Data buku kumpulan puisi
Judul : Semesta Maulana
Rumi
Penulis : Jalaluddin Rumi
Penerjemah : Abdul Hadi W.M.
Cetakan : I, Februari 2016
Penerbit : DIVA Press, Yogyakarta.
Tebal : 276 halaman (143 puisi)
ISBN : 978-602-391-117-2
Editor : Rusdianto
Tata sampul : Ong Hari
Wahyu
Tata isi : Violetta
Pracetak : Antini, Dwi,
Wardi
Semesta Maulana Rumi dibagi ke dalam 2 bagian, yaitu Matsnawi (39 puisi) dan Diwan
Shamsi Tabriz (104 puisi)
Beberapa pilihan puisi Jalaluddin Rumi dalam Diwan Shamsi Tabriz
73
Bulan puasa telah
datang, larangan raja mulai
berlaku; jauhkan tanganmu dari makanan,
hidangan
rohani telah tersedia.
Roh telah terbebas
dari pengasingan dirinya dan
membekuk tangan tabiat; hati sesat
telah kita taklukkan
dan pasukan iman telah sampai.
Bila pendengkur
telah angkat-tangan siap ditawan,
dari api penyala api jiwa datang dengan
ratapan.
Sang lembu begitu
molek, Musa bin Imran muncul;
melalui ia si mati hidup kembali bila
badannya telah
menempuh upacara korban.
Puasa adalah upacara
korban kita, ia adalah
kehidupan bagi jiwa kita; mari kita
korbankan badan
kita, karena jiwa telah datang menjadi
tamunya.
Iman yang teguh
adalah awan lembut, kearifan
adalah hujan yang tercurah darinya,
karena di bulan
iman ini Al-Qur’an diwahyukan.
Bila jiwa badani
dikendalikan, roh akan mi’raj ke
langit, bila pintu penjara dirubuhkan,
jiwa sampai ke
pelukan Kekasih.
Hati telah menukar
tabir gelapnya dan mengepak
sayapnya ke angkasa, hati, yang
berwujud malaikat,
sekali lagi tiba di tengah mereka,
Tangkap cepat tali
dari badannya; di atas perigi
teriakkan, “Yusuf dari Kana’an telah
tiba!”
Ketika ‘Isa
tercampak dari keledainya maka doanya
diterima Tuhan, cucilah tanganmu,
karena Hidangan dari
langit telah datang.
Cuci tangan dan
mulutmu, jangan makan atau
bercakap-cakap; carilah kata dan suapan
nasi yang
diturunkan bagi ia yang diam.







