Senin, 05 Desember 2016

Galih Pandu Adi: REL KERETA DAN BANGKU TUNGGU YANG MEMUCAT




Data buku kumpulan puisi

Judul : Rel Kereta dan Bangku Tunggu yang Memucat
Penulis : Galih Pandu Adi
Cetakan : I, 2012
Penerbit : Kendi Aksara, Yogyakarta
Tebal : viii + 145 halaman (69 puisi)
ISBN : 978-602-99907-3-7
Pereka Sampul : Kang emte
Penata Aksara : Moh. Fathoni
FotoIlustrasi : Day Milovich, Yudho “Gusur” Widodo & Rahmat Hari “Adi Karnoe”
Lukisan Ilustrasi : “Waiting of Mahdi” karya Ahmad Kekal Hamdani
Epilog : Hudan Hidayat

Rel Kereta dan Bangku Tunggu yang Memucat terdiri atas 3 bagian, yaitu rel kereta yang terus memanjang (7 puisi), kota yang tumbuh di kolong ranjang (47 puisi) dan bangku tunggu yang memucat (15 puisi).

Beberapa pilihan puisi Galih Pandu Adi dalam Rel Kereta dan Bangku Tunggu yang Memucat

Peta di Kolong Ranjang

aku jadi ingin rebah di kolong ranjang saja
sunyi dan kita lebih menerima bahwa kita memang sendiri
biar cahaya menyeruak di ranjang dan bantal
aku tak perduli jika luka makin mengental

aku ingin tidur di kolong ranjang saja
memintal benang-benang sepi
menjadi peta menuju kotamu
yang kerap kukunjungi dalam mimpi

Semarang, 2009


Pulang

tuhan, luka dalam sajakku bertubi-tubi menujumu
lantas, malam yang entah kelak
gelas-gelas kosong tanpa arak atau sajak, kutenggak

di rumahmu, aku pulang tanpa wajah
di ranjangmu, kulucuti satu persatu tubuhku

aku demam bergetar-getar
seperti sejak mula kelahiran sampai ajal
dadaku ini zikir detak
menghentak-hentak
tanpa hitungan,
tanpa bilangan

Semarang, 2011

Wendoko: SAJAK-SAJAK MENJELANG TIDUR




Data buku kumpulan puisi

Judul : Sajak-sajak Menjelang Tidur
Penulis : Wendoko
Cetakan : I, Mei 2008
Penerbit : Banana, Jakarta
Tebal : viii + 72 halaman (40 puisi)
ISBN : 978-979-1079-17-4
Sampul : Principia Wardhani
Foto Sampul : Yessie

Sepilihan puisi Wendoko dalam Sajak-sajak Menjelang Tidur

DONGENG SEBELUM TIDUR (03)

            Kuil itu adalah pecahan cahaya. Kau akan melihatnya
setelah mendaki Lereng Timur Pegunungan Hua, saat matahari
membenam. Berjalanlah ke utara menyusur deretan hutan
kembang, sebelum kautemukan gapura bertuliskan yin-yang itu—
yang selalu kau sebut dalam tidurmu.
            Kata orang, dulu dewa-dewa berpesta di situ, dengan
berkeranjang buah, musik dan tarian. Menjelang subuh mereka
kembali ke langit – menyisakan suara dan bau-bauan yang gaib.
Barangkali, saat cuaca berkabut, kau akan melihat atap
keperakan, pilar batu yu dan lantai marmer yang kemilau dalam
warna bulan. Atau samar-samar kaudengar suara ku-chen, bhi-pa
dan nyanyian itu – yang sia-sia kautangkap maknanya.
            Lalu, saat fajar, bidadari turun ke bumi. Gaunnya
menebarkan embun dan sepasang kakinya menari di atas kabut.
Kau tahu, embun juga memercik ke kolam samping kuil itu –
yang kata orang adalah air mata Peri Biru, sebelum terpisah dari
kekasihnya karena takdir dewa-dewa. Tetapi tak ada yang
kautemukan di situ, kecuali bening air yang mengaca ke dasar
kolam dan memantulkan langit – dengan gugusan awan dan
cahaya-cahaya.
            Barangkali saja.

Selasa, 01 November 2016

Watiek Ideo & Fitri Kurniawan: 70 PUISI PERTAMAKU!




Data buku kumpulan puisi

Judul: 70 Puisi Pertamaku!
Penulis: Watiek Ideo & Fitri Kurniawan
 Penerbit: PT Bhuana Ilmu Populer, Jakarta.
Cetakan : I, 2013
Tebal : 76 halaman (70 puisi)
ISBN : 978-602-249-207-8
Ilustrasi : Evelline Andrya & Yusuf Adhityo
Desain cover dan layout : Aluycia
Penyunting : Dewi Widyastuti
Penyelaras akhir : Novalya Putri

Beberapa pilihan puisi karya Watiek Ideo & Fitri Kurniawandalam 70 Puisi Pertamaku!

Kepiting Merah

Aku punya kepiting
Jalannya miring
Capitnya dua
Cerah warnanya

Kucoba memegang
Kuajak berbincang
Kepitingku senang
Hatiku pun riang


Bersepeda

Kayuh! Kayuh!
Meski tubuh berpeluh
Kayuh! Kayuh!
Jangan mengeluh

Tapi kakiku pegal
Napasku tersengal
Mama menemaniku istirahat
Sambil memberiku semangat

Senangnya bersepeda
Di hari minggu ceria
Bersama keluarga
Kami mengayuh bersama

Novy Noorhayati Syahfida: LABIRIN




Data buku kumpulan puisi

Judul : Labirin
Penulis : Novy Noorhayati Syahfida
Cetakan : I, 2015
Penerbit : Metabook, Bekasi.
Tebal : xviii + 103 halaman (101 puisi)
ISBN : 978-602-73267-0-5
Desaincover : Prima Hidayah
Tata letak :Pippo

Labirin terbagi berdasarkan titi mangsa penciptaan puisinya, yaitu 2003 (2 puisi), 2004 (1 puisi), 2012 (1 puisi), 2013 (2 puisi), 2014 (79 puisi), dan 2015 (16 puisi).

Beberapa pilihan puisi Novy Noorhayati Syahfida dalam Labirin

Kabut

menggeliat resah di pucuk-pucuk pagi
sebab kau setipis udara di lubang sepi
jatuh pada permukaan tanah sedekat aku
antara ada dan tiada yang begitu
kekal. ditempa cuaca sedalam kau
menisbikan segala detak waktu

Tangerang, 31/10/2014


Tidurlah Sayang...

tidurlah sayang
biarkan cinta menyusuri ruang kenang
memeluknya dalam imaji yang paling liar
tanpa takut terluka, karena ialah sang maha tegar

tidurlah sayang, tidurlah
lupakan segala air mata dan pedih
biarkan ia mencari takdirnya sendiri
di belantara nurani yang paling sunyi

Tangerang, 07.03.2014

Toto ST Radik: INDONESIA SETENGAH TIANG




Data buku kumpulan puisi

Judul : Indonesia Setengah Tiang
Penulis : Toto ST Radik
Cetakan : I, 1999
Penerbit : Komunitas Sastra Indonesia (KSI), Tangerang
Pencetak : ADIB bersaudara
Tebal : xx + 47 halaman (32 puisi)
ISBN : 979-95602-1-9
Setting : Adi SK
Layout : AEF Sanusi
Sambutan : Wowok Hesti Prabowo (Ketua KSI)
Pengantar : Eka Budianta

Beberapa pilihan puisi Toto ST Radik dalam Indonesia Setengah Tiang

DUNIA MANUSIA

dunia manusia terlalu membosankan. terlalu
daging: mudah busuk dan berulat dengan bau
yang enggan hilang

terlalu
banyak mulut di kepalanya yang kecil. membual
di panggung menjual sorga membeli tuhan

betapa mengerikan
mendengarkan seluruh dustanya. setangkai mawar pun
tanggal dan menangis. sepasang merpati terbakar
bulubulunya dan mati. angin berhenti. laut
diam. bulan dan matahari bersembunyi
menjauhi hari

dunia manusia alangkah menyedihkah. alangkah
menyedihkan

Serang, 1998

Ali Syamsudin Arsi: BUKU SETENGAH TIANG




Data buku kumpulan puisi

Judul : Buku Setengah Tiang
Penulis : Ali Syamsudin Arsi
Cetakan : I, Juni 2015
Penerbit : Framepublising, Yogyakarta
Tebal : xii + 120 halaman (93 puisi)
ISBN : 978-602071443-2-3
Desain isi : Frame-art
Desain cover : Nur Wahida Idris

Beberapa pilihan puisi Ali Syamsudin Arsi dalam Buku Setengah Tiang

Diskusi Para Datu

memungut kata-kata berserak
di lantai tanah berpijak
menyusuri jejak
di ketinggian jarak

kita tidak sedang terjaga
sebab di ujung kepedulian
hilang sapa

orang-orang di luar terlalu sibuk
mencari lupa
aku di balik kamar
kehilangan air mata

puah mantra datu-datu
lenyap ke mana
ketika berwujud aksara

/asa, Juni 2004-Januari 2015


Suka-suka Minggu Raya

o ya ya, o ya ya , kita jumpa
o ya ya, o ya ya , kita bicara
o ya ya, oya ya , di mingguraya

bila hatimu sedang duka lara
langkahkan kaki cepat segera
kami tunggu di mingguraya
saling sua saling bicara

mingguraya, titik temu kita semua
mingguraya, jabat erat kita jumpa

buang resahmu buang segera
kita sama saling cengkrama
dendangkan lagu irama suka
angkat jari tanganmu ke udara

mingguraya, o ya ya, semua kita gembira
mingguraya, o ya ya, semua kita suka-suka

/asa, mingguraya 2013

Raudal Tanjung Banua: API BAWAH TANAH




Data buku kumpulan puisi

Judul : Api Bawah Tanah
Penulis : Raudal Tanjung Banua
Cetakan : I, Oktober 2013
Penerbit : Akar Indonesia, Yogyakarta
Tebal : xvi + 160 halaman (60 puisi)
ISBN : 979998398-3
Desain cover : Nur Wahida Idris
Foto cover : Rama Surya, “Forest Fire; Image of Borneo
Desain isi : Frame-art

Api Bawah Tanahterdiri dari 3 bagian, yaitu Bait-bait Kepulauan (38 puisi), Bandul Dunia Baru (4 puisi) dan Taman Rawa Bandar Sepuluh (18 puisi).

Beberapa pilihan puisi Raudal Tanjung Banuadalam Api Bawah Tanah

Teka-teki Riau
                                                -sebuah variasi teka-teki rakyat

berpayung bukannya raja
bersisik bukannya ikan
dulu kau bilang nenas jawabnya
sekarang raja-ikan-nenasnya hilang
tak ketemu jawabannya!

/Pekanbaru, 2005


Dalam Hutan
                        (mengenang ajamuddin tifani)

dalam hutan, paru-paruku bernafas penuh
kepada tuhan. hutan dalam
menyimpan nafas penciptaan
di sini ruh sepasang kera
ditiupkan, sebelum akhirnya mengembara
dari dahan ke dahan: kesepian manusia,
            o, kesepianku juga!

/Banjarmasin, 2004- Yogja, 2005

M Aan Masyur: MELIHAT API BEKERJA




Data buku kumpulan puisi

Judul : Melihat Api Bekerja
Penulis : M Aan Masyur
Cetakan : I, 2015
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Tebal : 160 halaman (54 puisi)
ISBN : 978-602-03-1557-7
Ilustrator : emte
Desain sampul dan isi : emte
Pengantar : Sapardi Djoko Damono (Mendengarkan Larik-larik Aan Masyur)

Beberapa pilihan puisi M Aan Masyur dalam Melihat Api Bekerja

Sajak buat Seseorang
yang tak Punya Waktu
Membaca Sajak

Kata-kata bukan jembatan yang
bisa membuat sepatumu tidak
tersentuh lumpur. Kata-kata bukan
kendaraan yang pandai melayang
dan menghindarkanmu dari
kemacetan. Kata-kata tak ingin
jadi senjata untuk kaugunakan
membunuh atasanmu. Kata-kata
adalah awan yang mengamati
jendela kamarmu menjelang
matahari tenggelam. Pernahkah
kau membayangkan bagaimana
rasanya memiliki awan sebagai
hewan peliharaan? Ia lebih setia
dari kebiasaan buruk.

###

Sapardi Djoko Damono: AYAT-AYAT API



 
Data buku kumpulan puisi

Judul : Ayat-ayat Api
Penulis : Sapardi Djoko Damono
Cetakan : II, 2008 (cet. I, 2006)
Penerbit : PT Pustaka Utama Grafiti, Jakarta.
Percetakan (cet. II) : PT. Temprina, Bekasi.
Tebal : viii + 149 halaman (54 puisi)
ISBN : 978-979-444-437-5
Perancang sampul dan vignet : Budi Indra Cahaya

Ayat-ayat Api terdiri atas 3 bagian, yaitu ayat nol (15 puisi), ayat arloji (33 puisi) dan ayat api (6 puisi).

Beberapa pilihan puisi Sapardi Djoko Damono dalam Ayat-ayat Api

ADA POHON BERNAPAS

ada pohon bernapas jauh dalam diri kita
di setiap helaannya seratus burung pulang
mendengar cericit anak-anaknya

ada pohon bernapas jauh dalam diri kita
di setiap hembusannya seratus warna bunga
berhamburan menyambut godaan cahaya


SONET: KAU BERTANYA APA

                                                                        untuk Wing Kardjo

Kau bertanya apa masih ada harapan. Mungkin masih,
di luar kata. Di dalam kata terdengar tak putus-putusnya
suara orang berkotbah, berceramah, dan berselisih.
Sementara kita mengemis, mencuri, berebut jatah.

menjarah, atau menjadi gila; sementara kita menyaksikan
rumah-rumah terbakar, jaringan telepon putus,
pohon-pohon tumbang – di dalam kata masih saja
setiap aksara dipertanyakan asal-usulnya, setiap desis

diusut keterlibatan maknanya. Konon, dulu,
di dalam kata pernah terdengar desau gerimis kecil,
cericit anak-anak burung, suit daun jatuh,
dan langkah kabut pagi. Konon, dulu, pernah terdengar kita

saling berbisik. Kau bertanya apa masih ada harapan.
Ada yang menunggu kita di luar kata, mudah-mudahan.