Senin, 05 Maret 2012

Endang Supriadi: LUMPUR DI MULUTMU


Data buku kumpulan puisi

Judul : Lumpur di Mulutmu
Penulis : Endang Supriadi
Cetakan : I, 2010
Penerbit : Pustaka Yashiba.
Tebal  : 68 halaman (50 puisi)
ISBN : 978-979-17857-2-0
Desain sampul dan tata letak : Dewi Prenji

Beberapa pilihan puisi Endang Supriadi dalam Lumpur di Mulutmu

Lumpur di Mulutmu

terlalu lama lumpur mendekam di mulutmu
suara tajam sms yang masuk, sama misterinya
dengan suara ambulan yang lewat di depan kita
siapa yang kirim pesan dan siapa yang berpulang
lebih dulu? Tanda-tanda itu terus bertengger di puncak waktu
(kita akan segera tahu setelah semua terbuka)

di ujung pisau buah apel menancap. bagian mana
akan kamu bilang renyah, garing seperti kulit kepiting?
aku surati kamu sepanjang tahun agar mati
tak hilang nama, agar rindu tak hilang rupa, agar jumpa
tak hilang sapa. tapi menunggu satu menit saja untuk saat ini,
rayap pemamah akan menghilangkan satu kaki penyangga
tempat di mana kita bernaung dan berlindung

cuaca berjudi dengan waktu. matahari menuruni hujan
para nelayan lempar jangkar di pasar, gelombang
bersarang di pengadilan, angin berpusing di pekuburan
dan kamu memasang umpan di tengah lapang, berbisik
di tengah ledakan demonstran, meraup pasir di atas
sampah yang terbakar. oh perempuanku, di bumi mana
kita akan beranak pinak kalau sebuah peta
tak menyediakan lagi lahan untuk tempat tinggal kita?

Citayam, 2006/2007

Minggu, 04 Maret 2012

KEBUN MAWAR RAHASIA



Data buku kumpulan puisi

Judul : Kebun Mawar Rahasia
Penulis : Sa’duddin Mahmud Syabistari
Cetakan : I, Agustus 2001
Penerbit : Risalah Gusti, Surabaya
Tebal  : xvi + 154 halaman; 17,5 cm (72 puisi)
ISBN : 979-556-044-1
Penerjemah dari Bahasa Inggris : Ribut Wahyudi
Perancang sampul : Mas Ong
Judul asli : Gulshan-i-Raz (bahasa Persia), diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh Florence Lederer menjadi The Secret Rose Garden.

Beberapa pilihan puisi Sa’duddin Mahmud Syabistari dalam Kebun Mawar Rahasia

Anggur Pesona

Anggur, yang terbakar oleh cahaya
dari wajahnya,
menyemburkan gelembung-gelembung
sebagaimana dunia materi dan dunia-jiwa
yang muncul laksana selubung-selubung
bagi para wali
Nalar semesta yang menyaksikan
begitu terheran
Jiwa Semesta runtuh ke penghambaan

Teguklah anggur! Karena mangkok itu
sesungguhnya wajah Sahabat.
Teguklah anggur! Karena piala
adalah matanya, yang mabuk dan
melayang-layang oleh anggur.
Teguklah anggur! Dan lepaskan
diri dari bekunya kalbu,
karena seorang pemabuk lebih baik
dari sang pemuas-diri

Selasa, 14 Februari 2012

Ali Syamsudin Arsi: BUNGKAM MATA GERGAJI



Data buku kumpulan puisi

Judul : Bungkam Mata Gergaji
Penulis : Ali Syamsudin Arsi (Asa)
Cetakan : I, Februari 2011
Penerbit : Framepublishing, Yogyakarta
Tebal : xiv + 148 halaman (40 judul)
ISBN : 978-979-16848-4-7
Desain isi : Indrian Koto
Gambar cover  : Darvies Rasjidin (Pintu Larangan)
Desain cover : Nur Wahida Idris

Beberapa pilihan puisi Ali Syamsudin Arsi (Asa) dalam Bungkam Mata Gergaji

Semakin Terbuka

Bersuaralah tanpa ada batas-batas, menulislah tanpa ada titik-titik. Jangan biarkan tekanan demi tekanan menyelimuti sampai akhirnya tersungkur karena bentangan garis pembatas. Bersuaralah tanpa harus melihat ke kiri atau ke kanan, menulislah sampai tak tampak lagi apa yang seharusnya disampaikan. Mimpi yang terkepung dengan semua hasrat berjalan sendiri-sendiri di kerikil cadas semilir angin berhenti dalam. Sunyi kembali. Kalimat terpotong. Sunyi kembali. Wacana tak ada yang dapat diterima. Yang di luar dari kepentingan, enyah sajalah sebelum diusir secara kasar, demo tak ada ujungnya, protes tak akan didengar juga. Berdiri di titik saling berhadap-hadapan adalah kata sepakat, tapi paling sakit dari segala langkah. Malam datang engkau tetap termangu dalam menunggu. Hei, ada berita bahagia atas segala pinta, Chairil Chairil Chairil, menyebut sebuah nama yang rasa-rasa sulit dilupakan, Tardji Tardji Tardji, sejak itulah orang-orang semakin mempersempit jalan dan melayang di tatap matanya Rendra Rendra Rendra.
Keterbukaan yang menyeruak ke akar-akar ternyata membentuk kotak-kotak cahayanya sendiri dengan memisahkan bagian-bagian dan sampai pada akhirnya tidak mau menerima apa pun yang dilakukan oleh orang lain, oleh segala sesuatu yang berada di luar dari bagiannya. Kebersamaan seperti orang-orang pesimis memandang lurus harapan dibentang, tetapi kata sepakatnya adalah harus melebihi kepentingan orang lain karena ada tujuan terselubung di balik layar lebar sebagai tontonan, masa depan adalah kami, masa kini lebih dari sekedar kami, dan masa lalu biarlah kalian yang memiliki, seperti mimpi-mimpi itu sendiri. Terjerat di sudut kelambu. Kami terlalu pahit merasakan
kami terlalu sakit dibebankan. Ranjang kami pun dirampas paksa. Kursi goyang kami pun dijarah dengan bentakan sekeras halilintar. Kompor kami ditendang tanpa dapat memunguti isinya yang tumpah ke parit-parit. Kami adalah orang-orang tersingkir dari tanah negeri kami sendiri. Kami lebih rendah dari sampah yang masih ada memunguti

Selasa, 07 Februari 2012

Gus tf: DAGING AKAR




Data buku kumpulan puisi

Judul : Daging Akar, Sajak-sajak 1996 - 2000
Penulis : Gus tf
Cetakan : I, Oktober 2005
Penerbit : Penerbit Buku Kompas, Jakarta
Tebal : xiv + 70 halaman (38 puisi)
ISBN : 979-709-225-9
Desain Sampul & Ilustrasi : A.N. Rahmawanta
Penata letak : Chris Verdiansyah
Catatan pembaca : Sapardi Djoko Damono

Daging Akar terdiri atas 2 bagian, yaitu Daging (19 puisi, 1997-1998) dan Akar (19 puisi, 1996-2000)

Beberapa pilihan puisi Gus tf dalam Daging Akar

Daging Akar

         akhirnya, siapa kausebut kini: Si serat dingin
ataukah daging yang terjanji? Seperti takdir, sosoknya
rebah membuntuti. Hanya pada waktu ketika bergerigi,
akan bisa kutangkap ia: Saat mengerut dalam diri.

         akhirnya, siapa kautangkap kini: Si serabut mati
ataukah sel yang berjalin? Seperti lilin, nyalanya lirih
terpantul cermin. Hanya di pedih-akar ketika terpilin,
akan bisa kuraih ia: Jawaban lain untuk dunia lain.

Johor Bahru, 1999

Minggu, 05 Februari 2012

H.B. Jassin: DARAH LAUT


Data buku kumpulan puisi

Judul : Darah Laut, Kumpulan cerita pendek dan puisi
Penulis : H.B. Jassin
Cetakan : I, 1997
Penerbit : Balai Pustaka, Jakarta
Tebal : xvi + 88 halaman (15 puisi)
ISBN : 979-666-048-2
Pengantar : Sapardi Djoko Damono
Penyunting : Venus Khasanah
Desain Sampul : Mas’ud

Beberapa pilihan puisi H.B. Jassin dalam Darah Laut

Kesasar di dalam Pikiran

Pernah kubaca, manusia angkuh berkata:
“Akulah puncak segala yang sudah.
Dan mengandung segala yang datang.”

Sunglap kata, sunglap pikiran,
Ahli pikir, ahli penyair, pujangga-pujangga.
Semua mereka berputar-putar
Ke sasar di dalam pikiran
Semua suara ‘lah pernah kudengar,
Yang bodoh, yang bijaksana,
Yang bijaksana sebijaksananya,
Berpuluh abad sudah tuanya.
Tiada ubah-ubahnya,
Ah, membosankan belaka,
Permainan khayal bagi orang tiada bekerja,
Melupakan dunia yang nyata.

1943


Ciptakan Dunia Bahagia

Alangkah rapuh badan manusia
Walau seabad hidup di dunia
Hanya sedetik di samudra masa,

Lebih lama waktu terasa
Lebih hebat menderita raga dan jiwa
Oleh dikacau nafsu kebendaan,

Di atas bumi sedang berputar
Hilangkan angkara murka
Ciptakan bahagia di stasiun antara
Dari keabadian ke keabadian

1945

Jumat, 03 Februari 2012

Beni Setia: LEGIUN ASING


Data buku kumpulan puisi

Judul : Legiun Asing, Tiga Kumpulan Sajak
Penulis : Beni Setia
Cetakan : III, 1993 (Cet. I - 1987)
Penerbit : Balai Pustaka, Jakarta
Tebal : 60 halaman (48 puisi)
ISBN : 979-407-085-8
Gambar kulit dan vignet : Motinggo Busye

Beberapa pilihan puisi Beni Setia dalam Legiun Asing


di trotoar bersama orang pulang kerja
aku jadi orang ketiga. Juga bagi diri

bersama. Berjalan dan membayang pada etalase
aku merasa tak bersama dengan yang mengada
pada kaca. Dengan galauan dan gegasan kota

orang-orang bergumam, orang-orang membungkam,
orang-orang tak saling menandai. Aku menangis

terkadang seperti ada yang mengawasi dari langit
menyimak dengan kebisuan tak berperasaan
dengan dugaan-dugaan asyik dalam benak

di trotoar ada yang berjalan-jalan. Melangkah
dan meludah. Melangkah dan meludah

1980


Rabu, 01 Februari 2012

Mochtar Pabottingi: DALAM RIMBA BAYANG-BAYANG

-->

Data buku kumpulan puisi

Judul : Dalam Rimba Bayang-bayang
Penulis : Mochtar Pabottingi
Cetakan : I, Januari 2003
Penerbit : Penerbit Buku Kompas, Jakarta
Tebal : lvi + 128 halaman (31 puisi)
ISBN : 979-709-051-5
Kata pengantar : Ignas Kleden (Puisi sebagai Medium: Sajak-sajak Mochtar Pabottingi)
Catatan penutup : Joko Pinurbo (“Bertutur ketika Salju”: Janji Baik Mochtar Pabottingi)
Desain Sampul & Ilustrasi : Rully Susanto


Beberapa pilihan puisi Mochtar Pabottingi dalam Dalam Rimba Bayang-bayang

Suatu Malam di Honolulu

Seorang setengah baya
Melantunkan lagu-lagu Hawaii
Dengan gitar. Di sidewalk Waikiki

“Untuk tuan-tuan. Untuk nyonya-nyonya
Untuk tuan-tuan dan nyonya-nyonya!” serunya
Ke segenap turis yang lalu lalang
“Kunyanyikan sendiri
Beberapa lagu hasil piringan hitamku
Dari dua puluh lima tahun lalu.”

Di sepanjang deretan stalls penjual accessories
            dan perhiasan-perhiasan emas palsu
            para turis berkulit udang matang mengalir tiada henti
            dengan pakaian-pakaian santai
            dengan bikini atau sekedar handuk terlilit

Mereka menengok sejenak kepada sang penyanyi
Ada yang mengangguk-angguk tersenyum. Ada yang tercenung
Satu-dua melemparkan kepingan-kepingan dimes dan quarters
            yang jatuh di dekat topi tampung

Seorang dengan seragam penjaga Istana Eropa
Melangkah tegap dalam upacara bendera. Di King’s Village
Dengan ayunan-ayunan lincah senapan kuno
Mungkin mengimbau Captain Cook. Yang tewas di sini
Yang ruhnya bangkit kembali. Bersama Hawaii Five-O

Minggu, 08 Januari 2012

Joko Pinurbo: KEPADA CIUM


Data buku kumpulan puisi

Judul : Kepada Cium
Penulis : Joko Pinurbo
Cetakan : I, Februari 2007
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Tebal : 42 halaman (33 judul puisi)
ISBN-10 : 979-22-2716-4
ISBN-13 : 978-979-22-2716-1
Desain Sampul : Koskow
Foto sampul : Dewi Nugraheni
Drawing halaman dalam : Mirna Yulistianti

Beberapa pilihan puisi Joko Pinurbo dalam Kepada Cium

Pemulung Kecil

Tengah malam pemulung kecil itu datang
memungut barang-barang yang berserakan
di lantai rumah: onggokan sepi, pecahan bulan,
bangkai celana, bekas nasib, kepingan mimpi.

Sesekali ia bercanda juga:
“Jaman susah begini, siapa suruh jadi penyair?
Sudah hampir pagi masih juga sibuk melamun.
Lebih enak jadi teman penyair.”

Dikumpulkannya juga rongsokan kata
yang telah tercampur dengan limbah waktu.
Aku terhenyak: “Hai, jangan kauambil itu.
Itu jatahku. Aku kan pemulung juga.”

Kemudian ia pergi dan masuk ke relung tidurku.

2006


Kepada Puisi

Kau adalah mata, aku airmatamu.

2003

Kamis, 05 Januari 2012

Ajip Rosidi: PANTUN ANAK AYAM


Data buku kumpulan puisi


Judul : Pantun Anak Ayam
Penulis : Ajip Rosidi
Cetakan : III, 2008 (cetakan I, 2006)
Penerbit : PT Dunia Pustaka Jaya, Jakarta
Tebal : 40 halaman (29 judul pantun)
ISBN : 978-979-419-337-2


Beberapa pilihan puisi / pantun Ajip Rosidi dalam Pantun Anak Ayam

Pantun Musim Rontok

Di musim rontok daun berubah warna
menjadi kuning, merah, lalu berguguran;
Dalam hidup tak terasa usia menjadi tua
sedang denganmu tak sempat berteguran

Angin dingin mulai keras meniup
suhu menurun dari hari ke hari;
Jalan berliku sepanjang hidup
ketentuanmu penuh misteri

Di musim rontok di musim momiji*
udara dingin daun pun gugur;
Kurenungi nasib penuh misteri
kasihmu tak henti mengucur

* momiji, saat ketika daun-daun berubah warna sebelum gugur pada musim rontok

Rabu, 04 Januari 2012

Eko Suryadi WS: ELEGI NEGERI SERIBU OMBAK


Data buku kumpulan puisi

Judul : Elegi Negeri Seribu Ombak
Penulis : Eko Suryadi WS
Cetakan : I, Maret 2010
Penerbit : Framepublishing, Yogyakarta
Tebal : xxxiii + 82 halaman (51 judul puisi)
ISBN : 978-979-16848-2-8
Penyunting : YS. Agus Suseno
Gambar cover : Abu Bakar
Desain cover : Nur Wahida Idris
Prolog : Jamal T. Suryanata (Aku, Kau, Kita: Menandai Personalitas Sajak-sajak Eko Suryadi WS)
Epilog : Faruk (Kebuau: tentang Artikulasi dan Pengalaman Lokal Orang Banjar)



Beberapa pilihan puisi Eko Suryadi WS dalam Elegi Negeri Seribu Ombak

Di Langit Kota Ada Menara

Di atas langit kota ada menara
            Sajak-sajak dibacakan
Penyair bersayap terbang menjadi dewa
            Mengangkangi bulan

            Mimpi-mimpi mereka hampari
seperti permadani
            Sepanjang jalan

Para penyair adalah kunang-kunang cahaya indah
            Ketika malam demam kata-kata

Pergantian siang  dan malam
            Penyair di antaranya

            Di langit kota ada menara

Kudus, 2008

Senin, 02 Januari 2012

Chairil Anwar: KERIKIL TAJAM DAN YANG TERAMPAS DAN YANG PUTUS


Data buku kumpulan puisi


Judul  : Kerikil Tajam dan yang Terampas dan yang Putus
Penulis : Chairil Anwar
Cetakan : XVI, 2007)
Penerbit : PT. Dian Rakyat, Jakarta
Tebal : 56 halaman (38 puisi)
ISBN : 979-523-065-4
Kulit muka : Su Lan
Vignet : O. Effendi

Beberapa pilihan puisi Chairil Anwar dalam Kerikil Tajam dan yang Terampas dan yang Putus

Nisan
Untuk Nenekanda

Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridlaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
Dan duka maha tuan bertakhta

Oktober 1942


Sendiri

Hidupnya tambah sepi, tambah hampa
Malam apa lagi
Ia memekik ngeri
Dicekik kesunyian kamarnya

Ia membenci. Dirinya dari segala
Yang minta perempuan untuk kawannya

Bahaya dari tiap sudut. Mendekat juga
Dalam ketakutan-menanti ia menyebut satu nama

Terkejut ia terduduk. Siapa memanggil itu?
Ah! Lemah lesu ia tersedu: Ibu! Ibu!

Pebruari 1943

Minggu, 01 Januari 2012

Arsyad Indradi, Eza Thabry Husano, Hamami Adaby: TIGA KUTUB SENJA


Data buku kumpulan puisi

Judul : Tiga Kutub Senja
Penulis : Arsyad Indradi, Eza Thabry Husano, dan Hamami Adaby
Cetakan : I, Juli  2001
Penerbit : Kilang Sastra Batu Karaha, Banjarbaru
Tebal : x + 70 halaman (masing-masing penyair 15 judul puisi)
Gambar sampul : Arsyad Indradi
Editor : Eza Thabry Husano
Catatan penutup: Hijaz Yamani


Beberapa pilihan puisi Arsyad Indradi dalam Tiga Kutub Senja

Zikir Senja

Tak terbaca lagi ayatayat
Yang Kau hampar sepanjang perjalanan
Menuju rumahMu
Tak mungkin kembali
Menangkap AlipLamMim dari pintu bumi
Kandang dombadomba yang lapar
Semakin jauh berjalan
Kucurigai langit
Menyembunyikan bintangbintangMu
BulanMu bahkan matahariMu
Kucurigai laut
Menyentuh kakiku
Buihbuih merajah pausMu yang kian punah
Jasadku untaunta
Rohku kafilahkafilah
Di gurungurun bukit Thursina
Kucurigai rumahMu lengang
Kucurigai mengapa Kau tunggu aku
Di Jabal Rahmah
Aku
Anak Adam
Yang tersesat di sajadahMu

Banjarbaru, 2000

Sabtu, 03 Desember 2011

Y. Thendra BP: MANUSIA UTAMA


Data buku kumpulan puisi

Judul : Manusia Utama, kumpulan puisi 2006-2011
Penulis : Y. Thendra BP
Cetakan : I, April 2011
Penerbit : Indie Book Corner, Yogyakarta
Tebal : 53 halaman (42 judul puisi)
ISBN : 978-602-9149-07-4                             
Penyunting : Irwan Bajang
Foto sampul : Indrian Koto

 Beberapa pilihan puisi Y. Thendra BP dalam Manusia Utama


Taman Bermain

di taman bermain
merendah angin pada bunga bunga
dua kanak-kanak berkejaran dalam mata
dua kanak-kanak dalam diri bicara

+ kita mau ke mana?
-  ke mana saja asal ada tempat bermain
+ hari sudah petang
-  aku belum mau pulang


Nokturnal

suara mesin dalam kepala
getar dada melintasi negeri malam
cahyamukah mendera kaca jendela kereta?
ada panggilan tak terjawab di telepon genggam