Jumat, 23 Maret 2018

Dedy Tri Riyadi: DUA DUNIA SATU CERITA



Data buku kumpulan puisi

Judul : Dua Dunia Satu Cerita
Penulis : Dedy Tri Riyadi
Format buku : ebook (pdf)
Edisi : Juni 2016
Tebal : 18 halaman (14 puisi)

Dua Dunia Satu Cerita terdiri dari 2 bagian, Beberapa Cerita Dinasti Han (8 puisi) dan Wirataparwa (6 puisi).

 Sepilihan puisi Dedy Tri Riyadi dalam Dua Dunia Satu Cerita

Orang Tua Pemindah Gunung

Yang kau lakukan tak akan pernah sia-sia.
Sebagai Yugong, kau hanya menua.
Tapi Zishou tak tahu apa-apa.

Yang kau lakukan bukan sekadar upaya,
Tapi cita-cita. Bahkan Jingcheng pun mengirimkan
Sang Putra. Kuifu, bagimu hanya kerikil dan debu.

Sepatutnya, di utara Yintu, tersingkirlah
Tat Xing dan Wang Wu. Menyisih ke sisi laut Bo.
Dan terbukalah jalan dari Yuzhou sampai
tepi sungai Han bagi langkah kakimu.

2016


Sepatu Bergambar Macan

Kebenaran harus selalu tegak,
meski kelak hanya gambar
pada sepasang sepatu.

Ia adalah ibu bagi anak-anaknya.
Selalu penuh rindu,
selalu berhitung dalam bertindak.

Meski di rumah pejabat,
Kebenaran harus bisa menang telak.
Kuat dan tajam seperti taring macan.
Siapa menghalangi akan dikoyak.

Dan dia adalah ibu untuk anak-anaknya.
Jari tempat melekatnya kuku-kuku itu.

2016

Georg Trakl: MIMPI DAN KELAM JIWA



Data buku kumpulan puisi

Judul : Mimpi dan Kelam Jiwa, kumpulan puisi dwibahasa,
Jilid VII Seri Puisi Jerman
Penulis : Georg Trakl
Terjemahan Indonesia oleh: Agus R. Sarjono dan Berthold Damshäuser
Cetakan : I, September 2012
Penerbit : KOMODO BOOKS, Depok.
Penerbitan buku ini dibantu dengan dana dari Goethe-Institut Jakarta.
Tebal : vi + 136 halaman (41 puisi)
ISBN : 978-602-9137-26-2
Gambar sampul : Arif Bachtiar
Rancang Sampul : Tugas Suprianto
Visualisasi isi : Tim Komodo Books
Pengantar : Berthold Damshäuser

Sepilihan puisi Georg Trakl dalam Mimpi dan Kelam Jiwa

Muramlah lagu hujan musim semi malam hari,
Di bawah awan: gerimis kuntum pir yang jingga,
Sulapan jiwa, nyanyian dan keedanan malam.
Malaikat menyala berlesatan dari si mata wafat.

(nb. puisi tanpa judul)


Dekatnya Maut
(Nähe des Todes)

O senja yang melangkah ke muram dusun masa kanak.
Kolam di bawah pepohonan
Kian sarat oleh ratap sampar sang kemurungan.

O hutan yang lirih tundukkan mata coklatnya,
Saat ungu hari-hari girang dia yang kesepian
Berguguran dari tangannya yang tinggal rangka.

O dekatnya maut. Mari kita berdoa.
Malam ini, di bantal hangat, kuning oleh dupa,
Terurai lengan rapuh mereka yang kasmaran.

Hasta Indriyana: RAHASIA DAPUR BAHAGIA



Data buku kumpulan puisi

Judul : Rahasia Dapur Bahagia
Penulis : Hasta Indriyana
Cetakan : I, Januari 2017
Penerbit : Gambang Buku Budaya, Sleman, Yogyakarta.
Tebal : xx + 115 halaman (70 puisi)
ISBN : 978-602-6776-24-2
Desain Isi : Kun Andyan Anindito
Ilustrasi Isi : Ismu Ismoyo
Desain Sampul : Yopi Setia Umbara
Gambar Sampul : “Mellow Dramatic Fools” karya Fatoni Makturodi
Prolog : Purwadmadi

Rahasia Dapur Bahagia terdiri dari 3 bagian, yaitu Rahasia (20 puisi), Dapur (21 puisi), dan Bahagia (29 puisi).

 Sepilihan puisi Hasta Indriyana dalam Rahasia Dapur Bahagia

TEKO POCI

Di pucuk lidah usia terasa berharga
Di pangkal kenangan kita merasa pernah ada

Gunung Kidul, 2013


JAKA UMBARAN

Darah Ki Gede Wanakusuma telah
Dikabarkan pada Sultan. Keris telah
Disarungkan di warangka, tubuh ibunya
Sendiri. Kini ia resmi menjadi anak raja
Anak kandung yang diaku lewat syarat
Membunuh ibu dan paman
Sang pemberontak sultan
Yang kelewat tangkas dan liat

Tanah di Giring kering. Gugus kelapa
Meninggalkan nyiur di antara belik
Yang dijaga bulus dan pelus

Bagaimana Brawijaya mengajari anak
Cucu mengukur tali saudara, memberi harga
Pada lidah dan tali darah?

Nun, Sunan Kalijaga telah membaca
Arah sejarah trah Kali Gowang
Yang batu-batunya berlubang dan air
Mengalir di antara pohon poh dan preh

Tak ada lagi daun lembayung dan
Kacang panjang dirajang di tiap
Babat dalan Sodo. Apem jagung dibalut
Daun salam, dikukus kerucut dalam
Anyaman kukusan kerucut di atas dandang

Orang-orang menoleh membayangkan
Wajah seorang senopati muda, cucu
Ki Ageng yang selama hayat menyatukan
Diri dengan alam lewat ajaran-ajaran
Sang Sunan.

Cimahi, 2016

Selasa, 06 Februari 2018

Badruddin Emce: DIKSI PARA PENDENDAM


Data buku kumpulan puisi

Judul : Diksi Para Pendendam
Penulis : Badruddin Emce
Cetakan : I, Februari 2012
Penerbit : AKAR Indonesia, Yogyakarta.
Tebal : xxii + 174 halaman (101 puisi)
ISBN : 978-979-9983-96-1
Supervisi : Joni Ariadinata
Editor : Raudal Tanjung Banua
Desai nisi : Indrian Koto
Desain cover : Nur Wahida Idris
Gambar cover : Tarman, Berjalan Lurus ke Depan
Foto cover : Jojo Ahmad (Titik Cerah)
Pengantar : Achmad Munjid

Diksi Para Pendendam terdiri atas 5 bagian, yaitu Diksi Kesatu (19 puisi), Diksi Kedua (20 puisi), Diksi Ketiga (17 puisi), Diksi Keempat (25 puisi) dan Diksi Kelima (20 puisi).

Sepilihan puisi Badruddin Emce dalam Diksi Para Pendendam

Tumpah

kutimba seember air
ya seember air, ku-
bawa seember air.
keliling air kutawarkan
pada pohon tak berdaun
kulobangi batangnya
agar air tak tertumpah.
kutuangkan tapi ter-
tumpah sehingga pohon
yang kering kutebang,
kuhadapkan lobang itu ke langit
biar tak tertumpah,
tapi air tertumpah dan
yang tertumpah menetes
bagai darah

1982

Aprinus Salam: SULUK BAGIMU NEGERI


Data buku kumpulan puisi

Judul : Suluk Bagimu Negeri
Penulis : Aprinus Salam
Cetakan : I, April 2017
Penerbit : Gambang Buku Budaya, Yogyakarta.
Tebal : ix + 79 halaman (64 puisi)
ISBN : 978-602-6776-41-9
Desain isi : Kun Andyan Anindito
Desain sampul : Yopi Setia Umbara
Lukisan sampul : “Suluk Sampan” karya Danang Indra Prayudha

Suluk Bagimu Negeri terdiri atas 4 bagian, yaitu Pada Mulanya (16 puisi); Ketika, Menjadi (18 puisi); Para Pribadi (16 puisi) dan Tak Pernah Akhir (14 puisi)

Sepilihan puisi Aprinus Salam dalam Suluk Bagimu Negeri

SEORANG GURU DI PELOSOK

Hidupku kecil, ruang gerakku kecil, sekolahku kecil,
kelasku kecil, tubuhku kecil, muridku kecil-kecil,
pada sebuah desa terpencil.

Jika malam, kehidupan lilin berapi kecil, kubuka
buku pelajaran untuk persiapan kecil-kecilan.
Tidak larut tidurku, takut tubuhku kurus mengecil.

Aku masak nasi pada sebuah periuk kecil, kupanaskan
sayur dalam panci kecil.

Segera aku melangkah cepat dalam langkah-langkah
kecil ke sekolahku yang kecil. Kusapa muridku yang kecil-
kecil.

Kubuka pelajaran sejarah. Aku pun berkisah tentang
sebuah bangsa besar yang dijajah negara kecil.
Muridku yang kecil-kecil menggangguk kecil.

Selesai sekolah, aku bergegas pulang, dengan langkah
yang kecil-kecil, menuju rumahku yang kecil.

Siang menjelang sore, aku membersihkan rumah dan
mengerjakan pekerjaan lainnya yang kecil-kecil. Sore,
aku mandi dalam sebuah kamar mandi kecil.

Kembali malam, kulakukan refleksi kecil. Kusadari nyaliku
yang kecil. Juga sisa hidupku yang mengecil.

Kini umurku tak lagi kecil, tapi hidupku kecil, ruang
gerakku kecil. Kalau nanti aku mati, aku membutuhkan
sebidang tanah yang kecil.

Abinaya Ghina Jamela: RESEP MEMBUAT JAGAT RAYA


Data buku kumpulan puisi

Judul : Resep Membuat Jagat Raya
Penulis : Abinaya Ghina Jamela
Cetakan : IV, Juni 2017 (Cet.I: Jan 2017, II: Maret, III: Mei)
Penerbit : Kabarita, Padang.
Tebal : xii + 116 halaman (72 puisi)
ISBN : 978-602-72113-9-1
Desain Sampul : Yopi Setia Umbara
Lukisan Sampul : Jagat Raya dan Sayembara Menyanyi
karya Abinaya Ghina Jamela
Lukisan isi : Abinaya Ghina Jamela
Tata Letak : Kun Andyan Anindito

 Sepilihan puisi Abinaya Ghina Jamela dalam Resep Membuat Jagat Raya

GIGI

Waktu itu gigiku goyang
seperti gempa bumi, dan ibu
mengajakku ke dokter gigi.
Petugas loket pendaftaran
bilang gigiku dicabut jam dua
ternyata bukan dan itu jam
setengah tiga. Aku melihat
gigiku yang dicabut begitu
putih mekar seperti melati.
Dan rasanya mau tumbuh jadi
gigi orang dewasa dan aku
menunjukkan gigiku yang ompong
ke teman-teman. Mereka tertawa
seperti suara beruang. Aku lalu
membuka kembali perpustakaanku

2015

Abu Wafa: CARA MENGHITUNG ANAK


Data buku kumpulan puisi

Judul : Cara Menghitung Anak
Penulis : Abu Wafa
Cetakan : I, Maret 2017
Penerbit : Delima, Surabaya.
Tebal : xvi + 100 halaman (40 puisi)
ISBN : 978-602-60352-3-3
Gambar ilustrasi : Dwi Januartanto
Desain sampul dan tata letak : Alek Subairi
Gambar sampul : diolah dari karya Violeta Lopiz

Sepilihan puisi Abu Wafa dalam Cara Menghitung Anak

Gigi

sebelum pulang, ibu guru memberi PR
“buatlah gambar yang berhubungan
dengan gigi!”

sesampai di rumah, aku menggambar
pintu dan selokan
“bukankah kau harus menggambar
yang ada hubungannya dengan gigi?”
ayah bertanya sedikit bimbang

karena pintu, gigiku terlepas
sewaktu berlari tanpa kendali
kata ayah, gigi atas harus dibuang ke bawah
selokanlah yang jadi muaranya
aku menjelaskan dengan bangga

di kelas, aku mendapat nilai terbawah

2013

GM. Sukawidana: UPACARA-UPACARA


Data buku kumpulan puisi

Judul : Upacara-upacara
Penulis : GM. Sukawidana
Cetakan : I, Januari 2015
Penerbit : AKAR Indonesia, Yogyakarta
bekerjasama dengan Bali Mangsi Foundation, Denpasar, Bali
Tebal : xiv + 114 halaman (63 puisi)
ISBN : 978-602-71421-1-4
Penyelia akhir : Raudal Tanjung Banua
Desain isi : Frame-art
Perwajahan : Alit Widusaka
Lukisan cover : Nyoman Wirata
Pengantar : Syahruwardi Abbas, Nyoman Darma Putra

Upacara-upacara terdiri atas 2 bagian, yaitu Upacara Tengah Hari (26 puisi) dan Upacara Senja Upacara Tanah Moyang (37 puisi).

Sepilihan puisi GM. Sukawidana dalam Upacara-upacara

Upacara Senja
Upacara Tanah Moyang

            : “kau tahu?
            dengan air mata ibu
            kubasuh nanah luka tanah moyang”

(1)
usai tubuh tubuh legam
menggaru tanah perunggu
tumbuh kanak-kanak kekasih
di batu batu karang
menjauhlah burung burung senja
bawa tembuninya ke sarang sarang matahari
ke balik kabut pepohonan
agar tak terjamah tangan tangan sihir
orang orang hitam

(2)
para inang pengasuh
rambutnya hitam sebatas pinggul
berbaris berjajar menjaga bulan
agar tak pudar warna cahaya
di wajah kanak kanak

(3)
lembu lembu perkasa
kereta perang sepasang anak kembar
melecut angin ke penjuru membawa duka
: “siapa maya denawa sekarang?”
sama rupa sama bayang
merengkuh tanah moyangnya sendiri
jadi padang padang sengketa!

(4)
wahai burung burung senja
bawalah tembuninya menjauh
cari inang pengasuh
agar disatukan kembali saudara kembarnya
agar dikenal tanah yang memeram akar darah
dagingnya sendiri

(5)
: “kau tahu?
ibuku meneteskan air matanya
membasuh mimpi buruk anak cucunya!”