakpinak
sebaiknya kita rapikan dulu
bebaris kata yang masih berantakan
di atas silsilah senja tak bertulang
barangkali ada satu kenang
bisa dibawa tualang
sebelum jendela petang dilapir likat

Kereta subuh, Desember 2010


Tentang Frans Ekodhanto Purba
Frans Ekodhanto Purba lahir di desa Sei Suka Deras, Sumatra Utara, 8 Juli 1986. Menyelesaikan pendidikan di jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Bekerja sebagai wartawan seni budaya di media massa nasional, tinggal dan bekerja di Jakarta. Karya puisinya termuat di beberapa antologi bersama, seperti Negeri Abal-abal (Negeri Poci 4), Sauh Seloko, Berjalan ke Utara, Tuah Tara No Ate, Akulah Musi, Ibukota Keberaksaraan (Jilfest, 2011), Narasi Tembeni, dll. 


Catatan Lain
“Sebagaimana banyak pengalaman, banyak penyair atau sastrawan umumnya, harus berjuang keras, memertahankan daya atau kekuatan literernya di saat ia harus menjalani tugas rutin – termasuk menulis kalimat yang baku dan pragmatis – sebagai wartawan atau editor. Banyak yang gagal dalam perjuangan ini. Seorang sastrawan akhirnya menyerah pada tuntutan bahasa jurnalistik, yang mungkin memberi lebih padanya disoal finansial, status, fasilitas dan sebagainya. Frans Ekodhanto adalah salah satu wartawan yang berjuang, dan belum menyerah, memelihara daya-daya literernya dalam puisi, mencoba mengolah batin dalam ekspresi lingualistiknya. Ini patut dihargai dan diapresiasi.” Demikian testimoni Radhar Panca Dahana di sampul belakang buku. Setelah itu berturut-turut testimoni dari Acep Zamzam Noor, Arie MP Tamba dan Sihar Ramses Simatupang.
 Tak ada prolog atau epilog, pengantar dari penulis dijuduli “Ucapan Terima Kasih” saja, dan itu cukup 1 halaman atau 3 paragraf saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar