Jumat, 02 Oktober 2015

Saiful Anam (Satria Mahardika): SULUK MAHARDIKA




Data buku kumpulan puisi

Judul: Cahaya-Cinta, SULUK MAHARDIKA
Penulis: Saiful Anam (Satria Mahardika)
 Penerbit: Cahaya Nusantara, Banyumas, Jawa Tengah
Cetakan : I, Agustus 2015
Tebal : xiv + 330 halaman (232 puisi)
ISBN : 978-602-7731-55-4
Editor : M. Alwi Fuadi
Pelukis cover : Nasirun
Desain cover : CNstudio
Pewajah isi : Hendri Purbo Waseso
Pengantar : KH. Slamet Effendy Yusuf

Untuk bagian puisi, Suluk Mahardika terbagi atas 7 sub bagian, yaitu Cahaya Keagungan (30 puisi), Kesatuan Gerak Semesta (40 puisi), Tapal Batas di Ruang Hidup (55 puisi), Wanita dan Warna Indah Kehidupan (20 puisi), Cahaya Cinta (29 puisi), Menapak Peradaban Leluhur (32 puisi), Kemerdekaan Negeri (23 puisi) + 3 puisi yang menjadi pembuka di bagian lain.

Beberapa pilihan puisi karya Saiful Anam dalam Suluk Mahardika

# Laku Jalan Trabas

Ruang hidup ibarat belantara lebat yang penuh dengan ancaman…
Tak mudah untuk melalui-nya dan sampai pada tujuan…
Sejumlah jalur tersedia untuk dapat mencapai tujuan…
Terdapat juga jalur khusus yang tersembunyi…
Medan begitu berbahaya penuh resiko…

Dalam perjalanan mencapai tujuan…
Membutuhkan daya untuk dapat melangkah…
Tekad serta kewaspadaan juga sangat penting untuk berjejak…
Apalagi menapak di jalan trabas (jalur khusus), yang hanya
berpetunjuk singkat;

Mlaku, madep, mantep, mbudeg lan micek…

Kita harus mlaku (berjalan) untuk dapat sampai pada tujuan…
Langkah harus madep (mengarah atau tetap ter-tuju) pada titik
utama, yang menjadi tujuan dalam proses perjalanan…
Gerak langkah harus tetap mantap (menapak dengan kuat), meski
banyak rintangan yang mengaburkan arah tujuan…
Bersiap mbudek (menjaga pendengaran dari suara sumbang yang
merusak), karena hembusan angin kencang melahirkan suara dan
gelombang, bisa menggoyahkan dan menumbangkan langkah…
Micek (menjaga pandangan) menjadi cara untuk menghadapi
ragam tipu daya dan bayang semu, yang memenuhi dan menghiasi
sepanjang jalan…

Laku urip ing kahuripan…
Tumuju ing ndalem kerso-nipun Gusti kang akaryo jagad…

20 Juni 2010

Dwi Pranoto: HANTU, API, BUTIRAN ABU




 Data buku kumpulan puisi

Judul: Hantu, Api, Butiran Abu
Penulis: Dwi Pranoto
 Penerbit: Gress Publising, Yogyakarta.
Cetakan : I, 2011
Tebal : vi + 74 halaman (62 puisi)
ISBN : 978-602-96828-3-0
Pracetak : Siswanto, Suharmono
Cover : Dwi Pranoto

Hantu, Api, Butiran Abu, terdiri atas 3 bagian, yaitu Pemandangan di dalam Telur (21 puisi), Tamasya Musim Hujan & Nostalgia (27 puisi), dan Hantu, Api, Butiran Abu (14 puisi).

Beberapa pilihan puisi karya Dwi Pranoto dalam Hantu, Api, Butiran Abu

Dalam Keringat Petani

Dalam keringat petani ada petak-petak sawah lengkap bergalengan,
gunung-gunung di latar belakang. Langit menghampar di atasnya
tempat meletak harapan. Sedang kecemasan mengeram di mata bajak,
dihela bersama gumpal tanah basah dan tahi sapi sebagai rumah bayi-
bayi padi tumbuh.
Dalam keringat petani ada pondok kecil tempat kata menindih waktu,
atau tempat senyap menyaru angin dan kerisik dedaunan. Tak jarang
Ibu Sri
singgah di sini, mengusap tubuh yang sedang ruapkan mimpi.
Dalam keringat petani ada kali kecil gemericik, tempat kecemasan
dibasuh sebelum senja memanggil.
Dalam keringat petani ada malam yang ditambati suluk wayang atau
gending langendriyan. Di dalamnya ia gembalakan ingatan-ingatan
dari masa kakek buyut.

Dalam keringat petani ada tikus, wereng, atau walang sangit. Mereka
keringkan mimpi, runtuhkan langit dan merundung Ibu Sri. Mereka
membakar malam, merampas pusaka kakek buyut. Mereka menghisap
tandas-tandas kali. Para petani tahu, mereka bukan binatang
pengerat atau serangga, mereka adalah raksasa-raksasa lapar yang
lahir di atas meja negara.

Hajriansyah dan M. Nahdiansyah Abdi: JEJAK-JEJAK ANGIN




Data buku kumpulan puisi

Judul : Jejak-jejak Angin
Penulis : Hajriansyah dan M. Nahdiansyah Abdi
Penerbit : Olongia, Yogyakarta.
Cetakan : I, April 2007
Tebal : 144 halaman (masing-masing 45 puisi)
ISBN : 978-979-15622-3-2
Gambar sampul : Hajriansyah
Desain sampul : Heri S 
Pengantar : Faruk HT, Saut Situmorang

Beberapa pilihan puisi Hajriansyah dalam Jejak-jejak Angin

Di waktu hujan
kudengar engkau menyanyikan
kegembiraan, kesedihan
seperti jemarimu yang ringan
menjatuhkan titik air
di atap sengku yang biru

Tuhanku, jika ku mampu
dan kau mau
berikan aku titik air
yang dapat membasuh
dahaga berjuta harapan kami

Tuhanku, jika ku mampu
dan kau mau 
alirkan di sejuta harapan kami
kegembiraan yang dapat
menyenangkan berjuta
mimpi dan kesombongan
kawan kami

Tuhanku, dari setitik air
yang jatuh dari jemariMu
ke atap seng biruku
berikan kami kebaikan yang
menjadi kebanggaan anak cucu kami

7 Desember 2005

Subagio BM: CATATAN ANGIN




Data buku kumpulan puisi

Judul: Catatan Angin
Penulis: Subagio BM
 Penerbit: bukupop, Jakarta.
Cetakan : I, Januari 2005
Tebal : vi + 48 halaman (35 puisi)
ISBN : 979-99943-2-2
Perwajahan : Radite C. Baskoro
Rancangan sampul : Nanok K.
Gambar sampul : Yonas Sestakresna

Beberapa pilihan puisi Subagio BM dalam Catatan Angin

Berangkat Menuju Duka
-buat: tan lioe ie-

berangkat menuju duka, katamu.
sebait sajak ditulis di atas kertas
terbayang wajah kanak-kanak luruh
diterpa hujan di bawah pohon kenari

anak-anak jadi lukisan semesta
sendiri menatap isyarat duka cuaca
dan padi di sawah hampir menguning

seluruh pandangan luruh jadi jarak
tiap detik jam seperti kencang berlari

deru jalan kota tak lagi terbaca
sedang isyaratmu seperti suara luka
berjalan sepanjang kota menebar cahaya

dan jarak terbentang

berangkat menuju duka, katamu.
seperti denyut malam menggiring cahaya
lambat-lambat kau tangkap kenangan
sepanjang malam

Hari Leo AER: MENGGAMBAR ANGIN




Data buku kumpulan puisi


Judul : Menggambar Angin
Penulis : Hari Leo AER
Cetakan : II, 2011 (cet. I. 2010)
Penerbit : Gress Publishing, Yogyakarta.
Tebal : x + 80 halaman (70 puisi)
ISBN : 978-602-96829-4-6
Pracetak : Anes P.S, Siswanto
Desain sampul : S. Arimba, Sukandar
Pengantar : Suminto A. Sayuti

Beberapa pilihan puisi Hari Leo AER dalam Menggambar Angin

: Kenduri Minta Hujan

Swara Cipta
Rasa Urip
Allah…

Aku batu
diam di tanah kering
jiwa hening
pintu hati terbuka
angin barat angin timur
angin utara angin selatan
menyatulah dalam satu lingkaran nafas
jadilah mendung di atasku

Swara Cipta
Rasa Urip
Allah…

Aku batu
diam di tanah kering
mengetuk bumi bisu
menyapa api padam
lahir gemuruh di setiap jengkal tanah
orang orang menangis cemas
wajahnya tergambar di buku langit
airmata meleleh
jadilah mendung di atasku

Swara Cipta
Rasa Urip
Allah…

Angin bergeraklah bersama reranting dan pohon pohon
menuju satu arah di mana mendung menghitung waktu
jadilah hujan di sekitarku
Aku batu diam di tanah kering
jiwa hening mengalir dalam musim…

Yogya, 2003


: Perjalanan Diam

Berjalan jauh menuju rumah luas maha dalam
sungai dan gunung bertapa dalam diri
sembilan lubang terjaga
jiwa hening arungi semesta
aku menghadap Mu

Perjalanan diam
laparku lapar
dahagaku dahaga
lebur jadi satu
di muara kasih Mu
yang dingin dan tenang

1994

Selasa, 01 September 2015

A. Rahman Al Hakim (Araska): ROH




Data buku kumpulan puisi

Judul : ROH, kitab kecil awal, Hikayat Shahifah
Penulis : A. Rahman Al Hakim (Araska)
Cetakan : I, Desember 2007
Penerbit : Kelompok Studi Sastra, Banjarbaru
Bekerjasama dengan Komunitas Apresiasi Studi Seni Budaya Sosial & Sastra
The Partner Cooperation Line, Banjarmasin.
Editor : Arsyad Indradi
Setting/Layout/Desain : A.Rahman Al-Hakim, Harie Insani Putra
Tebal : xii + 184 halaman (31 puisi)
Prolog : Dimas Arika Mihardja, Shah Kalana Al-Haji, I Made Suantha, Imraatul Jannah
Epilog : Sutardji Calzoum Bachri

Beberapa pilihan puisi A. Rahman Al Hakim (Araska) dalam ROH

Roh yang Satu

Ayyuhhalwalad,
pandanglah yang Satu dalam yang banyak
pandanglah yang banyak dalam yang Satu

Ayyuhhalwalad,
lihatlah!
akan buih buih di lautan
di atas hamparan permadani ombak
adakah ia berbilang

Ayyuhhalwalad,
lihatlah!
akan ikan dalam kerajaan samudera nabi Khaidhir
adakah ia satu

Begitu pula akan dunia dan isinya
galaksi dan semesta Nya
sudahkah kau lihat!

Ayyuhhalwalad,
dari yang satu berbilang ma’na pengertian
dari yang berbilang kembali haqiqat pada yang Satu

Ayyuhhalwalad,
dari nur yang satu junjungan kita sayyidi penghulu
dari roh yang satu awal hub pendahulu
Nurul mushthofa mala’al akwan
Habybi Muhammad khairilmusalyn

Ayyuhhalwalad,
kembalikan semua pujian kebaikan kemuliaan
kebesaran dan keagungan kepada Nya
dan ambil semua kezhaliman kefaqyran dan
kealfaan untuk dirimu

Ayyuhhalwalad,
Mutuu qabla antamutu
jadikan dirimu seperti mayat
yang berada di tangan para pemandian jasad

Ya Syeikh:
Shadaqnaa
Kafaaka fadhlaan fil’ulaal a’laa

semuanya kembali ke pada Hhu
sungguh aku rindu padamu

(ara Ska.Bjm-Kalsel.29.01.07-00:10)

Linus Suryadi AG: KEMBANG TUNJUNG




Data buku kumpulan puisi

Judul: Kembang Tunjung
Penulis: Linus Suryadi AG
Pengantar: Faruk HT (Kembang Tunjung: Suara dari Pinggiran)
Cetakan: 1, 1988
Penerbit: NUSA INDAH, Ende
Percetakan: ARNOLDUS
NI: 891407
Tebal: 112 halaman (50 puisi)

Beberapa pilihan puisi karya Linus Suryadi AG dalam Kembang Tunjung:

KEMBANG TUNJUNG

Kembang Tunjung
Di lembah Dagi
Mengorak Agung
Di jagad sunyi

Dan bulan purnama
Di langit tinggi
Tanpa suara
Menyapa bumi

Tidakkah waktu
Mengalir tenang
Lebur di kalbu
Di larut malam?

Pikiran jalang
-- Angan-angan
Mengendap diam
Tak lagi bertualang

Purnama kembang
Tunjung Bulan
Saling pandang
Di satu alam!

Irianto Ibrahim: BUTON, IBU DAN SEKANTONG LUKA




Data buku kumpulan puisi

Judul : Buton, Ibu dan Sekantong Luka
Penulis : Irianto Ibrahim
Cetakan : I, Mei 2010
Penerbit : Framepublising, Bantul, Yogyakarta.
Tebal : 90 halaman (53 puisi)
ISBN : 978-979-16848-4-2
Penyunting : Raudal Tanjung Banua
Tata letak : Indrian Koto
Foto penyair : Arif Relano Oba
Desain cover : Nur Wahida Idris
Gambar cover : Indra Dodi, “Menanti Hujan Emas”
180 x 150 cm, acrylic on canvas, 2009
(Bakaba, Sakato Art Community, 2010)

Beberapa pilihan puisi Irianto Ibrahim dalam Buton, Ibu dan Sekantong Luka

Tentang Rumah Kecil dengan Jendela Bercat Biru

sebab rumah kecil berdinding kayu di tepi pantai itu
tak pernah benar-benar kau miliki

di sana, depan jendela bercat biru
aku selalu memandang keluasan horison
gambar masa kecilku yang terserak
tentang kesaksian palsu
kubuat dari pecahan hayalan
yang menjadikan kalian berjarak selamanya

tentang rumah kecil dengan jendela bercat biru
sudah kau abadikan dalam sebuah kartu pos
dan aku tak pernah benar-benar memilikinya
sebab butuh usia dewasa untuk memilah
: apakah ini kejujuran atau kenyataan

Kendari, 29 November 2008


Tentang Kunang-kunang

Ada kunang-kunang terbang di atas unggunan api
Di sela helai-helai azan
dan pekat warna serumpun daun.
Serimbun ide dan tawa, cerita lampau
para perantau.

Kita ada di pijar kunang-kunang itu.

Markas Pisang, 21 September 2008

Karsono H. Saputra: PURNAMA MENYENTUH STUPA




Data buku kumpulan puisi

Judul : Purnama Menyentuh Stupa
Penulis : Karsono H. Saputra
Cetakan : I, Juli 2004
Penerbit : Wedatama Widya Sastra, Jakarta.
Tebal : vi + 42 halaman (36 puisi)
ISBN : 979-3258-23-3
Rancangan sampul : Soorjo Sani Santoso

Beberapa pilihan puisi Karsono H. Saputra dalam Purnama Menyentuh Stupa

Penari

aku ingin mengajakmu menari di atas pentas
tak usah pakai bedak, tak usah pakai gincu
bahkan busana pun apa adanya
keindahan tari kita bukan semata karena bedak dan
gincu, apalagi tata pentas, tetapi bagaimana kita
mengikuti irama, mengisi panggung, dan melakukan
gerak secara benar berdasar aturan.

sesekali kita harus melompat tinggi-tinggi, kadang-
kadang bergerak mendatar, atau bergulingan. sesekali
kita harus berpencar karena tuntutan pola lantai, bahkan
sesekali harus menyapa penari lain. yang pasti pentas
ini milik kita, berdua, karena kita pemeran utama.

dan, kau penari luar biasa, bukan semata setia mengikuti
tata tari, namun imajinasi dan improvisasimu mengisi
ruang-ruang kosong dan memperkaya matra. maka, aku
tak mau penari pengganti.


Yang Tak Wadag

suara itu menghentikan langkahku agar berpaling ke langit
bukan sekedar jeda
juga untuk berhitung
sebab hidup bukan hanya darah dan daging, tetapi juga roh
sebab hidup bukan hanya perhitungan, tetapi juga pengendapan
sebab hidup bukan hanya kemauan, tetapi juga kesadaran

suara itu mengingatkan kebesaran hu sang alfa-omega,
yang tiada awal tiada akhir, yang nyata meski tak wadag,
yang maha
suara itu menuntunku untuk tafakur