Selasa, 01 April 2014

Ali Syamsudin Arsi: PESAN LUKA INDONESIAKU


Data buku kumpulan puisi

Judul: Pesan Luka Indonesiaku
Penulis: Ali Syamsudin Arsi (Asa)
Cetakan: I, Oktober 2005
Penerbit: Swakelola Satu Warna, Banjarbaru.
Tebal: 61 halaman (13 puisi)
Sampul dan Perwajahan isi : Harie Insani Putra

Beberapa pilihan puisi Ali Syamsudin Arsi (ASA) dalam Pesan Luka Indonesiaku

Orang-orang Hilang Dalam

orang-orang hilang dalam
gelembung sabun di ujung jemari ibu-ibu
perempuan yang tetap setia melahirkan
anak-anak di hempasan riak
memperderas arus dari luncuran embun pada
tangkai dahan bulir-bulir merunduk padi
hari-hari menjadi sedih mendanaukan luka di air mata

orang-orang hilang dalam
lapisan kulit kayu hutan dari ranting tanpa akar
tercerabut di gelak tawa dengan bibir retak tengadah
berwajah kayu; mempersombongkan getah daun berderak
ketika dendam dahan yang ternista
tinggal menunggu hitungan; alasan demi alasan
di persembunyian rebahan duri-duri
telinga pun membatu mata pun membatu tangan pun membatu
nadi pun membatu jantung pun membatu hidung pun membatu
darah pun membatu selangkang pun membatu otak pun membatu
bibir pun membatu tulang pun membatu; nama-nama membatu

orang-orang hilang dalam
selongsong mesiu di reruntuhan pijarnya matahari
kehilangan bayang ketika senyap memperlambat jalan
pernyataan-pernyataan yang terpahat di tingkah
muka-muka kayu, dari ketinggian tempat kaki berdiri
yang lain adalah sepi
kokok ayam di pagi-pagi pun dianggap sepi
kedut ujung mata sendiri pun dianggap sepi
desir air di celah batu pun dianggap sepi

orang-orang hilang dalam
lembar-lembar kusam catatan sejarah; kata-kata berdarah
ayat demi ayat mempertontonkan bulu mata terbakar
ucap demi ucap merentangkan nurani terbakar
menggunungkan tingginya keangkuhan di bukit khotbah
walau dalam kesabaran bumi tetap tak bisa diterima

orang-orang hilang dalam
ketajaman kilau mata luka belati; angin membias dilibas
mengatasnamakan percik darah kecurigaan
di rerimbun buangan anak sungai pembalasan

orang-orang hilang dalam
gegap-gempitanya kepalan tangan
di tengah persekongkolan

orang-orang hilang dalam
kardus-kardus kaca penyeludupan
di tengah raung kemiskinan

orang-orang hilang dalam
lubang-lubang hutan menganga di tengah ketidakadilan

banjarbaru, desember 2003

Iswadi Pratama: GEMA SECUIL BATU


Data buku kumpulan puisi

Judul: Gema Secuil Batu
Penulis: Iswadi Pratama
Cetakan: I, Oktober 2008
Penerbit: Akar Indonesia, Yogyakarta.
Tebal: 96 halaman (49 puisi)
ISBN : 978-979-16848-6-6
Supervisi : Joni Ariadinata
Penyunting : Raudal Tanjung Banua
Desain isi dan cover : Nur Wahida Idris
Ilustrasi cover : Dalbo Swarimbawa, “Tanpa Batas”, Acrilik, 2007

Beberapa pilihan puisi Iswadi Pratama dalam Gema Secuil Batu

Gema Secuil Batu
            - SS

ada yang terus menjauh
kebun randu, rumpun perdu, dan angin abu-abu
seperti tepukan pada batu

lalu dongeng-dongeng baru
menutup semua jendela dan pintu
di belakang matamu

di depan langkahmu, tak ada ibu
sungai tempat segala kenang terasa hijau
mengalir ke lubuk lampau

di situ kau melemparkan secuil batu
dan menunggu gemanya sepanjang harap
lalu kau pun tahu, ada yang tak bisa lenyap

tak mungkin lengkap

2005

Abdul Hadi W. M.: POTRET PANJANG SEORANG PENGUNJUNG PANTAI SANUR

 

Data buku kumpulan puisi

Judul: Potret Panjang Seorang Pengunjung Pantai Sanur, Kumpulan Sajak (1967-1971)
Penulis : Abdul Hadi W. M.
Cetakan: I, 1975
Penerbit: PT Dunia Pustaka Jaya, Jakarta
Seri: PJ 167
Tebal: 68 halaman (39 judul puisi)
Gambar jilid: Popo Iskandar
Dicetak oleh: Yamunu, Jakarta

Beberapa pilihan puisi Abdul Hadi W. M. dalam Potret Panjang Seorang Pengunjung Pantai Sanur

Langit di Mana-mana

Langit berjalan atas pohon-pohon. Di mana-mana
bayangan mereka di atas air, di atas pasir
dan gelap. Bintang-bintang seperti lampu-lampu yang ditaruh para
nelayan
dan bunyi-bunyian. Ditabuh senja pada batu karang
lapar itu, haus itu! Dan awan cair
menembus hatimu
Ayolah buyung, kaubaringkan tubuhmu
Tak ada bulan, tak ada nyanyian, bagi tumbuhan di bumi
Kami kan tidurkan kamu pada ranjang kayu
muara sungai dan musim kemarau
Ayolah buyung kautembangkan pucung belum tidur
baik di atas mimpimu, putri-putri buih naik ke badan
tengah malam dan jika bintang-bintang menembus sunyi para nelayan
perahu-perahu dagang yang tua, membersihkan laut, bayangan
Mereka di mana-mana. Dan gelap
Ayolah buyung tidur. Ombak sudah siap
menelan lelahmu. Dan dongengmu teramat bagus
Seperti penunggu muara sungai yang ramah itu
Dan bergegaslah pergi, ke mana-mana
Sebab langit di mana-mana. Dan mimpimu di mana-mana
Tanah air di mana-mana

1969

Mansur Samin: DENDANG KABUT SENJA

 

Data buku kumpulan puisi

Judul: Dendang Kabut Senja, tiga kumpulan sajak 1955 - 1970
Penulis: Mansur Samin
Cetakan: I, 1985
Penerbit: Gunung Agung, Jakarta.
Tebal: viii + 140 halaman (58 puisi)
Pencetak : PT Sumber Bahagia Jakarta

Kumpulan sajak Dendang Kabut Senja terdiri dari tiga kumpulan, yaitu Dendang (22 sajak), Kabut (21 sajak), dan Senja (15 sajak).

Beberapa pilihan puisi Mansur Samin dalam Dendang

Kenalan

Ke sana saja duduk, katanya pelahan
kamar, tilam seakan baru didandan
di pojok kembang delima, kaca dan dolanan segar
rumah dan santunnya memikat kawan di mana-mana
melupakan resah melepaskan duka gelisah
kadang semua dipasrahkan memenuhi malam
seolah kami berdua keluarga rukun di dunia

Kala gerimis mengamatinya di Pasarmanis
kunyalakan pelita: sandal, piring dan gauntua
seperti ada ia di sini memanggil darahku lagi
tapi dari kabar polisi terlambat sudah
Rukayah dilanggar mobil tadi pagi ke rumah sakit pusat
karena tiada pamili dimakamkan di tanah wakaf

Mendatangi desa di rimba wilayah selatan kukira
dari pusaka: ladang, risalah sederhana
bekas lurah menggundikinya tak tahu ke mana
di suratnya di bawah tikar yang lunyah
murid madrasah, anak wedana, anggota palangmerah
betapa mudahnya ia hadapi hidup serba warna
datang dan pergi menentukan jalan yang dipilih

Kini pun gerimis
di makamnya kembang delima telah berbunga
dan di balik hari
hidupku kluyuran larut berakhir entah di mana

Sugiarta Sriwibawa: GARIS PUTIH


Data buku kumpulan puisi

Judul: Garis Putih
Penulis : Sugiarta Sriwibawa
Cetakan: I, 1983
Penerbit: PN Balai Pustaka, Jakarta
Seri: BP No. 3169
Tebal: 64 halaman (45 judul puisi)
Perancang kulit : Hanung Sunarmono SD

Beberapa pilihan puisi Sugiarta Sriwibawa dalam Garis Putih

Album Hijau

Kapan kita terlahir kembali
Entah di mana, di suatu saat dan di suatu tempat
Saling memandang meski tidak saling mengenal lagi
Kehadiran masing-masing yang fitri

Mungkin di tepi hutan cendana yang rindang
Di ambang dusun kala pohon belimbing berkembang
Atau di antara kebun tebu
antara Surakarta dan Yogyakarta
Timbul tenggelam warna bajumu
hijau pupus, dan ayun anggun lenganmu

Pasti engkaulah itu
Dan telingamu pun tak akan asing
menyaring suara panggilanku

Atau seperti dahulu, di sebuah pesta perkawinan
Karena kita masing-masing diundang
Kala engkau tertegun beberapa jenak, lalu
menyapaku dengan pandang menunggu
dan harap-harap camas
(Ah, setidak-tidaknya demikianlah tafsiranku)
Dan sesaat aku malah mengelak
Tapi seketika pula aku mengenalmu
Setelah berhasil menghapus jarak waktu

Yakin daku, dalam penjelmaanmu nanti
Aku masih melihat lagi
anak rambutmu yang ikal pada lengkung dahi
dan sebuah jerawat suci di bawah pipi

Mungkin aku melihatmu di sebuah toko buku
Tanganmu membalik-balik buku sejarah dan candi
Mungkin pula engkau yang melihatku
dari balik jendela bis kota,
kala aku berjalan layung-layung
dengan setia dan merenung khayali

Mungkin pula nanti aku penyair setengah baya
Dan engkau mahasiswa peminat sastra
Atau barangkali dalam hati bertanya-tanya
Sekali waktu, nun dahulu entah di mana
Kita berdua pernah hidup seusia

Barangkali jua kita telah terlahir beberapa kali
Di suatu benua dan jaman yang bahagia
Sekalipun dengan nama lain dan usia berbeda
Tapi dengan indera dan naluri yang asali

Karena itu, duhai – puisi ini tercipta lagi
Dan bahwasanya kita masih akan terlahir kembali

Jakarta, 1982

Sabtu, 01 Maret 2014

dr. IBG Dharma Putra: TERIAKAN DIAM




Data buku kumpulan puisi

Judul : Teriakan Diam
Penulis : dr. IBG Dharma Putra
Cetakan : I, Januari 2011
Penerbit : Bali Kauh Publising, Bali.
Tebal : xvi + 72 halaman; 13,5 x 20 cm (44 judul puisi)
ISBN : 978-602-98344-1-3
Foto dan desain cover : Nanoq da Kansas (sekaligus penyunting)
Tata letak isi : I Gst. Kade Budi Astawa
Prolog : IBG Dharma Putra (Kredo Penyembuhan)
Epilog : Nanoq da Kansas (Cacat Psikologi yang Memanusiakan)

Beberapa pilihan puisi IBG Dharma Putra dalam Teriakan Diam

Hidup

Abiogenesis,
Air comberan penuh jentik
Kotor dan bau adalah sumber asal hidupku
Dan kita semua menjadi kumpulan manusia jerami

Nyatanya bukan dari sampah membusuk
Tabung lengkung berleher angsa
Buktikan sahih tentang hidup yang baru
Hidup nirmala terjaga suci
Seharusnya dijaga begitu

Katanya hidup bermula ledakan dasyat
Menyatunya empat unsur dasar
Oleh petir dan halilintar
Jadi amino yang masih sangat jauh
Berbatas protein, daging, badan dan jiwa

Linus Suryadi AG: LANGIT KELABU





Data buku kumpulan puisi

Judul : Langit Kelabu
Penulis : Linus Suryadi AG
Cetakan : I, 1980
Penerbit : PN Balai Pustaka, Jakarta.
Tebal : 75 halaman (57 judul puisi)
BP No. 2801

Beberapa pilihan puisi Linus Suryadi AG dalam Langit Kelabu

Lambaian-lambaian Sunyi

lambaian-lambaian sunyi
langit kelabu abadi
senandung senandung duka

lambaian-lambaian sunyi
langit kelabu abadi
adalah kehidupan hari kini

1971

Rifa’i ‘Ali: KATA HATI



Data buku kumpulan puisi

Judul : Kata Hati
Penulis : Rifa’i ‘Ali
Cetakan : II, 1975 (terbit pertama di Medan, 1941)
Penerbit : PT Dunia Pustaka Jaya, Jakarta.
Tebal : 48 halaman (34 judul puisi)
Seri : PJ. 254
Gambar jilid : Zaini
Dicetak oleh Firma Aries Lima, Jakarta

Beberapa pilihan puisi Rifa’i ‘Ali dalam Kata Hati

Surau Kami

Betul di jantung kesibukan dagang,
Di Java Street, Kuala Lumpur,
Di ujung delta Sungei Klang,
Berdiri mesjid permai teratur.

Ketiga kubatnya besar hitam,
Menara ramping bentukan India,
Di tengah pelataran kolam pualam,
Semuanya bersih putih mulia.

Rumput berkeliling dipangkas rendah,
Ditudungi berpuluh batang kelapa,
Walau panas menghawa timah,
Ini desa di tengah kota.

Awak letih tersandar ke tiang,
Angin datang bagai merayap,
Ditambah nyanyian Sungei Klang,
Timbullah kantuk, menguap-nguap.

Surau buruk di kampung kami,
Atap ijuk, papannya jarang;
Siapa lalu tak usah permisi
Tidur di situ malam dan siang.

Abdul Kadir Ibrahim: MENGUAK NEGERI AIRMATA: NADI HANG TUAH


 

Data buku kumpulan puisi

Judul : Menguak Negeri Airmata: Nadi Hang Tuah
Penulis : Abdul Kadir Ibrahim (AKIB)
Cetakan (gabungan): I, Januari 2010
Penerbit : Akar Indonesia, Yogyakarta.
Tebal : xxvi + 275 hlm; (132 puisi)
ISBN : 978-979-99838-5-5
Supervisi, desain cover : Joni Ariadinata
Penyunting : Raudal Tanjung Banua
Produksi : Nur Wahida Idris
Desain ini : Raban Tiruni
Gambar cover : Deddy PAW, The King of Kings (2009).
Prolog : Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono
Epilog : Drs. Abdul Malik, M.Pd

Menguak Negeri Airmata: Nadi Hang Tuah adalah dua kumpulan puisi digabung satu, yaitu 66 menguak (terbit 1: Bengkel Teater Bersama, Pekanbaru, 1991; terbit 2: Unri Press, Pekanbaru, 2004; 66 puisi) dan negeri airmata (Unri Press, Pekanbaru, 2004; 66 puisi).

Beberapa pilihan puisi Abdul Kadir Ibrahim (AKIB) dalam 66 menguak

20

ingat,
ingatingat
mata ke pandang lebih dekat
mulut ke rasa lebih dekat
hidung ke bau lebih dekat
telinga ke dengar lebih dekat
kulit ke daging lebih dekat
daging ke tulang lebih dekat
urat ke darah lebih dekat
jantung ke napas lebih dekat
dekat!
rapat
allah

pemangkat, kalbar, 1990

Samsir Mohamad: ANGIN BURANGRANG





Data buku kumpulan puisi

Judul : angin burangrang
Penulis : Samsir Mohamad
Cetakan : I, April 2007
Penerbit : Ultimus, Bandung.
Tebal : xii + 148 hlm; 14 x 20 cm (82 judul puisi)
ISBN : 979-99560-7-2
Editor : Bilven
Gambar sampul : S. E. Dewantoro
Desain sampul : Ucok
Foto belakang : Fajar
Sketsa wajah : Panji
Kata penutup : Prof. Drs. Jakob Sumardjo

Beberapa pilihan puisi Samsir Mohamad dalam angin burangrang

sajak dua baris

walau surga menanti
tak seorang berniat pergi
     *
walau amat pahit di bumi
selagi bisa elakkan mati
     *
egaliter baru di bahasa
dalam kehidupan belum nyata

2006

Syaiful Irba Tanpaka: KARENA BOLA MATAMU



Data buku kumpulan puisi

Judul : Karena Bola Matamu
Penulis : Syaiful Irba Tanpaka
Cetakan : I, Mei 2007
Penerbit : bukupop, Jakarta
Tebal : viii + 80 halaman; 13,5 x 20 cm (68 judul puisi)
ISBN : 978-979-1012-13-3

Beberapa pilihan puisi Syaiful Irba Tanpaka dalam Karena Bola Matamu

Penyair Cinta

aku penyair cinta. menulis kerinduan. 1000 tahun
tak sudah. menyeru-nyeru namamu. dari sepi malam
dari gemuruh siang. gelisah yang mengambang

aku mengembara. 1000 tahun
di negeri penuh bunga
dibasahi embun. digatali mimpi
menyaksikan gelombang
kasihku. kapan kita ketemu?

kalau aku bulan. kau purnamanya
kalau aku matahari. kau cahayanya
kalau aku lautan. kau ombaknya
kalau aku biola. kau iramanya
begitu hati menyala-nyala. padamu

aku penyair cinta. menulis puisi cinta. dari senyuman bibirmu
dari tatapan matamu. dari segala dirimu. asmara
membuatku mabuk dan menderita

Selasa, 04 Februari 2014

Ragil Suwarna Pragolapati: SALAM PENYAIR


Data Buku Kumpulan Puisi

Judul : Salam Penyair
Penulis : Ragil Suwarna Pragolapati
Cetakan : I, November 2002
Penerbit : Bentang Budaya, Yogyakarta (pernah terbit terbatas pada 26 Februari 1989 oleh SYS; Studiklub Yoga-Sastrapers)
Tebal : viii + 118 halaman (51 puisi)
ISBN : 979-3062-48-7
Penyunting : Mustofa W. Hasyim
Perancang sampul : Buldanul Khuri
Gambar sampul : Alfi
Pemeriksa aksara : Winarti, Yayan R. Harari
Penata aksara : Ari Y. A.

Beberapa pilihan puisi Ragil Suwarna Pragolapati dalam Salam Penyair


Puja-Puji untuk Petruk

Terpujilah namamu, Truk! Sekarang zaman keemasanmu
Kawula Republikku memuliakan kau, di tahta agungmu
Rezim Puntadewa-Bima-Arjuna-ku sudah lama bangkrut
Bharatayudha paripurna. Para seniormu gulung tikar
Gatotkaca-ku tewas. Padahal Parikesit-ku kurang siap
Langgenglah di tahta agungmu. Memerintah Republik!
Rakyatku sengsara butuh humormu. Pelipur frustrasi

Kaum wanitaku memujamu, Truk! Kau jangkung, anggun
Publikmu suka kau periang. Dukacita rakyatku hilang
Dalam nestapa seberat apa pun, Republikku tersenyum
Hidup pun jadi ringan. Tidak lagi serius dan ilmiah
Apalagi stafmu dari atas ke bawah seluruhnya pelawak
Hidup rakyatku bagai ringan-damai-nyaman karena tawa
Dungu-rakusmu bukanlah cacat-noda bagi politik humor

Dimuliakanlah dirimu, Truk! Ideologimu pun bersahaja
Dua tanganmu mengomando ke atas, dua telunjukmu searah
Jikalau tangan kirimu lepas, terkulai mengurus bawah
Telunjuk kirimu menuding belakang. Jari kanan ke depan
“Rujak sentul!” keluhan orang. Itulah politik lawakan
“Ke selatan!” perintah atasan. Kawulaku pun ke selatan
“Ke utara!” tafsir bawahan. Rakyatku pun wajiblah paham

Salam, Truk! Di zamanmu, Republikku bagaikan makmur
Seluruh lelaki hamil, perut gendut, meniru sosokmu
Sirnalah duka-nestapaku, Indonesiamu berpesta humor-mu
Lapar dan miskinku terlipur. Tawa jadi obat mustajab
Republikku turun-temurun milikmu. Inilah dinasti lawak

Jakarta, 1986; Yogyakarta, 1988

Komang Ira Puspitaningsih: KAU BUKAN PERAWAN SUCI YANG TERSEDU


Data Buku Kumpulan Puisi

Judul : Kau Bukan Perawan Suci yang Tersedu
Penulis : Komang Ira Puspitaningsih
Cetakan : I, Mei 2012
Penerbit : Ning (ning.publising@yahoo.com)
Tebal : 104 halaman (44 puisi)
ISBN : 978-602-19629
Editor : Komang Ira Puspitaningsih
Desain isi: JR Wahyu
Ilustrasi isi : Dwi S Wibowo, Yulwinar Eka Saputra
Desain dan foto cover : Ibed Surgana Yuga
Sketsa profil : D. Zawawi Imron

Beberapa pilihan puisi Komang Ira Puspitaningsih dalam Kau Bukan Perawan Suci yang Tersedu

Kau Bukan Perawan Suci yang Tersedu
: saras

Aku tak sedang menyulam
kenangan
Atau menyeberangkanmu
ke musim yang semi

Tanamlah jarum sulamku
Menjadi semak berdaun duri
Sebelum bandul pendulum itu
Menjemputmu,
bayanganmu
Menjemput semua yang luput
dari matamu

Aku tak sedang memintal tangismu
jadi nasib baik
Roda pemintal telah kuistirahatkan

Kau bukan Saraswati
Yang menggugurkan helai-helai teratai
di tangan kirinya
Bukan juga perawan suci
yang tersedu

Tuhan tak akan berkata di telingamu
Karena angsa-angsa pergi
Meninggalkan rebab, genitri, dan
keropak meragu, juga
tangkai teratai yang layu

Jogja, 2005


Kerikil Berjatuhan dari Langit
                : tsabit kalam banua

Tiba-tiba
Kerikil berjatuhan dari langit
Menjelma hujan yang
membangunkan tidurmu

Lalu kau memanjat jendela
Mengintip halaman perlahan
Mengintip hujan, pohon-pohon kedinginan
dan ayunan basah